• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, 27 Juni 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

oleh Redaksi
24 Juni 2026, 23:09 WIB
(Ilustrasi/Aulya Rindu Ramadan)

(Ilustrasi/Aulya Rindu Ramadan)

ShareShareShareShare

Oleh: Aulya Rindu Ramadan*
Bencana alam selalu meninggalkan dampak yang mendalam, tidak hanya pada struktur fisik bangunan, tetapi juga pada interaksi sosial masyarakat. Setelah serangkaian bencana hidrometeorologi, progres pembangunan rumah sementara (huntara) di Aceh berlangsung lebih lambat dibandingkan daerah lain di Pulau Sumatera. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan pemerintah, dari jumlah usulan yang ada, realisasi pembangunan huntara di Aceh baru mencapai 45%. Hal ini mengakibatkan ribuan korban bencana masih harus bertahan di tenda-tenda pengungsian atau hunian darurat selama berbulan-bulan. Apa yang terjadi di Desa Reje Payung, Takengon, Aceh Tengah, merupakan contoh nyata betapa dampak banjir menyebabkan kerusakan rumah dan lahan pertanian, hingga merembes ke aspek paling krusial dalam kehidupan, yaitu pendidikan bagi anak-anak.

Anak-anak di desa tersebut kini terpaksa belajar di tenda darurat, di bawah terik matahari, dengan semua kelas digabung menjadi satu. Buku pelajaran mereka hanyut terbawa banjir, sedangkan akses jalan mengalami kerusakan dan jembatan penghubung terputus. Kondisi ini bukan hanya sekadar kisah memilukan, tetapi merupakan panggilan keras bahwa sistem pemulihan pascabencana di Indonesia masih sangat jauh dari yang diharapkan.

Pendidikan merupakan hak dasar yang tidak boleh ditunda. Ketika anak-anak terpaksa belajar di tenda darurat, mereka kehilangan tempat belajar yang layak, dan hal tersebut memengaruhi konsentrasi, motivasi, bahkan kesehatan mental mereka. Jika hal ini dibiarkan, generasi muda Aceh berisiko untuk tidak berkembang. Padahal, mereka adalah harapan untuk masa depan daerah dan negara.

Baca Juga  Prodi Dihapus, Arah Pendidikan Dipertaruhkan

Masalah ini juga mengungkapkan kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga terkait. Pemulihan pascabencana seharusnya dilakukan dengan segera dan komprehensif. Infrastruktur pendidikan, akses jalan, jembatan, dan mata pencaharian penduduk adalah aspek yang saling terhubung. Tanpa infrastruktur yang baik, bantuan pendidikan tidak akan sampai. Tanpa penghidupan yang layak, orang tua tidak dapat mendukung pendidikan anak-anak mereka. Ini menunjukkan bahwa pemulihan harus dipandang sebagai sebuah ekosistem, bukan hanya proyek fisik.

Selain itu, perhatian publik terhadap bencana sering kali cepat memudar. Media mungkin akan meliput di awal kejadian, tetapi kemudian beralih ke isu lainnya, sementara masyarakat yang terdampak masih berjuang setiap harinya. Anak-anak yang belajar di tenda darurat adalah simbol bagaimana penderitaan bisa berlangsung lama tanpa sorotan. Di sinilah pentingnya komitmen jangka panjang dari pemerintah dan masyarakat. Bantuan darurat memang penting, tetapi yang lebih esensial adalah membangun kembali fasilitas pendidikan dengan standar yang memadai dan berkelanjutan.

Baca Juga  Komunitas Permainan Tradisional Sebagai Pencegah Phantom Vibration Syndrome

Kita tidak boleh mengabaikan dampak psikologisnya. Anak-anak yang kehilangan sekolah, buku, dan rutinitas biasa mereka akan membawa trauma yang dapat memengaruhi pertumbuhan mereka. Dukungan psikososial harus menjadi bagian integral dari pemulihan, bukan hanya sesuatu yang bersifat tambahan.

Secara keseluruhan, situasi di Aceh ini mengingatkan kita bahwa bencana tidak hanya mengenai kerusakan fisik, tetapi juga tentang masa depan manusia. Jika kita gagal menyediakan lingkungan belajar yang baik untuk anak-anak, maka yang hilang bukan sekadar buku dan bangunan, tetapi juga masa depan satu generasi. Pemerintah perlu mempercepat pemulihan, meningkatkan koordinasi, dan memastikan distribusi bantuan yang merata. Masyarakat sipil dan organisasi kemanusiaan juga harus terus mengawasi agar suara anak-anak Aceh tidak tenggelam di tengah hiruk pikuk isu nasional.

Anak-anak yang belajar di tenda darurat bukan hanya sekadar korban bencana. Mereka adalah refleksi dari kegagalan kita dalam melindungi hak dasar setiap warga negara. Jika kita tidak secepatnya melakukan tindakan, maka yang hilang bukan hanya sarana pendidikan, tetapi juga harapan untuk masa depan bangsa.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Tag: #Aceh#Pascabencanapendidikan
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Syifa Alifah)

Keresahan Mahasiswa di Balik Ancaman Reformasi Jilid II

21 Juni 2026, 23:40 WIB
Ilusgrafis/Kesih Rianti

Koperasi Merah Putih Tidak Boleh Menang karena Pesaingnya Dikalahkan

18 Juni 2026, 20:58 WIB
(Ilusgrafis/M. Dhiaurrahman Alfatih)

Media Sosial dan Kemunduran Cara Berpikir Kritis

17 Juni 2026, 23:53 WIB
(Ilusgrafis/Echa Syafira)

Legalitas dan Kepatutan dalam Penggunaan APBN untuk Kurban Presiden

10 Juni 2026, 12:39 WIB
(Ilustrasi/M. Dhiaurrahman Alfatih)

Menakar Prabowonomics di Tengah Tekanan Ekonomi

7 Juni 2026, 21:41 WIB
(Ilustrasi/Zulaizah)

Menerka Masa Depan Indonesia Melalui Teori Siklus Polybius

5 Juni 2026, 23:53 WIB

Populer

  • Ilusgrafis/Kesih Rianti

    Koperasi Merah Putih Tidak Boleh Menang karena Pesaingnya Dikalahkan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tenaga Kebersihan FK UNAND Ditemukan Meninggal di Hutan Biologi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menakar Prabowonomics di Tengah Tekanan Ekonomi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Sejumlah BEM Fakultas Nyatakan Mosi Tidak Percaya kepada BEM KM UNAND Usai Aksi di DPRD Sumbar

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Pengemudi Mengaku Pusing, Tabrak Dua Gerobak dan Satu Mobil

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Disclosure Day, Kembalinya Steven Spielberg Lewat Film Fiksi Ilmiah Terbaru

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tambang Ilegal di Sumbar Dinilai Perparah Krisis Ekologis

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak