Padang, gentaandalas.com– Beasiswa Fair (BF) yang diselenggarakan oleh Kementerian Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) BEM KM Universitas Andalas (UNAND) pada Kamis (23/4/2026) bertujuan menjembatani keterbatasan akses informasi beasiswa di kalangan mahasiswa. Kegiatan ini menghadirkan berbagai lembaga serta sesi berbagi untuk memberikan gambaran mengenai peluang dan proses pendaftaran beasiswa.
Ketua pelaksana, Rayhan Masykuri, menyebutkan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya mahasiswa yang memiliki kemampuan, namun belum mengetahui akses terhadap beasiswa yang tersedia. Menurutnya, kesenjangan informasi tersebut menjadi salah satu hambatan utama bagi mahasiswa untuk mencoba. “Masih banyak mahasiswa yang sebenarnya punya keinginan dan kemampuan, tapi belum mengetahui akses dan peluang beasiswa yang tersedia,” ujarnya saat diwawancarai Genta Andalas pada Kamis (23/4/2026).
Selain faktor informasi, Rayhan menilai kendala lain terletak pada kesiapan mahasiswa, baik secara teknis maupun mental. Ia menjelaskan bahwa banyak mahasiswa belum siap dalam hal penulisan esai, penyusunan CV, hingga kurang percaya diri untuk mendaftar beasiswa. “Masalahnya itu kombinasi, mulai dari kurang informasi, kurang persiapan seperti menulis esai atau membangun CV, sampai faktor mental seperti kurang percaya diri,” katanya.
Untuk menjawab hal tersebut, Beasiswa Fair tahun ini dikemas lebih interaktif dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Panitia menghadirkan sesi berbagi langsung bersama awardee serta menggandeng lembaga beasiswa di luar pengelolaan UNAND, seperti M Scholarship, guna memperluas informasi yang diterima peserta.
Salah satu peserta, Ade Kurnia Ilahi dari Sastra Inggris angkatan 2023, mengaku mengetahui kegiatan ini melalui informasi yang disebarkan oleh program studi, teman, serta media sosial kampus. “Aku tahu eventnya dari flyer yang dikirim prodi, dari teman-teman juga, dan karena acaranya cukup besar jadi banyak dibagikan di Instagram Ditmawa,” ujarnya pada Genta Andalas Kamis (23/4/2026).
Ia menyebut ketertarikannya mengikuti kegiatan ini didorong oleh materi yang ditawarkan, terutama terkait portofolio dan personal branding yang dinilai masih kurang mendapat perhatian di kalangan mahasiswa. “Aku mau cari tahu tentang beasiswa, dan tertarik juga sama materi seperti portofolio dan personal branding. Menurutku itu penting, tapi belum banyak mahasiswa yang peduli,” katanya.
Lebih lanjut, Ade menilai kegiatan ini membantu mahasiswa memahami proses pendaftaran beasiswa sekaligus mengubah persepsi mengenai penerima beasiswa. “Event ini jadi jembatan untuk tahu sebenarnya beasiswa itu apa dan bagaimana step by step untuk mendaftar. Dari sini juga jadi tahu kalau beasiswa bukan cuma untuk yang kurang mampu, tapi juga untuk yang berprestasi dan mau mencoba,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai promosi kegiatan masih perlu ditingkatkan agar dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa, khususnya mahasiswa baru. “Promosinya bisa dibesarkan lagi, karena aku lihat belum banyak mahasiswa baru yang datang. Yang terlihat justru wajah-wajah yang sudah familiar,” tambahnya.
Ke depannya, panitia berharap Beasiswa Fair tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi berkembang menjadi program berkelanjutan dengan menghadirkan lebih banyak lembaga serta menyediakan pendampingan lanjutan. Upaya ini dinilai penting agar kegiatan tidak sekadar menjadi ajang informasi, tetapi benar-benar berdampak pada kesiapan mahasiswa dalam memperoleh beasiswa.
Reporter: Auryn Dzakirah dan Tantri Pramudita
Editor: Oktavia Ramadhani







