Geliat Aktivis, Aktivitas, dan Dukungan Universitas

“Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 12 ayat (1) poin (b), menyatakan bahwa setiap peserta didik pada satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Untuk itu, mahasiswa yang merupakan peserta didik sebagai generasi penerus perjuangan bangsa perlu dibekali dengan kemampuan yang memadai agar aset bangsa yang sangat potensial tersebut mampu bersaing dalam era global. Para mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai bidang ilmu yang ditekuni di kampus, tetapi juga mengusai bidang lain yang dapat menunjang keberhasilan mereka di masa depan.”

The Agent of Change menjadi semangat pemuda bangsa yang sedang menuntun ilmu untuk membawa angin perubahan. Tentunya, dibutuhkan pribadi yang aktif dan kreatif untuk terus berusaha berkarya. Namun, hal ini juga tidak dapat dilepaskan dari peran serta lembaga untuk memberikan dukungan dalam banyak hal. Terutama dukungan dari universitas yang sangat mempengaruhi untuk mendorong lebih giat berkegiatan.

SAPS Sebagai Syarat Wisuda

Unand sebagai sebuah institusi memberikan beberapa kebijakan untuk mendongkrak mahasiswa untuk aktif. Beberapa kegiatan jelas yang harus dilakukan setiap mahasiswa misalnya, dengan poin Student Activities Performance System (SAPS). SAPS merupakan penilaian aktivitas mahasiswa dalam kegiatan ekstra kurikuler selama menjalani studi di Universitas Andalas. SAPS dilaksanakan dalam sistem angka kredit yang memuat setiap butir kegiatan atau akumulasi yang ditetapkan berdasarkan penilaian atas prestasi dan keaktifan yang telah dicapai seorang mahasiswa. Ketentuan ini terdapat dalam Peraturan Rektor Unand Nomor 7 tahun 2009. Penilaian SAPS dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar yaitu penalaran, minat dan bakat, dan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa diwajibkan memenuhi jumlah angka kredit sekurang-kurangnya 50 sebelum memenuhi ujian akhir kesarjanaan.

SAPS bertujuan untuk mendorong mahasiswa untuk lebih aktif pada kegiatan ekstra kurikuler. “SAPS ini pada akirnya akan dapat meningkatkan soft skill dan intelektual seorang mahasiswa sehinggga menghasilkan alumni dengan tingkat kemandirian, intelektual, spiritual, dan emosi yang baik,” ujar Prof.Dr.H. Novesar Jamarun, MS selaku Wakil Rektor III.

PKM Pendongkrak Aktivitas Mahasiswa

Selain SAPS, Unand juga membuka kesempatan mahasiswa untuk bersaing dengan mahasiswa seluruh Indonesia di Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM). PKM merupakan kegiatan mahasiswa yang akan dilombakan di Pimnas (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) pada bulan Juli mendatang. Pimnas diikuti oleh Tim PKM yang terdiri dari PKM-Kewirausahaan, PKM-Pengabdian Masyarakat, PKM-Penelitian, PKM-Teknologi, PKM-Gagasan Tertulis. Tim ini merupakan tim yang lolos seleksi dari Program PKM yang didanai Pendidikan Tinggi (Dikti). Kegiatan yang dilombakan dalam PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) yaitu presentasi ilmiah, gelar produk dan poster.

WR III menjelaskan pada tahun 2012, proposal yang masuk 231 dan lulus sebanyak 49. Sedangkan tahun ini, proposal yang masuk sebanyak dua kali lipat yaitu 432 dan yang lulus 84. Unand menjadi universitas yang banyak diterima proposal PKM dibandingkan dengan universitas lain. Universitas Syiah Kuala sebanyak 25, Universitas Sumatera Utara sebanyak 41, Universitas Negeri Medan sebanyak 8, Universitas Riau sebanyak 22, Universitas Negeri Padang sebanyak 34, Universitas Jambi sebanyak 22, Universitas Sriwijaya sebanyak 27, Universitas Bengkulu sebanyak 19, Universitas Lampung sebanyak 22, Universitas Hasanuddin sebanyak 35 dan Universitas Udayana sebanyak 84.

Kompetisi ditahun ini selain PKM diantaranya MTQ MN, dan Pomnas (Pekan Olahraga Nasional) pada tingkat nasional. Sedangkan tingkat Internasional seperti Universiade, Olimpiade, dan Mawapres (mahasiswa berprestasi). Selain itu, mahasiswa Unand juga lulus pada seleksi pertama Kontes Robot Indonesia pada 28 Januari lalu dengan kategori beroda nama Mujahiddin dan kategori berkaki nama Buniang. Semua kompetisi ini terbagi dalam bidang minat, bakat, dan akademik baik ditingkat nasional dan internasional.

Bintang Aktivis Kampus

Pada setiap seremonial wisuda, akan ada aktivis kampus yang mendapat gelar bintang aktivis kampus. Bintang aktivis kampus dipilih berdasarkan poin yang dikumpulkan selama berkegiatan. Mahasiswa yang terpilih biasanya berasal dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Setiap UKM akan mendapat surat yang berisi nama utusan UKM yang diajukan sebagai bintang aktivis kampus. Mahasiswa yang mengajukan membuat poin SAPS dan kemudian dilakukukan verifikasi data. Sepuluh orang aktivis kampus akan diberikan penghargaan dan mendapat tempat khusus pada seremonial wisuda.

Pemilihan bintang aktivis kampus bertujuan untuk mendorong mahasiswa untuk aktif terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler. Hal ini untuk membentuk softskill yang tidak didapat di bangku perkuliahan agar menciptakan jiwa yang mampu bersosialisasi, beradaptasi pada lingkungan dan mampu berkerja di lapangan.

Bantuan Dana Kegiatan Mahasiswa

Aktivitas mahasiswa tidak dapat dilepaskan dari Hima dan UKM. UKM memiliki agenda tahunan yang membutuhkan persiapan tidak terkecuali pendanaan. Pendanaan kegiatan mahasiswa diberikan pihak kampus dalam bentuk dana operasional setiap tahunnya. Selain itu, untuk kegiatan acara, panitia mengajukan proposal dana ke pihak kampus.

Salah satunya UKM Fakultas yaitu Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM). BSTM merupakan UKM fakultas atau organisasi mahasiswa yang bergerak dibidang seni Minangkabau. Setiap tahunnya, BSTM mengadakan festival kebudayaan dan Latihan Alam Dasar (LAD). BSTM menggalang dana secara mandiri dan mengajukan proposal kegitan kepada bidang kemahasiswaan. Proposal dimasukkan ke berbagai lembaga, baik di luar atau di dalam Unand. “Dari Unand walaupun prosesnya lama tetapi kadang ada hasilnya walaupun itu tidak diberi sebanyak yang diminta.” ungkap Nofan, anggota aktif BSTM.

Untuk Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HMIK), Lustrum Komunikasi I dengan tema Commfiesta menjadi agenda besar tahun ini. Commfiesta berlangsung selama dua bulan yaitu Februari dan Maret yang telah dimulai pada awal Februari lalu dengan agenda 55 kegiatan. HMIK berusaha mendapat dana dari berbagai kalangan, dengan mengadakan kerja sama dengan sponsor-sponsor luar.

Agenda UKM Pandekar diantaranya LKMM, Latihan Gabungan, dan Pekan Bela Diri. Mengenai masalah dana untuk acara tersebut didapatkan dari insert peserta, iuran anggota dan juga dari hasil proposal yang dibuat. “Selain mengajukan proposal ke pihak kampus, kami mencoba memasukkan proposal di toko olahraga, toko perlengkapan bela diri dll.” ungkap Yudi yang membawahi bidang latihan Pandekabya.

Lain lagi dengan UKM Pramuka yang memiliki agenda kegiatan Festival Swarnadwipa tahunan. Kegiatan tambahan lain meliputi pelatihan baris berbaris (PBB), tali temali, hiking, camping, pelatihan menembak  dan renang bersama serta pelatihan desain grafis. Pendanaan kegiatan UKM Pramuka diperoleh dengan cara pengajuan proposal dana ke pihak kampus. “Alternatif dana lain sesuai konsep kemadirian dan jiwa kreatif yang selalu ditanamkan pada tiap anggota pramuka dengan link pendanaan acara tidak hanya difokuskan dalam bentuk kerjasama dana saja, melainkan bisa juga dalam bentuk kerjasama lain asalkan masih menguntungkan kedua belah pihak,” ujar Sonya Ketua keputrian UKM Pramuka sekaligus mahasiswi fakultas Hukum 2009 ini.

Sedangkan UKM Sinematografi memiliki kegiatan rutin diantaranya hunting foto, belajar membuat film pendek atau film dokumenter. Menurut staf divisi pengembangan sumber daya organisasi Andre Yorico Putra, Unand tidak terlalu banyak memberikan perhatian. “Jarang sekali acara kami didanai, kebanyakan kami dapat sponsor dari pihak luar. Dari unand hanya dana operasional yang diberikan sekali setahun,” jelasnya. Andre berharap agar Unand menjadikan UKM sebagai sarana inti didalam pergerakan Unand ke depan tanpa harus mencari SDM dari luar.

Untuk UKM UKS juga memiliki banyak kegiatan diantaranya Lomba Vokal (Solo Song Compatition), lomba tari yang bertema Korean and Fashion Dance, Pesta Masio (Festival Teater Mahasiswa) yang merupakan festival yang berskala nasional, lomba Akustik, MHS (Malam Sejuta Harapan), dan Ultah UKS selama 3 hari dengan menampilkan perede, pestifal, berbagai pertunjukan seperti seni rupa.

Dari berbagai acara yang diselenggarakan oleh UKM UKS, masalah pendanaan masih mennjadi tanggungan sendiri. Menurut Asep sebagai Sekjen UKS, dana untuk setiap kegiatan 70% dicari sendiri melalui berbagai sponsor dan 30% berasal dari bantuan universitas atau kas UKS sendiri. “Bantuan dari kampus memang ada, tapi itu tidak bisa di harapkan bahkan sering kali dana bisa keluar ketika acara sudah selesai. Seperti ketika UKS mengikuti Pesta MASIO (Pestival teater mahasiswa) di Jakarta baru-baru ini, untuk pulang ke Padang setelah acara tersebut, peserta dari UKS tidak mempuyai dana lagi karena dana dari WR II belum cair, sehingga anggota lain berusaha mencari dana untuk ongkos pulang,” tambahnya.

Lain lagi dengan UKM Panalaran, yang memiliki agenda kegiatan pengabdian kemasyarakat seperti kesekolah-sekolah, pelatihan jurnalistik didalam rangkaian kegiatan BBMK, mengikuti Kongres Nasional LP2MI (Lembaga Penalaran Mahasiswa Tingkat Nasional), dan penalaran mengajar. Sedangkan sumber dana berasal dari pihak rektorat dan bidang perusahaan.

Sedangkan untuk peserta PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional), bantuan dana mahasiswa dibantu pihak kampus. Suji salah seorang finalis PIMNAS mengatakan tidak ada bantuan dana dari pihak Fakultas, namun ada dari Universitas melalui DIKTI. “Sebenarnya DIKTI yang mengeluarkan tapi sebelumnya ditanggulangi Universitas, jumlahnyo lai lah,” ujarnya.

Menanggapi pendanaan, WR III berpendapat berbagai upaya dilakukan oleh pihak Unand untuk mendukung kegiatan mahasiswa. Unand memberikan fasilitas kepada masing-masing unit kegiatan mahasiswa seperti, dana operasional yang diberikan setiap tahunnya, bantuan perlengkapan yang mendukung UKM itu sendiri seperti komputer, CPU, dan alat-alat yang lainnya, fasilitas peminjaman gedung yang disediakan secara free, hingga peminjaman pakaian tari. “Mirisnya hampir semua bantuan tersebut seolah tidak mendapat tempat lagi dihati pemilik UKM yang ada di Unand, karena anggapan dukungan serta batuan untuk menyukseskan kegitan yang dilakukan oleh masing-masing unit kegiatan mahasiswa tidak dipenuhi seratus persen oleh Unand,” jelasnya.

Bantuan yang diberikan bukan hanya dalam konteks materi saja melainkan segala fasilitas yang disediakan seperti penyewaan gedung yang free, dan banyak lagi hal lainnya yang disediakan oleh kampus guna mendukung geliat aktivitas mahasiswa di kampus. “Tidak semua kegiatan bisa dibantu dan dikeluakan dananya” terang WR III. Hal tersebut melihat bagaimana bentuk kegiatan dan acara yang diadakan oleh masing-masing UKM, dan juga melihat skop atau besarnya acara yang angkatkan. “Namun, sebisa mungkin proposal yang sudah masuk ke bidang kemahasiswaan diupayakan untuk mendapatkan bantuan,” tambahnya.

Penghargaan Kampus Pada Prestasi

Menanggapi tentang dukungan Universitas, Sujia Nospiatdi finalis PIMNAS tahun lalu mengakui kurangnya pelatihan dari Unand dibandingkan dengan universitas lain. Menurutnya finalis hanya dipersiapkan seminggu sebelum PIMNAS sedangkan universitas lain dipersiapkan dengan cukup matang. ”Pelatihan hanya sekali, sedangkan universitas lain misalnya ITS, sejak lulus proposal pesertanya sudah dikarantina, lolos atau tidak lolos PIMNAS.” ungkap Suji

Ada bimbingan dan dukungan dari dosen yang membimbing dari awal lulus proposal sampai ke ruang persentasi saat final “Sayangnya, Wakil Dekan yang diundang menghadiri PIMNAS berhalangan hadir, Universitas lain Dekannya hadir saat persentasi.” tambahnya.

Pada kasus UKM, banyak lomba yang dimenangkan UKM dan membawa kebanggaan untuk kampus hijau. Sederetan prestasi yang sudah pernah di gandrungi UKM Pandekar misalnya pada Porpov di Payakumbuh cabang takwondo, tarung drajat, karate, wushu. Pada kesempatan itu mereka berhasil meraih emas, perak dan perunggu. Selain itu juga ada PSTD Pencak Silat yang diadakan Kejurnas Jabar, Kejurnas Bukittinggi, dan lainnya. “Bentuk penghargaan Unand pada acara maupaun prestasi yang diperoleh, sejauh ini belum ada.” ungkap Yudi.

Menurut UKM Pramuka, secara garis besar pihak kampus telah menunjukkan dukungannya terhadap kegiatan kemahasiswaan. “Hal ini dibuktikan dengan kehadiran para petinggi kampus pada berbagai acara yang diangkatkan oleh UKM Pramuka. Misalnya dalam Festivel Swarnadwipa Tahunan pramuka, bukan hanya WR III tapi Rektor turut membuka acara dan meninjau bumi perkemahan,” kata Sonya. Sejalan dengan hal tersebut, pihak kampus juga mengapresiasikan kebanggaannya atas prestasi-prestasi yang telah ditorehkan oleh para anggota UKM Pramuka melalui janji pemberian lahan bumi perkemahan khusus bagi UKM Pramuka di sekitar wilayah kampus. “Para anggota pramuka dipersilahkan mencari lahan mana yang mereka inginkan untuk menjadi lahan perkemahannya kelak.” lanjutnya.

Sedangkan menurut UKM UKS, prestasi belum sepenuhnya diapresiasi. Diantara sederetan prestasi UKS yang diraih seperti pada PEKSIMAS (Pekan Seni Apresiasi Mahasiswa Nasional) UKS meraih Juara 1 pada tahun 2010, harapan 2, harapan 1 dan juara 2, kegiatan Internasional Asean Choir Game Galden Medal di Jakarta pada tahun 2007, festival Nasid menjadi juara 1 tahun 2012, juara 3 tahun 2011 dan juara 2 tahun 2010, AW ( Accounting Week) mendapatkan juara 2, pada Soundversity menjadi juara 1 ditahun 2011 dan juara 1 dan 2 ditahun 2012, dance competition di STKIP mendapat juara 2, dan dance competiton di AISEC juara favorit 1 dan juara 1 tahun 2008 belum cukup menarik perhatian pihak kampus. Penghargaan dari universitas sangat minim bahkan belum ada. “UKS mengadakan acara sendiri, dan jika menang, menang sendiri tanpa ada penghargaan dari pihak kampus, bahkan pihak kampus dinilai hanya numpang tenar jika UKS menang di tingkat nasional. Pihak kampus memang tidak mempersulit dalam menyelenggarakan setiap kegiatan, cuma terlalu acuh terhadap kegiatan mahasiswanya.” ujar Asep. “Jadilah kampus yang baik, kita tidak meminta hak kita, tapi lakukanlah apa yang menjadi kewajiban kampus” tambahnya.

Sedangkan Roby Ketua UKM Penalaran berpendapat, “Tergantung apakah kita sudah melaporkan atas prestasi yang diraih, atau dari pihak Unand yang memanggil langsung, sejauh ini belum ada penghargaan dari pihak rektorat. Kalau ada bidang khusus didekanat atau rektorat yang mengurusi perihal penghargaan atas prestasi mahasiswa ini akan sangat bagus,” usulnya.

Sederetan prestasi yang didapatkan mahasiswa Unand tentunya memberi nilai positif terhadap nama universitas dimata masyarakat. Namun, belum adanya komunikasi yang baik diantara kedua pihak baik mahasiswa maupun pihak kampus. Jika sinergis kedua belah pihak dapat tercapai, tentu aka nada prestasi-prestasi membanggakan lain yang akan membawa nama kampus.>tim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>