• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 5 November 2026
Gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Gentaandalas.com
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Ketika Bahasa Minang Mulai Canggung di Lidah Gen Z

oleh Redaksi
19 September 2026, 23:58 WIB
(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

ShareShareShareShare

Oleh: Ibnu Muhammad Bintang*

Kalau sedang berjalan di sekitar kampus, bahasa apa yang paling sering kita dengar? Kemungkinan besar bahasa Indonesia, diselingi bahasa Inggris, istilah media sosial, atau logat daerah masing-masing. Namun, bagi mahasiswa yang berasal dari Sumatera Barat, ada satu bahasa yang mungkin terasa dekat di rumah, tetapi tidak selalu terdengar di lingkungan kampus yaitu bahasa Minang.

Bukan berarti bahasa Minang sudah ditinggalkan. Di beberapa tempat, bahasa ini masih digunakan dengan akrab, terutama ketika bertemu teman sedaerah atau saat berbicara dengan keluarga. Namun, lingkungan kampus yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai daerah membuat penggunaan bahasa Minang menjadi lebih terbatas. Bahkan, ada mahasiswa yang mengaku lebih nyaman memahami bahasa Minang daripada menggunakannya dalam percakapan.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Bagaimana mungkin bahasa yang sejak kecil berada di sekitar kita justru terasa canggung ketika hendak digunakan? Bagi sebagian mahasiswa asal Sumatera Barat, bahasa Minang merupakan bagian dari percakapan sehari-hari di rumah. Bahasa ini digunakan ketika berbicara dengan orang tua, saudara, tetangga, atau masyarakat sekitar. Namun, ketika memasuki dunia perkuliahan, kebiasaan berbahasa bisa ikut berubah.

Bahasa Indonesia menjadi pilihan yang paling praktis karena tidak semua mahasiswa memahami bahasa Minang. Dalam diskusi kelas, kegiatan organisasi, maupun percakapan dengan teman dari luar Sumatera Barat, penggunaan bahasa Indonesia membuat komunikasi berjalan lebih mudah. Kebiasaan tersebut kemudian dapat terbawa ke dalam pergaulan sesama mahasiswa asal Minang. Bukan karena tidak bangga terhadap bahasa sendiri, melainkan karena bahasa Indonesia sudah menjadi pilihan yang terasa lebih spontan dalam keseharian.

Tidak jarang bahasa Minang baru digunakan ketika ada teman yang memulai. “Eh, pakai bahasa awak lah,” mungkin menjadi candaan sederhana yang kemudian membuat percakapan kembali mengalir. Namun, setelah lama tidak menggunakannya, ada saja kata yang terlupa atau pengucapan yang terasa kurang lancar. Sekilas, kondisi tersebut memang terlihat sepele. Namun, dari kebiasaan kecil itu dapat terlihat bagaimana sebuah bahasa perlahan kehilangan ruang dalam kehidupan sehari-hari generasi mudanya.

Baca Juga  Negara Lalai, Rakyat Resah: Cermin Buram Perlindungan Data di Indonesia

Sebagai generasi yang tumbuh bersama internet dan media sosial, Gen Z terbiasa dengan berbagai bentuk bahasa. Kita bisa berpindah dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, menggunakan istilah yang sedang tren, atau mencampurkan berbagai ungkapan dalam satu percakapan. Perubahan tersebut bukan sesuatu yang perlu ditolak. Bahasa memang selalu berkembang mengikuti zaman dan kebutuhan penggunanya. Persoalannya adalah ketika perkembangan itu membuat bahasa daerah semakin jarang digunakan oleh generasi yang seharusnya menjadi penerusnya.

Bahasa Minang terkadang dianggap hanya cocok digunakan dalam situasi tertentu, seperti ketika berada di kampung, berbicara dengan orang tua, atau berkumpul dengan sesama orang Minang. Sementara itu, ketika berada di kampus, bahasa tersebut seolah harus disimpan terlebih dahulu. Padahal, menggunakan bahasa Minang dalam percakapan santai tidak membuat seseorang menjadi kurang modern. Begitu pula menggunakan bahasa Indonesia tidak berarti seseorang kehilangan identitas daerahnya. Keduanya dapat berjalan bersama sesuai kebutuhan dan situasi.

Yang perlu dipikirkan bukan bagaimana membuat semua mahasiswa selalu menggunakan bahasa Minang, melainkan bagaimana membuat bahasa tersebut tetap terasa dekat dan tidak asing bagi generasi yang mewarisinya. Kampus memang identik dengan ruang akademik, diskusi, dan kegiatan organisasi. Namun, kampus juga menjadi tempat mahasiswa membangun pertemanan, berbagi cerita, dan menemukan lingkungan sosial baru.

Ruang-ruang santai seperti kantin, selasar fakultas, sekretariat organisasi, atau tempat mahasiswa mengerjakan tugas sebenarnya dapat menjadi ruang sederhana bagi bahasa daerah untuk tetap digunakan. Tidak harus melalui percakapan panjang. Sapaan, candaan, atau ungkapan sehari-hari pun dapat menjadi bagian dari kebiasaan berbahasa. Hal-hal kecil tersebut mungkin tidak langsung terlihat sebagai bentuk pelestarian budaya. Namun, justru penggunaan dalam kehidupan sehari-hari yang membuat sebuah bahasa tetap dekat dengan penuturnya.

Baca Juga  Potret Puncak Penganugerahan Andalas Global Award 2022

Lingkungan kampus juga perlu menjadi ruang yang nyaman bagi mahasiswa yang ingin belajar menggunakan bahasa daerah. Jangan sampai seseorang merasa malu karena logatnya dianggap lucu atau karena belum mampu berbicara dengan lancar. Jika setiap kesalahan dijadikan bahan ejekan, orang tentu akan lebih memilih diam dan menggunakan bahasa yang sudah dikuasainya.

Ada kalanya seseorang merasa tidak cukup Minang hanya karena tidak lancar berbahasa Minang. Padahal, identitas budaya tidak sesederhana kemampuan mengucapkan setiap kata dengan benar. Ada mahasiswa yang tumbuh dalam keluarga yang lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Ada pula yang memahami bahasa Minang, tetapi jarang menggunakannya. Kondisi setiap orang berbeda dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menghakimi.

Justru, bahasa dapat menjadi salah satu jalan untuk kembali mendekatkan diri dengan budaya. Tidak perlu menunggu fasih untuk mulai menggunakannya. Langkah tersebut bisa dimulai dari kata-kata sederhana, bertanya kepada orang tua mengenai arti suatu ungkapan, atau mencoba berbicara dengan teman yang masih nyaman menggunakan bahasa Minang.

Dengan cara itu, bahasa daerah tidak hanya menjadi sesuatu yang kita kenal karena berasal dari daerah yang sama, tetapi juga menjadi bagian dari kebiasaan yang kita jalani. Pada akhirnya, bahasa Minang tidak harus bersaing dengan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, atau bahasa pergaulan lainnya. Setiap bahasa memiliki ruang dan fungsi masing-masing. Tantangannya adalah memastikan bahasa Minang tetap menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa, bukan sekadar sesuatu yang kita ingat ketika pulang kampung.

Menjaga bahasa Minang juga tidak selalu membutuhkan kegiatan besar. Bisa dimulai dari menyapa teman dengan bahasa Minang, membiasakan percakapan kecil, atau tidak merasa malu ketika menggunakannya di lingkungan kampus. Sebab, bahasa tidak akan tetap hidup hanya karena kita bangga memilikinya. Bahasa akan tetap hidup ketika kita masih bersedia menggunakannya.

Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Tag: AspirasiBahasaKampusminangPadang
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Zulaizah)

Penyadapan Presiden, Menguji Supremasi Hukum dan Batas Kekuasaan Aparat Negara

5 November 2026, 22:19 WIB
(Ilusgrafis/Nasywa Luthfiiyah Edfa)

“Stop the Wedding!” dan Ketakutan untuk Menikah

3 November 2026, 18:21 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Ketika Pengalaman Magang Jadi Kedok Buruh Murah

23 Oktober 2026, 20:27 WIB
(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Koa dan Tantangan Pewarisan Budaya Minangkabau

21 September 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Nabil Nur Insani)

Batal Dipecat, Keadilan Dipertanyakan

21 September 2026, 21:59 WIB
Oplus_131072

Di Balik Mimbar dan Meja Guru

17 September 2026, 14:20 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menerka Masa Depan Indonesia Melalui Teori Siklus Polybius

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Kebakaran Hanguskan Sejumlah Ruko Dekat Kampus UNAND, Kerugian Ditaksir Rp3 Miliar

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Ekspedisi Sejarah UNAND Gali Ingatan Kolektif dan Identitas Nagari Balai Tangah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Gentaandalas.com

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak