• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Rabu, 29 April 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Indonesia Jadi Negara Fatherless, Kurangnya Peran Ayah Jadi Penyebab

oleh Redaksi
28 Juni 2023, 19:23 WIB
(Ilustrator/Fadhilatul Husni)

(Ilustrator/Fadhilatul Husni)

ShareShareShareShare
(Ilustrator/Fadhilatul Husni)

Oleh: Lara Elisa Putri*

Indonesia saat ini menjadi salah satu negara fatherless di dunia karena hilangnya peran ayah dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Dilansir dari kompas.com, Indonesia bahkan menempati posisi ketiga dalam minimnya peran ayah dalam kehidupan anak. Tentu saja hal ini amat disayangkan sebab peran penting ayah dalam tumbuh kembang anak sangatlah pentik. Anak yang kurang kasih sayang dari seorang ayah, akan membuat anak merasa kurang dekat dengan ayahnya sehingga lebih memilih untuk mendekati orang lain.

Kurang nya sosok seorang ayah ini sebenarnya sudah sangat lama menjadi sorotan bagi para psikolog, sudah pernah di singgung sebelum nya oleh beberapa psikolog melalui beberapa media sosial, namun hal ini tidak tersampaikan kepada orang tua, hanya sampai ke anak anak yang kurang peran seeorang ayah, bagi seorang anak untuk menyampaikan hal tersebut sangat lah berat, anatara anak tersebut takut di hujat di bilang alay oleh orang tua mereka.

Sorotan mengenai masalah minimnya peran ayah sebenarnya sudah dilakukan sejak lama, namun meski sudah digembor-gemborkan masih saja belum berdampak besar. Tak jarang juga anak menuntut haknya kepada ayahnya namun mendapat perkataan seperti “memang kamu tidak mendapat kasih sayang? Terlalu berlebihan,” dari ayahnya sendiri.

Baca Juga  Carut Marut Penundaan Pemilu: Modus Pelanggaran Konstitusi Gaya Baru

Besarnya angka perceraian di Indonesia tentu juga menjadi faktor dari fenomena fatherless ini. Kasus perceraian yang meningkat di Indonesia membuat banyak anak trauma akan perpisahan dan ayah yang memilih berpisah dengan anaknya akan abai terhadap kewajibannya dalam menafkahi. Bahkan, banyak ayah yang telah bercerai dengan ibu sang anak akan menolak untuk menemui anaknya kembali. Hal ini akan berdampak pada perasaan si anak yang akan merasa kurang kasih sayang dan rasa kehilangan sosok ayah selanjutnya akan membuatnya jadi tidak stabil. Kurangnya apresiasi dari ayahnya akan membuat anak lebih sering merasa kecil dan tidak percaya diri.

Selain perceraian, faktor fatherless lainnya adalah masih banyaknya ayah yang tinggal jauh dari keluarganya di Indonesia. Anak yang hanya diasuh oleh seorang ibu tentu akan bertanya-tanya akan kehadiran sosok ayah dalam hidupnya. Apalagi jika melihat temannya yang sering bertemu dengan ayahnya, perasaan si anak akan tergerus. Ayah tentunya memiliki porsi tersendiri dalam tumbuh kembang anak yang tidak digantikan sosok ibu. Penyebab fenomena fatherless ini terjadi, tentu dikarenakan kurangnya rasa tanggung jawab dan sadar diri dari seorang ayah akan tanggung jawabnya dalam mendidik anak.

Baca Juga  TikTok Brain: Fenomena Baru di Era Media Sosial dan Dampaknya pada Pikiran

Ayah memiliki tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak. Sebagai ayah yang baik, seharusnya bisa memikirkan keadaan anak dengan berbagai macam keputusannya. Seorang ayah tidak boleh egois dalam mengambil tindakan bercerai dan harus menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap anak. Didikan ayah yang baik akan membuat tumbuh kembang anak menjadi lebih baik dan berpotensi memiliki masa depan yang lebih baik. Bagaimanapun, anak tetaplah menjadi tanggung jawab ayah dan ibu. Memperbaiki komunikasi dengan anak akan membuat anak merasa lebih disayang. Selain itu, ayah yang menjaga hubungan dengan ibu akan membuat keluarga terasa lebih harmonis.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

 

Tag: Indonesiamental health
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Ketika Umur Dijadikan Alarm Pernikahan Bagi Perempuan

14 Maret 2026, 13:03 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadillah)

Krisis Kepercayaan Publik terhadap Politik Indonesia

9 Maret 2026, 21:01 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Langkah Negara Menjaga Anak di Era Media Sosial

8 Maret 2026, 00:03 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Prabowo Menandatangani Perjanjian dengan AS, Untung atau Rugi bagi Bangsa

25 Februari 2026, 22:23 WIB
(Ilustrasi/Nia Rahmayuni)

67 Persen Jurnalis Alami Kekerasan, Swasensor Jadi Alarm Kebebasan Pers

25 Februari 2026, 21:55 WIB
(Ilustrasi/Nasywa Luthfiyyah Edfa)

Lahir Tapi Tidak Tercatat

24 Februari 2026, 22:41 WIB

Populer

  • Kondisi kamar kos penemuan jenazah mahasiswa PNP di Jalan Jawa Gadut, Kecamatan Pauh, Padang pada Sabtu (11/4/2026) (Nasywa Luthfiyyah Edfa)

    Tak Ada Pertanda, Mahasiswa Ditemukan Tewas di Kamar Kos

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Atap Bagonjong pada Rumah Gadang sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau

    1 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Buntut Postingan Presiden Pakak, Andre Rosiade Hadiri Forum Diskusi BEM KM UNAND

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • 10.391 Peserta Laksanakan UTBK 2025 di Universitas Andalas

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • 128 Kampus Putuskan Walk Out, Munas BEM SI XIV Tetap Lanjut

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Transisi Energi Sumbar Disorot, Regulasi dan Keadilan Manfaat Dipertanyakan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Forum Evaluasi BEM KM UNAND Memanas, Mahasiswa Desak Transparansi dan Inklusivitas

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Sumbang Duo Baleh, Kode Etik dalam Kebudayaan Minangkabau

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak