• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 16 Juli 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aneka Ragam Resensi

Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

oleh Redaksi
30 Juni 2026, 18:08 WIB
(Poster Film Cerita Lila/Facebook Moviezy)

(Poster Film Cerita Lila/Facebook Moviezy)

ShareShareShareShare

Oleh: Oktavia Ramadhani*

Tidak sedikit film horor Indonesia yang mengandalkan kemunculan sosok menyeramkan untuk membuat penonton terkejut. Namun, Cerita Lila memiliki keunikan yang berbeda. Film yg disutradarai oleh Bobby Prasetyo yang diproduksi oleh MVP Pictures ini membangun ketegangan melalui misteri dan hubungan antartokohnya. Diangkat dari kisah penelusuran supranatural yang pernah tayang di kanal YouTube Diary Misteri Sara, film ini mengembangkan cerita tersebut menjadi sebuah film horor yang lebih utuh dan emosional.

Cerita berpusat pada Lila (Firzanah Alya), arwah seorang anak perempuan yang masih terikat dengan masa lalunya. Ia belum bisa benar-benar pergi karena terus mencari saudari kembarnya, Lili, yang menghilang dalam sebuah tragedi. Pencarian itu membawanya bertemu Nia (Myesha Lin), seorang anak yang baru saja pindah ke rumah yang selama ini dihuni oleh Lila. Bersama ibunya, Tari (Lutesha), Nia mulai mengalami berbagai kejadian ganjil yang perlahan mengungkap rahasia besar di balik kisah Lila dan Lili.

Seiring berjalannya cerita, penonton diajak mengikuti pencarian demi pencarian yang dilakukan Nia untuk membantu Lila. Setiap petunjuk yang ditemukan membuka sedikit demi sedikit masa lalu yang selama ini terkubur. Ketika Rahma (Shareefa Daanish) mulai muncul, suasana berubah menjadi semakin mencekam. Kehadiran tokoh tersebut membuat misteri yang sebelumnya hanya terasa samar mulai mengarah pada kenyataan yang jauh lebih kelam.

Salah satu hal yang menarik dari Cerita Lila adalah cara film ini membangun suasana. Ketegangan tidak selalu muncul lewat adegan yang mengagetkan. Tetapi rasa takut lebih banyak hadir melalui suasana rumah yang sunyi, lorong-lorong yang gelap, hingga bunyi-bunyian yang muncul pada waktu yang tidak terduga. Hal seperti ini membuat penonton tetap merasa waswas meskipun tidak setiap saat disuguhi jumpscare.

Akting para pemain menjadi nilai tambah yang cukup menonjol. Firzanah Alya berhasil menampilkan sosok Lila sebagai anak kecil yang menyimpan kesedihan sekaligus kerinduan terhadap saudara kembarnya. Karakter yang diperankannya terasa alami sehingga emosi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik. Myesha Lin juga mampu membangun hubungan yang hangat dengan karakter Lila sehingga persahabatan mereka menjadi salah satu bagian yang membuat cerita terasa hidup.

Baca Juga  Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Eating Disorder

Lutesha tampil meyakinkan sebagai Tari, seorang ibu yang berusaha menjaga putrinya di tengah situasi yang sulit dijelaskan dengan logika. Sementara itu, Shareefa Daanish kembali menunjukkan aktingnya dalam genre horor. Sosok Rahma yang diperankannya menghadirkan aura mencekam tanpa harus banyak berdialog. Ekspresi wajah, tatapan mata, hingga gestur tubuhnya mampu menciptakan rasa tidak nyaman setiap kali muncul di layar. Tidak mengherankan jika banyak penonton masih menganggap Shareefa Daanish sebagai salah satu aktris yang paling kuat ketika membawakan karakter dalam film horor Indonesia.

Dari sisi visual, Cerita Lila memanfaatkan pencahayaan yang minim untuk memperkuat suasana. Rumah tua yang menjadi latar utama terasa hidup dengan lorong-lorong sempit, ruangan yang sepi, dan sudut-sudut gelap yang membuat penonton terus menebak apa yang akan muncul berikutnya. Tata suaranya juga berperan dalam membangun ketegangan. Bunyi langkah kaki, bisikan, hingga keheningan di beberapa adegan justru membuat suasana terasa lebih menyeramkan daripada efek suara yang berlebihan.

Horor yang disajikan merupakan perpaduan antara teror psikologis dan beberapa adegan jumpscare. Kemunculan sosok gaib mampu mengejutkan penonton, tetapi rasa takut yang paling terasa justru berasal dari misteri yang perlahan mulai terungkap. Film ini tidak terburu-buru menjelaskan semua pertanyaan yang muncul di awal cerita. Sebaliknya, penonton diajak mengikuti perjalanan Nia dan Lila hingga potongan-potongan peristiwa masa lalu mulai saling berkaitan.

Di balik kisah mistis yang ditampilkan, film ini juga menyimpan pesan tentang keluarga dan kasih sayang. Hubungan antara Lila dan Lili menjadi inti dari keseluruhan cerita. Ikatan saudara yang tetap kuat meski dipisahkan oleh kematian memberikan sentuhan emosional yang membuat film ini terasa berbeda. Beberapa adegan bahkan lebih mengundang rasa iba daripada rasa takut karena memperlihatkan bagaimana luka masa lalu masih terus membekas.

Baca Juga  Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

Meski demikian, masih ada beberapa bagian yang dapat dikembangkan agar cerita terasa lebih kuat. Pada beberapa adegan, alur bergerak sedikit lambat sehingga ketegangan sempat menurun sebelum kembali meningkat menjelang akhir film. Penjelasan mengenai beberapa peristiwa juga terasa singkat sehingga masih menyisakan pertanyaan bagi sebagian penonton. Namun, hal tersebut tidak terlalu mengurangi kenikmatan penonton mengikuti keseluruhan cerita.

Sebagai adaptasi dari kisah penelusuran supranatural yang pernah menarik perhatian jutaan penonton di YouTube, Cerita Lila berhasil hadir dengan identitasnya sendiri. Film ini tidak hanya sekedar memindahkan cerita ke layar lebar, tetapi mengembangkannya menjadi sebuah drama horor yang lebih utuh. Kehadiran Sara Wijayanto dan Wisnu Hardana sebagai bagian dari cerita juga menjadi nilai tambah bagi penonton yang telah mengikuti kisah aslinya.

Secara keseluruhan, Cerita Lila layak diapresiasi sebagai film horor yang tidak hanya memperlihatjan penampakan atau kejutan semata. Cerita yang dibangun perlahan, didukung akting para pemain yang meyakinkan, serta suasana mencekam yang konsisten membuat film ini mampu memberikan pengalaman menonton yang berbeda. Penampilan Shareefa Daanish menjadi salah satu daya tarik utama berkat pembawaan karakternya yang kuat, sementara Firzanah Alya dan Myesha Lin berhasil menghadirkan sisi emosional yang membuat kisah Lila terasa menyentuh.

Bagi penonton yang menyukai film horor dengan misteri yang perlahan terungkap dan dibalut drama keluarga, Cerita Lila menjadi pilihan yang menarik. Setelah menonton, yang paling membekas bukan hanya adegan-adegan menyeramkan, tetapi juga kisah tentang kehilangan dan kerinduan yang menjadi inti cerita. Hal itulah yang membuat Cerita Lila meninggalkan kesan lebih lama dibandingkan sekadar horor yang mengandalkan kejutan.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Poster Film 402 Rumah Sakit Angker Korea/Facebook MD Pictures)

Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

15 Juli 2026, 18:23 WIB
Poster film Toy Story 5/Disney Indonesia

Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

3 Juli 2026, 13:09 WIB
(Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

14 Juni 2026, 21:17 WIB
Poster film Pesta Babi

Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

25 Mei 2026, 21:22 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Pelemahan Rupiah Menjadi Alarm Stabilitas Ekonomi Nasional

23 Mei 2026, 12:41 WIB
(Poster Film Titip Bunda di Surga-Mu/detik.com)

Belajar Menghargai Waktu Lewat FilmTitip Bunda di Surga-Mu

28 Februari 2026, 21:46 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Koperasi Merah Putih Tidak Boleh Menang karena Pesaingnya Dikalahkan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Sejumlah BEM Fakultas Nyatakan Mosi Tidak Percaya kepada BEM KM UNAND Usai Aksi di DPRD Sumbar

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Pengemudi Mengaku Pusing, Tabrak Dua Gerobak dan Satu Mobil

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Gangguan SSO UNAND Jelang UAS Hambat Administrasi Mahasiswa

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Keresahan Mahasiswa di Balik Ancaman Reformasi Jilid II

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak