Padang, gentaandalas.com – Himpunan Mahasiswa Departemen (HMD) Ilmu Sejarah Universitas Andalas (UNAND) kembali mengadakan kegiatan tahunan Ekspedisi Sejarah 2026 di Nagari Balai Tangah, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar. Kegiatan ini mengusung misi penelitian sekaligus refleksi sejarah untuk melihat kembali perjalanan masa lalu nagari di Lintau Buo hingga masa kini.
Ketua Departemen Ilmu Sejarah UNAND sekaligus dosen pendamping kegiatan, Zulqaiyyim, menjelaskan bahwa penelitian lapangan ini tidak boleh hanya berhenti pada mengingat masa lalu saja. Menurutnya, belajar sejarah harus bisa memberi manfaat dan pelajaran nyata untuk kehidupan hari ini.
Beliau memaparkan alasan dipilihnya Lintau Buo karena daerah ini memiliki sejarah yang sangat penting di Minangkabau. Di nagari inilah basis perjuangan salah satu tokoh besar Perang Padri, yaitu Tuanku Lintau. Gerakan Padri merupakan pembaruan Islam yang sangat berpengaruh dan mengubah tatanan kehidupan masyarakat Minangkabau pada abad ke-19.
Selain tokoh pahlawan, beliau juga menyoroti perubahan aturan dan kebiasaan hidup warga Lintau. Mulai dari perubahan sistem pemerintahan desa yang kembali ke sistem nagari, hingga hilangnya tradisi pertanian gotong royong.
“Dulu warga punya tradisi pertanian namanya baralek kapalo banda. Lewat tradisi ini, warga menggarap sawah bersama-sama secara gotong royong (julo-julo), mulai dari menanam, membersihkan rumput, sampai panen padi. Pembagian air irigasinya juga diatur sangat adil sehingga semua sawah dapat air merata dan panen bisa serentak. Sekarang kebiasaan itu sudah hilang dan berganti ke sistem bayar upah,” ujar Zulqaiyyim saat diwawancara Genta Andalas pada Sabtu (31/10/2026) .
Ia juga menambahkan keunikan Nagari Balai Tangah. Walaupun jumlah warganya terbilang sedikit, nagari ini memiliki pasar serikat yang menjadi pusat jual beli dan penggerak utama ekonomi untuk seluruh nagari di Kecamatan Lintau Buo.
Mengenai jalannya kegiatan, beliau menyebutkan ekspedisi ini sudah berjalan sekitar empat atau lima kali dan rutin diadakan setiap tahun. Tujuannya untuk menyatukan mahasiswa baru angkatan 2026 dengan para senior angkatan 2024, dan 2025 lewat kegiatan belajar di lapangan. Sebelum terjun ke masyarakat, para mahasiswa baru sudah dibekali ilmu wawancara sejarah lisan dan didampingi seniornya.
“Ada tiga ilmu utama yang dipelajari yaitu cara merancang penelitian sejarah, cara mengumpulkan data langsung di lapangan, serta cara menulis dan mempertanggung jawabkannya lewat seminar. Kegiatan ini juga menjadi bentuk pengabdian kepada warga. Nanti tulisan mahasiswa akan dikumpulkan, dirapikan, dan diterbitkan menjadi buku agar bermanfaat bagi masyarakat Lintau,” tambahnya.
Ketua Pelaksana Ekspedisi Sejarah 2026, Rendi, menyampaikan bahwa kegiatan ini diadakan karena sejarah dan budaya Nagari Lintau Buo sangat lengkap, namun selama ini masih kurang dikenal luas oleh masyarakat.
“Potensi sejarah di Nagari Lintau Buo ini sangat lengkap, mulai dari sejarah pahlawan, makanan khas, perkotaan, sampai sejarah desanya. Kami fokus pada sejarah budaya dan sejarah lokal, termasuk tradisi lama yang sekarang sudah jarang dilakukan seperti baralek kapalo banda. Kami di sini tidak hanya meneliti, tapi juga ingin membantu warga. Sambutan warga sangat ramah, dan penelitian kami dibantu langsung oleh Wali Nagari Pak Daseri, Sekretaris Nagari Pak Hendra, serta Ketua KAN,” ujar Rendi saat diwawancarai Genta Andalas pada Sabtu (31/10/2026).
Rendi menargetkan hasil laporan penelitian mahasiswa nantinya dicetak menjadi buku kenang-kenangan untuk pihak nagari, serta disebarkan dalam format digital (PDF) agar bisa dibaca bebas oleh mahasiswa dan peneliti lain.
Wali Nagari Balai Tangah, Dasheri, menyambut baik kedatangan mahasiswa sejarah UNAND. Ia menceritakan bahwa nama Balai Tangah awalnya berasal dari sebutan Batang Bolai atau Batang Bolai Tengah yang perlahan berubah pengucapannya seiring zaman. Masyarakat Balai Tangah hidup rukun dalam empat suku besar, yaitu Chaniago, Kutianyar, Piliang, dan Melayu yang masing-masing dipimpin oleh seorang penghulu suku. Sebagian besar warga bekerja sebagai petani (70 persen), pedagang (20 persen), dan sisanya pegawai negeri, TNI, atau Polri (10 persen).
Dasheri tidak menampik adanya tantangan dalam menjaga adat di tengah kemajuan zaman karena anak-anak muda sekarang lebih sering bermain ponsel ketimbang mempelajari sejarah daerahnya.
“Kehadiran adik-adik mahasiswa jurusan Sejarah ini sangat luar biasa. Kami berharap mereka bisa mencatat dan membukukan cerita-cerita sejarah yang mungkin sempat tertinggal atau terlupakan di Nagari Balai Tangah. Buku ini nantinya bisa menjadi warisan berharga untuk anak cucu kami serta jadi contoh bagi nagari-nagari tetangga,” ujar Dasheri saat diwawancarai Genta Andalas, Minggu (01/11/2026).
Sementara itu, salah satu peserta Ekspedisi Sejarah angkatan 2026, Kiandra, merasa mendapat banyak pengalaman baru yang menyenangkan selama berada di lokasi. Kiandra yang meneliti topik kepemimpinan tradisional berkesempatan belajar langsung dari wali nagari dan niniak mamak mengenai tata cara pemilihan pemimpin nagari hingga tradisi syukuran air sawah baralek kapalo banda.
“Belajar langsung di lapangan terasa sangat berbeda dengan di kelas yang cuma mendengar dosen dan mencatat tugas. Di sini kita langsung berbicara dengan tokoh adat. Tantangannya adalah merapikan cerita dari para datuk agar tersusun menjadi kisah sejarah yang utuh. Harapan saya, anak-anak muda bisa lebih peduli dengan sejarah daerahnya lewat kunjungan ke tempat bersejarah, dan penelitian berikutnya bisa makin memahami wilayah ini,” ujar Kiandra diwawancara Genta Andalas pada Minggu (01/11/2026).
Reporter: Ibnu Muhammad Bintang dan Zulaizah
Editor: M. Dhiaurrahman Alfatih







