• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Rabu, 29 April 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Mendaki Gunung: Antara Eksistensi dan Keselamatan

oleh Redaksi
18 Agustus 2025, 11:56 WIB
(Ilustrasi/Nabiela Ramadhani)

(Ilustrasi/Nabiela Ramadhani)

ShareShareShareShare
(Ilustrasi/Nabiela Ramadhani)

Oleh: Nabiela Ramadhani*

Bermain di alam merupakan salah satu aktivitas yang sedang digemari oleh masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Banyak orang yang menikmati waktu dengan menjelajah alam atau sekadar berhenti sebentar di tepi jalanan yang menawarkan pemandangan indah dan menyejukkan mata. Aktivitas ini diminati oleh berbagai lapisan masyarakat. Namun, bagi sebagian orang, pengalaman tersebut dirasa belum cukup menantang, sehingga mereka memilih cara yang lebih intens untuk mendekatkan diri dengan alam, salah satunya dengan mendaki gunung.

Dikutip dari Wikipedia, mendaki gunung atau yang dikenal sebagai alpinisme adalah bentuk aktivitas luar ruangan yang mencakup pendakian gunung, serta aktivitas terkait seperti mendaki tebing, ski, dan lintas via ferrata, yang kini telah berkembang menjadi olahraga tersendiri. Secara umum, istilah ini merujuk pada serangkaian kegiatan pendakian yang dilakukan oleh individu atau kelompok, biasanya dengan tujuan mencapai titik tertentu sambil melewati berbagai tantangan kondisi alam di sepanjang jalur pendakian.

Kini mendaki gunung telah direduksi menjadi sekadar pencarian konten, bukan lagi sebuah petualangan yang menghargai alam, tubuh, dan nyawa. Apresiasi harus tetap diberikan kepada orang-orang orang yang mulai peduli pada alam terbuka. Akan tetapi, apa yang terjadi sekarang justru mengkhawatirkan, banyak pendaki yang datang tanpa bekal pengetahuan, tanpa persiapan fisik, bahkan tanpa niat untuk belajar. Mereka datang hanya untuk berfoto, untuk mengunggah cerita di media sosial, dan untuk bisa berkata, “Saya sudah ke sana”. Padahal, gunung bukanlah destinasi wisata yang bisa ditaklukkan dengan niat main-main.

Baca Juga  Rawan Gempa, Kelurahan Parupuk Tabing Dijadikan Tempat Simulasi Mitigasi Bencana

Berdasarkan data dari situs Jelajah Lagi, sejak 1 Januari 2013 hingga Mei 2024, tercatat 155 pendaki meninggal dunia saat melakukan pendakian di berbagai gunung di Indonesia, dengan berbagai faktor penyebab. Indonesia memang dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa. Dengan 127 gunung berapi aktif, 13% dari total gunung berapi aktif dunia, kita punya begitu banyak jalur pendakian yang menantang dan indah. Tapi keindahan itu bukan undangan untuk arogansi. Gunung adalah entitas yang hidup, ganas, dan tidak bisa dikendalikan. Ia tidak akan mengampuni kesombongan.

Tidak adanya medan bersalju yang ekstrem, kecuali Puncak Jaya Wijaya, seperti di negara empat musim membuat banyak orang menganggap bahwa pendakian di Indonesia lebih mudah dan cenderung aman. Padahal, anggapan seperti ini justru merupakan jebakan yang berbahaya. Faktanya, meskipun tanpa salju, medan di banyak gunung di Indonesia tetap menantang, jalur yang licin akibat hujan, vegetasi hutan yang lebat, suhu yang dapat turun drastis di malam hari, serta cuaca yang berubah-ubah secara tiba-tiba. Kondisi ini seharusnya menjadi peringatan, bukan alasan untuk lengah.

Dulu gunung hanya didaki oleh segelintir orang yang memiliki bekal kuat dalam menaklukan alam terbuka. Di ketinggian, akses terhadap air dan makanan terbatas, cuaca bisa berubah cepat, dan medan yang terjal dapat menguras tenaga serta mengancam jiwa. Bencana alam seperti longsor atau hujan deras juga dapat terjadi, yang memerlukan kesiapan fisik, mental, dan perlengkapan yang memadai. Tanpa persiapan yang baik, risiko seperti hipotermia, terpeleset, atau jatuh bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran akan persiapan dan pemahaman tentang alam demi keselamatan bersama.

Baca Juga  TikTok Brain: Fenomena Baru di Era Media Sosial dan Dampaknya pada Pikiran

Pemerintah berupaya meminimalkan kecelakaan pendakian melalui berbagai cara, termasuk penetapan SNI 8748:2019 oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang bertujuan menciptakan sistem pendakian yang aman, bertanggung jawab, dan ramah lingkungan, serta mendukung pencapaian zero accident dan zero waste. Selain itu, pemerintah juga meningkatkan kesadaran keselamatan melalui pendekatan edukatif dan medis, seperti yang dilakukan oleh Kemenparekraf dengan menghadirkan Indonesia Wilderness Medicine Society dalam acara Indonesia Mountain Medicine Summit (IMMS) 2024, untuk memperkuat pemahaman pendaki tentang penanganan medis di alam liar dan pentingnya persiapan fisik serta mental sebelum mendaki.

Namun, upaya pemerintah saja tidak cukup untuk mengurangi kecelakaan. Kesadaran individu dan kelompok juga sangat penting. Individu yang memiliki pengetahuan dasar, kesiapan mental, fisik, dan logistik, serta tim pendakian yang kompak dan tidak egois, merupakan kombinasi ideal untuk melakukan pendakian yang aman dan menyenangkan. Jangan hanya mengejar foto bagus dengan outfit kece dan plakat, tetapi yang lebih utama adalah bagaimana selama perjalanan Anda bisa aman dan ciptakan banyak kenangan indah yang takkan bisa dilupakan. Puncak itu bonus, pulang selamat itu harus!

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas

Tag: alamGununghobikeselamatanpendaki
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Ketika Umur Dijadikan Alarm Pernikahan Bagi Perempuan

14 Maret 2026, 13:03 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadillah)

Krisis Kepercayaan Publik terhadap Politik Indonesia

9 Maret 2026, 21:01 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Langkah Negara Menjaga Anak di Era Media Sosial

8 Maret 2026, 00:03 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Prabowo Menandatangani Perjanjian dengan AS, Untung atau Rugi bagi Bangsa

25 Februari 2026, 22:23 WIB
(Ilustrasi/Nia Rahmayuni)

67 Persen Jurnalis Alami Kekerasan, Swasensor Jadi Alarm Kebebasan Pers

25 Februari 2026, 21:55 WIB
(Ilustrasi/Nasywa Luthfiyyah Edfa)

Lahir Tapi Tidak Tercatat

24 Februari 2026, 22:41 WIB

Populer

  • Kondisi kamar kos penemuan jenazah mahasiswa PNP di Jalan Jawa Gadut, Kecamatan Pauh, Padang pada Sabtu (11/4/2026) (Nasywa Luthfiyyah Edfa)

    Tak Ada Pertanda, Mahasiswa Ditemukan Tewas di Kamar Kos

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Atap Bagonjong pada Rumah Gadang sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau

    1 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Buntut Postingan Presiden Pakak, Andre Rosiade Hadiri Forum Diskusi BEM KM UNAND

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • 10.391 Peserta Laksanakan UTBK 2025 di Universitas Andalas

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • 128 Kampus Putuskan Walk Out, Munas BEM SI XIV Tetap Lanjut

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Transisi Energi Sumbar Disorot, Regulasi dan Keadilan Manfaat Dipertanyakan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Forum Evaluasi BEM KM UNAND Memanas, Mahasiswa Desak Transparansi dan Inklusivitas

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Sumbang Duo Baleh, Kode Etik dalam Kebudayaan Minangkabau

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak