• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Rabu, 29 April 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Solidaritas Perempuan, Jangan Hanya di Media Sosial

oleh Redaksi
5 September 2025, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Alizah Fitri Sudira)

(Ilustrasi/Alizah Fitri Sudira)

ShareShareShareShare

Oleh: Alizah Fitri Sudira*

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah woman support woman kian sering muncul di media sosial. Frasa ini dimaknai sebagai dukungan perempuan terhadap sesamanya, khususnya dalam memperjuangkan kesetaraan gender maupun saat menjadi korban kekerasan. Konsep tersebut terdengar ideal: perempuan saling menguatkan agar merasa aman dan nyaman di lingkungannya. Namun, pertanyaannya, apakah nilai woman support woman benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari, atau hanya berhenti sebagai jargon?

Faktanya, dalam banyak kasus, perempuan justru lebih sering menghakimi dari pada mendukung sesamanya. Solidaritas biasanya muncul hanya dalam lingkaran pertemanan, sementara dalam kasus pelecehan seksual, justru kerap terdengar komentar seksis dari sesama perempuan. Ucapan bernada menyalahkan korban seperti “kenapa kamu mau?”, “makanya perempuan harus jaga diri,” atau pernyataan merendahkan lainnya, hanya memperkuat stigma negatif yang sudah lama menjerat perempuan.

Tidak hanya dalam kasus kekerasan seksual, fenomena serupa juga terlihat ketika pasangan suami istri belum dikaruniai anak. Tekanan sosial hampir selalu diarahkan kepada istri, seakan-akan masalah kesuburan adalah tanggung jawab sepenuhnya. Padahal, secara medis, penyebabnya bisa berasal dari pihak laki-laki maupun keduanya. Sayangnya, perempuan sering ikut menyalahkan perempuan lain, alih-alih memberikan dukungan.

Baca Juga  Tuntut Kejelasan Gaji, CS Unand Adakan Aksi di Depan Rektorat

Fenomena ini menunjukkan adanya internalized misogyny. Dilansir dari kumparan.com, internalized misogyny adalah ketika perempuan mengadopsi pandangan seksis dan mereproduksinya terhadap diri sendiri maupun perempuan lain. Dengan kata lain, perempuan bukan hanya korban patriarki, tetapi juga tanpa sadar ikut menjadi pelaku yang melanggengkannya. Akibatnya, lingkungan sosial menjadi tidak sehat, bahkan beracun bagi perempuan yang berusaha melawan diskriminasi.

Agar woman support woman tidak berhenti menjadi jargon, diperlukan upaya nyata untuk membangun solidaritas antar perempuan. Pertama, menghentikan praktik saling merendahkan dan menggantinya dengan sikap saling menguatkan. Kedua, pendidikan gender sejak dini agar perempuan mampu mengenali dan melawan nilai-nilai patriarki yang telah terinternalisasi. Ketiga, memperluas ruang aman di lingkungan sosial, komunitas, maupun dunia kerja, sehingga perempuan merasa didukung ketika menghadapi diskriminasi atau kekerasan.

Baca Juga  Angka Pernikahan di Indonesia Menurun: Dampaknya pada Masyarakat Indonesia di Masa Depan

Tanda-tanda positif sebenarnya sudah terlihat. Komunitas advokasi korban kekerasan seksual, kampanye edukasi di media sosial, hingga forum diskusi perempuan mulai tumbuh dan memberi ruang bagi praktik solidaritas. Dari langkah sederhana seperti saling percaya, memberikan dukungan emosional, hingga terlibat dalam gerakan memperjuangkan hak-hak perempuan, semua itu membuktikan bahwa solidaritas bukanlah hal mustahil.

Woman support woman tidak boleh berhenti sebagai slogan indah di media sosial. Ia harus menjadi budaya yang hidup, sebuah kebiasaan kolektif yang menumbuhkan keberanian perempuan untuk saling menopang. Dengan persatuan semacam ini, belenggu patriarki bisa dilemahkan, dan jalan menuju kesetaraan semakin terbuka lebar.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Tag: MahasiswaperempuanUnand
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Ketika Umur Dijadikan Alarm Pernikahan Bagi Perempuan

14 Maret 2026, 13:03 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadillah)

Krisis Kepercayaan Publik terhadap Politik Indonesia

9 Maret 2026, 21:01 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Langkah Negara Menjaga Anak di Era Media Sosial

8 Maret 2026, 00:03 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Prabowo Menandatangani Perjanjian dengan AS, Untung atau Rugi bagi Bangsa

25 Februari 2026, 22:23 WIB
(Ilustrasi/Nia Rahmayuni)

67 Persen Jurnalis Alami Kekerasan, Swasensor Jadi Alarm Kebebasan Pers

25 Februari 2026, 21:55 WIB
(Ilustrasi/Nasywa Luthfiyyah Edfa)

Lahir Tapi Tidak Tercatat

24 Februari 2026, 22:41 WIB

Populer

  • Kondisi kamar kos penemuan jenazah mahasiswa PNP di Jalan Jawa Gadut, Kecamatan Pauh, Padang pada Sabtu (11/4/2026) (Nasywa Luthfiyyah Edfa)

    Tak Ada Pertanda, Mahasiswa Ditemukan Tewas di Kamar Kos

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Atap Bagonjong pada Rumah Gadang sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau

    1 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Buntut Postingan Presiden Pakak, Andre Rosiade Hadiri Forum Diskusi BEM KM UNAND

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • 10.391 Peserta Laksanakan UTBK 2025 di Universitas Andalas

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • 128 Kampus Putuskan Walk Out, Munas BEM SI XIV Tetap Lanjut

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Transisi Energi Sumbar Disorot, Regulasi dan Keadilan Manfaat Dipertanyakan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Forum Evaluasi BEM KM UNAND Memanas, Mahasiswa Desak Transparansi dan Inklusivitas

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Sumbang Duo Baleh, Kode Etik dalam Kebudayaan Minangkabau

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak