• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, 1 Agustus 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Menakar Prabowonomics di Tengah Tekanan Ekonomi

oleh Redaksi
7 Juni 2026, 21:41 WIB
(Ilustrasi/M. Dhiaurrahman Alfatih)

(Ilustrasi/M. Dhiaurrahman Alfatih)

ShareShareShareShare

Oleh: M. Dhiaurrahman Alfatih*

Pada 4 Juni 2026, berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah terus melemah hingga menyentuh angka Rp18.039,00 per dolar Amerika Serikat. Di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, rupiah kembali mencatatkan rekor dalam sejarah pascareformasi. Bukan mencatatkan sejarah dalam memperkuat rupiah terhadap dolar, melainkan sebaliknya. Dampak menurunnya nilai rupiah tidak hanya terlihat di layar bursa saja, tetapi langsung terasa di dapur-dapur rumah tangga. Kenapa? Karena Indonesia masih bergantung besar pada impor bahan baku, mulai dari kedelai, obat-obatan, elektronik, hingga BBM.

Akibatnya, masyarakat kelas menengah juga mulai merasakan tekanan ekonomi secara perlahan. Harga kebutuhan pokok yang terus naik hingga biaya pendidikan anak yang kian melambung tidak diimbangi dengan pendapatan masyarakat. Kondisi ini juga membuat daya beli masyarakat semakin melemah, terutama bagi para pelaku UMKM dan pekerja harian yang sangat bergantung pada stabilitas harga pasar.

Dari website Investor.id dikatakan bahwa faktor global seperti perang Amerika Serikat-Iran dan arus modal asing memang berpengaruh, tetapi di sisi lain masalah domestik seperti ketidakpastian kebijakan pemerintah juga menjadi alasan mengapa kepercayaan investor mulai menurun. Banyak investor melihat kondisi ekonomi Indonesia saat ini belum memiliki arah yang jelas. Di tengah pelemahan rupiah, pemerintah justru tetap menjalankan program-program besar yang membutuhkan anggaran yang sangat tinggi, seperti program Makan Bergizi Gratis.

Situasi seperti ini memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha dan para investor. Akibatnya, sebagian investor memilih menarik modalnya dari Indonesia dan memindahkannya ke negara yang dianggap lebih stabil, dan dampaknya akan kembali dirasakan oleh masyarakat. Seorang ekonom senior, Profesor Ferry Latuhihin, mengatakan dalam podcast Hendri Satrio dan menyarankan untuk memutuskan program MBG. Seharusnya pemerintah lebih memprioritaskan stabilitas ekonomi nasional dibandingkan memaksakan berjalannya program MBG dengan memakan anggaran besar.

Baca Juga  SD Negeri Kian Sepi, Alarm Krisis Pendidikan Dasar

Alih-alih mendengarkan, Presiden Prabowo Subianto justru merombak jajaran pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) dengan menunjuk Nanik Surdayati Deyang sebagai Kepala BGN yang baru, menggantikan Dadan Hindayana. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, pada Selasa, 2 Juni 2026. Ada dua sisi yang bisa kita lihat dari sini. Pertama, setelah Dadan Hindayana digantikan, Kejaksaan Agung langsung menetapkan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, sebagai tersangka pada Rabu, 3 Juni 2026. Mungkin kita tidak akan membahas ini secara detail di sini, tetapi hal ini menunjukkan bahwa program sebesar MBG pun masih memiliki sistem pengelolaan yang belum efektif dan rawan menjadi ladang korupsi.

Kedua, perombakan yang dilakukan oleh Presiden Indonesia ini mempertegas bahwa pemerintah sekarang lebih memprioritaskan konsolidasi internal program MBG. Jika pemerintah terus memaksa dan menutup mata terhadap realitas pasar, dampaknya akan terjadi pembengkakan biaya produksi akibat mahalnya bahan baku.

Tidak hanya MBG saja yang menjadi problem, banyak kebijakan atau program lain yang justru menimbulkan tanda tanya saat ini. Jika kita lihat kembali program unggulan Presiden Prabowo, seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, Sekolah Rakyat, Lumbung Pangan, dan program lainnya, apakah dengan langkah ini tujuan Presiden Prabowo yang tetap optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 8% akan tercapai?

Besarnya anggaran yang dibutuhkan untuk menjalankan program-program unggulan pemerintah sekarang mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi APBN dan beban utang negara kita. Program berskala nasional tentu membutuhkan pendanaan yang sangat besar, sementara kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang berada dalam tekanan.

Baca Juga  Rangkulan Sesama Perempuan Indonesia Harus Lebih Erat Lagi

Memang benar, dari semua program Presiden Prabowo memiliki niat yang baik untuk negeri, tetapi dengan regulasinya yang tidak terstruktur dengan baik, memunculkan kekhawatiran baru. Program-program besar membutuhkan perencanaan matang, kestabilan anggaran, serta kepercayaan pasar agar dapat berjalan dengan efektif. Namun, coba kita lihat kenyataannya, masyarakat justru melihat adanya ketidaksiapan pemerintah dalam menyeimbangkan ambisi program dengan kondisi ekonomi nasional yang sedang terjadi.

Jika kondisi ini terus berlangsung, maka bukan tidak mungkin target pertumbuhan ekonomi 8% itu hanya akan menjadi optimisme semata saja, tanpa didukung dengan realitas. Sebab, pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dibangun melalui program mega besar saja, tetapi juga membutuhkan kestabilan nilai rupiah, kepastian kebijakan, serta rasa percaya dari investor dan pelaku usaha. Ketika kepercayaan tersebut mulai menurun, maka jangan heran jika tekanan terhadap ekonomi nasional akan semakin sulit untuk dikendalikan.

Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan program besar dengan anggaran fantastis, tetapi juga kebijakan ekonomi yang mampu menciptakan rasa aman dan stabil. Sebab, keberhasilan sebuah pemerintahan bukan hanya diukur dari banyaknya program yang dijalankan, melainkan dari sejauh mana rakyat dapat merasakan kestabilan hidup di tengah tekanan ekonomi. Pertanyaannya sekarang, apakah Prabowonomics benar-benar menjadi solusi untuk memperkuat ekonomi Indonesia, atau justru membuat rakyat harus bertahan lebih keras menghadapi ketidakpastian di tengah gejolaknya dunia sekarang?

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas

Tag: #PrabowonomicsekonomikebijakanopiniRupiah
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Ketika Hukuman Penjara Berakhir, Hukuman Sosial Dimulai

28 Juli 2026, 11:14 WIB
(Ilustrasi/Kesih Rianti)

Ketika Penegak Hukum Diduga Tersangka

20 Juli 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Skripsi Tidak Pernah Lebih Berharga dari Nyawamu Sendiri

15 Juli 2026, 21:18 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nurfadillah)

Di Balik Antrean Virtual, Adakah Kesempatan yang Benar-benar Sama?

11 Juli 2026, 21:21 WIB
Poster film Toy Story 5/Disney Indonesia

Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

3 Juli 2026, 13:09 WIB
Pertunjukan drama berjudul "TPS" menghadirkan adegan di area pelepasan suara, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Syifa Alifah)

Mahasiswa Sastra Indonesia UNAND Unjuk Kepiawaian Berakting

2 Juli 2026, 16:32 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Sumbang Duo Baleh, Kode Etik dalam Kebudayaan Minangkabau

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Obsession: Ketika Kamu “Dipelet” Cowok Insecure

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • LBH Padang Soroti Dugaan Kekerasan Negara dan Impunitas pada Peringatan Hari Anti Penyiksaan Internasional

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Setahun Pascakebakaran, Gedung Jati FKM UNAND Masih Terbangkalai

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak