Oleh: Zulaizah
Pixar Animation Studios kembali menyapa penggemarnya melalui mahakarya terbaru mereka yang berjudul Toy Story 5. Toy Story 5 ini mengangkat cerita mengenai dominasi gawai dan hilangnya waktu bermain anak-anak di era modern yang akan menjadi konflik utama oleh sutradara senior Andrew Stanton. Film ini menjadi babak kelima dari waralaba legendaris yang telah menemani penonton sejak 1995.
Film animasi ini telah memulai penayangan globalnya secara serentak pada pertengahan Juni 2026 ini. Sedangkan di Indonesia resmi tayang pada 17 Juni 2026. Toy Story 5 menceritakan perubahan kehidupan para mainan di kamar Bonnie (Scarlett Spears) yang kini telah menginjak usia delapan tahun. Bonnie mulai mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman sebayanya karena anak-anak di sekitarnya yang semakin akrab dengan gawai.
Demi membantunya beradaptasi, orang tuanya menghadirkan sebuah perangkat pintar bernama Lilypad, sebuah tablet berbentuk katak yang seketika menyita perhatian Bonnie. Kehadiran Lilypad (Greta Lee) dengan berbagai fitur digitalnya mengubah kehidupan para mainan tradisional. Kondisi tersebut membuat Woody (Tom Hanks), Buzz Lightyear (Tim Allen), Jessie (Joan Cusack), dan teman-temannya kembali menghadapi tantangan baru yang menguji arti persahabatan dan perubahan.
Sutradara Andrew Stanton menyoroti kecemasan nyata terkait fenomena ketergantungan gawai, di mana anak-anak zaman kini semakin terikat pada dunia layar kaca. Alih-alih hanya menyuguhkan petualangan, film ini mengangkat kegelisahan tentang perubahan cara anak-anak bermain di era digital. Toy Story 5 tidak hanya berbicara tentang persaingan antara mainan dan teknologi, melainkan juga mengajak penonton dewasa maupun anak-anak untuk mempertanyakan kembali batasan waktu bermain gadget yang sehat, serta cara manusia merawat hubungan emosional di tengah dunia yang bergerak cepat di era digital.
Salah satu hal yang patut dipuji dari film ini adalah performa emosional dari jajaran pengisi suaranya, terutama Joan Cusack yang kembali menghidupkan karakter Jessie dengan sangat mengesankan. Film ini juga menyuguhkan sejumlah momen komedi yang berhasil mencairkan suasana tanpa mengurangi kedalaman emosinya. Selain itu, kemampuan Pixar dalam menyajikan perbedaan visual antara mainan analog yang usang dengan kilauan layar digital patut diacungi jempol.
Musik garapan Randy Newman berhasil membangun atmosfer nostalgia sekaligus memperkuat momen-momen emosional film. Dengan durasi sepanjang 102 menit, penonton pada babak awal mungkin akan merasa alurnya bergerak sedikit rumit karena pengenalan banyak karakter baru yang membuat kita bingung. Beberapa karakter pendukung bahkan baru mendapatkan bagian yang kuat saat menjelang pertengahan babak kedua film.
Film yang mengangkat isu pengasuhan anak di era digital seperti ini tentu saja akan memicu perdebatan hangat di kalangan orang tua modern. Namun, pada akhirnya Toy Story 5 tidak sekadar menawarkan hiburan keluarga yang penuh tawa, melainkan menghadirkan ruang intropeksi bagi setiap penontonnya. Film ini juga menyampaikan pesan tentang arti persahabatan, kehilangan, serta pentingnya menerima diri sendiri tanpa harus berubah demi memperoleh penerimaan dari orang lain. Meski alurnya sedikit padat pada awal cerita, Toy Story 5 tetap menjadi sekuel yang berhasil mempertahankan identitas waralaba sekaligus menghadirkan isu yang relevan bagi penonton masa kini.
Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas







