• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 5 November 2026
Gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Gentaandalas.com
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Di Balik Mimbar dan Meja Guru

oleh Redaksi
17 September 2026, 14:20 WIB
Oplus_131072

Oplus_131072

ShareShareShareShare

Oleh: Periska Wulandari*

Sekolah dan tempat ibadah semestinya menjadi ruang yang memberikan rasa aman bagi tumbuh kembang anak dan remaja. Di sanalah nilai moral ditanamkan, ilmu dibagikan, serta anak belajar mengenali lingkungan dan dirinya. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa ruang-ruang tersebut tidak selalu terbebas dari kekerasan. Belakangan ini, masyarakat kembali dihadapkan pada kasus dugaan kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan pendidikan dan keagamaan. Di Subang, Jawa Barat, ratusan siswa SMAN 1 Pemanukan menggelar aksi demonstrasi untuk menuntut penanganan kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan oknum wakil kepala sekolah dan sejumlah siswi. Di tempat lain, seorang anak mengungkapkan trauma setelah diduga menjadi korban sodomi oleh oknum guru ngajinya hingga merasa takut untuk kembali ke masjid. Kedua peristiwa tersebut menunjukkan persoalan serius mengenai keamanan anak di ruang yang seharusnya memberikan perlindungan

Kedua kasus tersebut tidak hanya dapat dilihat sebagai persoalan perilaku individual, tetapi juga perlu dibaca melalui relasi kuasa yang terbentuk di lingkungan pendidikan. Seorang wakil kepala sekolah maupun guru ngaji berada dalam posisi yang memiliki otoritas lebih besar dibandingkan anak yang mereka ajar. Dalam hubungan semacam ini, anak dapat berada pada posisi yang lebih rentan ketika otoritas tersebut disalahgunakan. Ketimpangan posisi dapat membuat korban merasa takut untuk menolak, berbicara, atau melaporkan tindakan yang dialaminya. Situasi tersebut semakin rumit ketika korban berhadapan dengan ancaman stigma, rasa takut tidak dipercaya, maupun kekhawatiran terhadap konsekuensi yang mungkin muncul setelah laporan disampaikan.

Baca Juga  Media Sosial dan Kemunduran Cara Berpikir Kritis

Persoalan menjadi lebih serius ketika mekanisme perlindungan dan pengaduan tidak mampu memberikan rasa aman kepada korban. Dalam penanganan kasus kekerasan seksual, kepentingan menjaga nama baik lembaga tidak seharusnya ditempatkan di atas keselamatan dan hak korban. Penyelesaian secara “kekeluargaan” juga perlu dipertanyakan ketika pendekatan tersebut justru membuat korban kehilangan akses terhadap penanganan yang semestinya. Aksi yang dilakukan siswa SMAN 1 Pemanukan menunjukkan adanya keresahan terhadap penanganan kasus yang mereka anggap belum memadai. Ketika mekanisme internal belum mampu menjawab keresahan, ruang publik akhirnya menjadi tempat bagi siswa untuk menyampaikan tuntutan mereka.

Keberanian korban maupun siswa untuk bersuara seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman terhadap lembaga. Sebaliknya, suara tersebut perlu menjadi pengingat bahwa keberadaan sekolah dan lembaga pendidikan keagamaan bukan hanya berkaitan dengan proses belajar, tetapi juga tanggung jawab untuk melindungi anak. Ketika seseorang yang memiliki otoritas justru menyalahgunakan posisinya, dampaknya tidak berhenti pada tindakan yang dialami korban. Rasa aman, proses belajar, hubungan sosial, dan kepercayaan anak terhadap figur otoritas juga dapat terganggu. Karena itu, penanganan kasus tidak cukup berhenti pada permintaan maaf atau penyelesaian administratif, tetapi harus memastikan korban mendapatkan perlindungan dan pemulihan.

Langkah konkret perlu dilakukan untuk mencegah kasus serupa sekaligus memastikan laporan kekerasan ditangani dengan serius. Pertama, mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan harus benar-benar berjalan, bukan sekadar menjadi kelengkapan administratif. Tim yang bertugas menangani kekerasan perlu memiliki kapasitas untuk menerima laporan, menjaga kerahasiaan korban, dan memastikan proses penanganan tidak dipengaruhi oleh kepentingan untuk mempertahankan citra lembaga. Kedua, lembaga pendidikan keagamaan nonformal juga perlu memiliki mekanisme pengawasan dan pengaduan yang jelas. Anak harus mengetahui kepada siapa mereka dapat melapor ketika mengalami atau menyaksikan kekerasan.

Baca Juga  Apa Kabar Pemira KM Unand 2022? Sebuah Tinjauan Kritis

Selain mekanisme pengaduan, pendidikan mengenai batas tubuh, persetujuan, dan hak anak untuk mengatakan tidak juga penting diberikan sejak dini. Anak perlu memahami bahwa status sebagai murid, santri, atau peserta didik tidak berarti mereka harus menerima perlakuan apa pun dari orang yang memiliki otoritas. Pada saat yang sama, orang tua, guru, pengelola lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu memiliki pemahaman yang sama bahwa laporan anak harus didengarkan dan ditindaklanjuti secara serius.

Ruang aman tidak tercipta hanya karena sebuah sekolah memiliki aturan atau sebuah tempat ibadah dikenal sebagai tempat yang mengajarkan nilai moral. Rasa aman dibangun melalui sistem yang mampu mencegah kekerasan, menerima laporan, melindungi korban, dan memberikan konsekuensi terhadap pelanggaran sesuai ketentuan yang berlaku. Ketika otoritas disalahgunakan, yang perlu dipertahankan bukan sekadar nama baik lembaga, melainkan keselamatan dan hak anak. Karena itu, suara korban tidak boleh kembali tenggelam di balik meja guru, mimbar, maupun tembok lembaga yang seharusnya melindungi mereka.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas

BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Zulaizah)

Penyadapan Presiden, Menguji Supremasi Hukum dan Batas Kekuasaan Aparat Negara

5 November 2026, 22:19 WIB
(Ilusgrafis/Nasywa Luthfiiyah Edfa)

“Stop the Wedding!” dan Ketakutan untuk Menikah

3 November 2026, 18:21 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Ketika Pengalaman Magang Jadi Kedok Buruh Murah

23 Oktober 2026, 20:27 WIB
(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Koa dan Tantangan Pewarisan Budaya Minangkabau

21 September 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Nabil Nur Insani)

Batal Dipecat, Keadilan Dipertanyakan

21 September 2026, 21:59 WIB
(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Ketika Bahasa Minang Mulai Canggung di Lidah Gen Z

19 September 2026, 23:58 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menerka Masa Depan Indonesia Melalui Teori Siklus Polybius

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Kebakaran Hanguskan Sejumlah Ruko Dekat Kampus UNAND, Kerugian Ditaksir Rp3 Miliar

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Ekspedisi Sejarah UNAND Gali Ingatan Kolektif dan Identitas Nagari Balai Tangah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Gentaandalas.com

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak