Oleh: Oktavia Ramadhani*
Tidak sedikit film horor Indonesia yang mengandalkan kemunculan sosok menyeramkan untuk membuat penonton terkejut. Namun, Cerita Lila memiliki keunikan yang berbeda. Film yg disutradarai oleh Bobby Prasetyo yang diproduksi oleh MVP Pictures ini membangun ketegangan melalui misteri dan hubungan antartokohnya. Diangkat dari kisah penelusuran supranatural yang pernah tayang di kanal YouTube Diary Misteri Sara, film ini mengembangkan cerita tersebut menjadi sebuah film horor yang lebih utuh dan emosional.
Cerita berpusat pada Lila (Firzanah Alya), arwah seorang anak perempuan yang masih terikat dengan masa lalunya. Ia belum bisa benar-benar pergi karena terus mencari saudari kembarnya, Lili, yang menghilang dalam sebuah tragedi. Pencarian itu membawanya bertemu Nia (Myesha Lin), seorang anak yang baru saja pindah ke rumah yang selama ini dihuni oleh Lila. Bersama ibunya, Tari (Lutesha), Nia mulai mengalami berbagai kejadian ganjil yang perlahan mengungkap rahasia besar di balik kisah Lila dan Lili.
Seiring berjalannya cerita, penonton diajak mengikuti pencarian demi pencarian yang dilakukan Nia untuk membantu Lila. Setiap petunjuk yang ditemukan membuka sedikit demi sedikit masa lalu yang selama ini terkubur. Ketika Rahma (Shareefa Daanish) mulai muncul, suasana berubah menjadi semakin mencekam. Kehadiran tokoh tersebut membuat misteri yang sebelumnya hanya terasa samar mulai mengarah pada kenyataan yang jauh lebih kelam.
Salah satu hal yang menarik dari Cerita Lila adalah cara film ini membangun suasana. Ketegangan tidak selalu muncul lewat adegan yang mengagetkan. Tetapi rasa takut lebih banyak hadir melalui suasana rumah yang sunyi, lorong-lorong yang gelap, hingga bunyi-bunyian yang muncul pada waktu yang tidak terduga. Hal seperti ini membuat penonton tetap merasa waswas meskipun tidak setiap saat disuguhi jumpscare.
Akting para pemain menjadi nilai tambah yang cukup menonjol. Firzanah Alya berhasil menampilkan sosok Lila sebagai anak kecil yang menyimpan kesedihan sekaligus kerinduan terhadap saudara kembarnya. Karakter yang diperankannya terasa alami sehingga emosi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik. Myesha Lin juga mampu membangun hubungan yang hangat dengan karakter Lila sehingga persahabatan mereka menjadi salah satu bagian yang membuat cerita terasa hidup.
Lutesha tampil meyakinkan sebagai Tari, seorang ibu yang berusaha menjaga putrinya di tengah situasi yang sulit dijelaskan dengan logika. Sementara itu, Shareefa Daanish kembali menunjukkan aktingnya dalam genre horor. Sosok Rahma yang diperankannya menghadirkan aura mencekam tanpa harus banyak berdialog. Ekspresi wajah, tatapan mata, hingga gestur tubuhnya mampu menciptakan rasa tidak nyaman setiap kali muncul di layar. Tidak mengherankan jika banyak penonton masih menganggap Shareefa Daanish sebagai salah satu aktris yang paling kuat ketika membawakan karakter dalam film horor Indonesia.
Dari sisi visual, Cerita Lila memanfaatkan pencahayaan yang minim untuk memperkuat suasana. Rumah tua yang menjadi latar utama terasa hidup dengan lorong-lorong sempit, ruangan yang sepi, dan sudut-sudut gelap yang membuat penonton terus menebak apa yang akan muncul berikutnya. Tata suaranya juga berperan dalam membangun ketegangan. Bunyi langkah kaki, bisikan, hingga keheningan di beberapa adegan justru membuat suasana terasa lebih menyeramkan daripada efek suara yang berlebihan.
Horor yang disajikan merupakan perpaduan antara teror psikologis dan beberapa adegan jumpscare. Kemunculan sosok gaib mampu mengejutkan penonton, tetapi rasa takut yang paling terasa justru berasal dari misteri yang perlahan mulai terungkap. Film ini tidak terburu-buru menjelaskan semua pertanyaan yang muncul di awal cerita. Sebaliknya, penonton diajak mengikuti perjalanan Nia dan Lila hingga potongan-potongan peristiwa masa lalu mulai saling berkaitan.
Di balik kisah mistis yang ditampilkan, film ini juga menyimpan pesan tentang keluarga dan kasih sayang. Hubungan antara Lila dan Lili menjadi inti dari keseluruhan cerita. Ikatan saudara yang tetap kuat meski dipisahkan oleh kematian memberikan sentuhan emosional yang membuat film ini terasa berbeda. Beberapa adegan bahkan lebih mengundang rasa iba daripada rasa takut karena memperlihatkan bagaimana luka masa lalu masih terus membekas.
Meski demikian, masih ada beberapa bagian yang dapat dikembangkan agar cerita terasa lebih kuat. Pada beberapa adegan, alur bergerak sedikit lambat sehingga ketegangan sempat menurun sebelum kembali meningkat menjelang akhir film. Penjelasan mengenai beberapa peristiwa juga terasa singkat sehingga masih menyisakan pertanyaan bagi sebagian penonton. Namun, hal tersebut tidak terlalu mengurangi kenikmatan penonton mengikuti keseluruhan cerita.
Sebagai adaptasi dari kisah penelusuran supranatural yang pernah menarik perhatian jutaan penonton di YouTube, Cerita Lila berhasil hadir dengan identitasnya sendiri. Film ini tidak hanya sekedar memindahkan cerita ke layar lebar, tetapi mengembangkannya menjadi sebuah drama horor yang lebih utuh. Kehadiran Sara Wijayanto dan Wisnu Hardana sebagai bagian dari cerita juga menjadi nilai tambah bagi penonton yang telah mengikuti kisah aslinya.
Secara keseluruhan, Cerita Lila layak diapresiasi sebagai film horor yang tidak hanya memperlihatjan penampakan atau kejutan semata. Cerita yang dibangun perlahan, didukung akting para pemain yang meyakinkan, serta suasana mencekam yang konsisten membuat film ini mampu memberikan pengalaman menonton yang berbeda. Penampilan Shareefa Daanish menjadi salah satu daya tarik utama berkat pembawaan karakternya yang kuat, sementara Firzanah Alya dan Myesha Lin berhasil menghadirkan sisi emosional yang membuat kisah Lila terasa menyentuh.
Bagi penonton yang menyukai film horor dengan misteri yang perlahan terungkap dan dibalut drama keluarga, Cerita Lila menjadi pilihan yang menarik. Setelah menonton, yang paling membekas bukan hanya adegan-adegan menyeramkan, tetapi juga kisah tentang kehilangan dan kerinduan yang menjadi inti cerita. Hal itulah yang membuat Cerita Lila meninggalkan kesan lebih lama dibandingkan sekadar horor yang mengandalkan kejutan.
*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas







