• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Minggu, 20 September 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Erupsi Bersamaan, Kebetulan atau Peringatan Alam

oleh Redaksi
13 September 2026, 16:14 WIB
(Ilustrasi/Hadid Jailani Latif Utama)

(Ilustrasi/Hadid Jailani Latif Utama)

ShareShareShareShare

Oleh: M. Dhiaurrahman Alfatih*

Indonesia kembali diuji oleh alam. Di tengah aktivitas vulkanik yang terus berlangsung, data MAGMA Indonesia per 7 September 2026 mencatat terdapat 27 gunung api di Indonesia yang aktivitasnya berada di atas kondisi normal. Lima di antaranya bahkan berada pada status Level III atau Siaga. Fenomena ini menjadi semakin menarik perhatian setelah sejumlah gunung api seperti Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, Lewotobi Laki-laki, dan Gunung Ibu menunjukkan aktivitas erupsi dalam waktu yang berdekatan.

Setidaknya enam gunung api di berbagai wilayah tercatat aktif dan mengalami erupsi hampir bersamaan, seperti Anak Krakatau di Selat Sunda, Semeru di Jawa Timur, Ili Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, serta Gunung Ibu di Maluku Utara. Fenomena ini bukan sekadar catatan geologis biasa, melainkan peringatan keras tentang posisi Indonesia yang berdiri tepat di atas Cincin Api Pasifik, jalur pertemuan lempeng tektonik paling aktif di dunia.

Puncaknya terjadi pada 6 September 2026. Berdasarkan berita RRI.co.id, empat gunung meletus pada hari yang sama. Abu vulkanik menyebar luas hingga mencapai Banten, Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu. Dampaknya langsung terasa di sektor transportasi udara. Puluhan jadwal penerbangan di Bandara Juanda dan sejumlah bandara lain terpaksa dibatalkan demi keselamatan penumpang. Warga di kawasan rawan pun diminta waspada terhadap potensi lahar dingin, hujan abu, dan gas vulkanik berbahaya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta MAGMA Indonesia, status masing-masing gunung bervariasi antara Waspada hingga Siaga. Anak Krakatau, misalnya, mencatat erupsi eksplosif dengan kolom abu yang teramati menjulang ke udara, sementara Semeru terus menunjukkan aktivitas guguran awan panas yang menjadi karakter khasnya selama beberapa tahun terakhir. Di sisi timur, Lewotobi Laki-laki dan Ili Lewotolok juga tak kalah aktif, dengan sebaran abu yang mengganggu aktivitas warga sekitar.

Baca Juga  Banjir Semakin Meluas, UNAND Buka Posko Keamanan

Berdasarkan berita Tutur.co.id, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, dalam keterangannya menyampaikan bahwa sebaran abu vulkanik dari beberapa titik erupsi memang berpotensi meluas mengikuti arah angin. Oleh karena itu, masyarakat di luar radius bahaya pun tetap perlu waspada terhadap gangguan pernapasan dan jarak pandang, terutama bagi penerbangan.

Muncul pertanyaan, “Apakah erupsi yang terjadi hampir bersamaan ini murni kebetulan, ataukah ada keterkaitan aktivitas tektonik yang lebih luas?” Secara ilmiah, para vulkanolog umumnya menekankan bahwa setiap gunung api memiliki dapur magma dan siklus erupsi masing-masing yang independen satu sama lain. Anak Krakatau, Semeru, hingga gunung-gunung di NTT dan Maluku Utara berada di jalur segmen lempeng yang berbeda-beda, sehingga secara teknis erupsi serentak ini lebih tepat disebut sebagai kebetulan waktu (coincidence in timing) ketimbang satu rangkaian sebab-akibat tunggal.

Namun demikian, sejumlah pengamat kebencanaan mengingatkan bahwa kebetulan semacam ini tetap patut menjadi perhatian serius. Indonesia memiliki lebih dari 120 gunung api aktif, dan posisi geografisnya di pertemuan tiga lempeng besar dunia menjadikan potensi aktivitas vulkanik yang tumpang tindih sebagai risiko struktural, bukan anomali sesaat.

Erupsi serentak ini menjadi ujian nyata bagi sistem peringatan dini dan koordinasi lintas lembaga di Indonesia, mulai dari PVMBG, BMKG, hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ketika bencana terjadi di banyak titik dalam waktu bersamaan, tantangan koordinasi menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan menangani satu titik bencana saja. Distribusi sumber daya, evakuasi warga, hingga penyampaian informasi yang akurat ke publik harus berjalan simultan di berbagai wilayah yang berjauhan secara geografis.

Baca Juga  Ketika Bantuan Asing Lebih Dulu Mengetuk Pintu NTT

Sejauh ini, respons pemerintah melalui penetapan status siaga dan imbauan evakuasi di radius berbahaya patut diapresiasi. Namun, efektivitas jangka panjang dari sistem mitigasi bencana vulkanik Indonesia masih perlu dievaluasi, terutama menyangkut kecepatan penyebaran informasi ke masyarakat di daerah terpencil serta kesiapan infrastruktur evakuasi di kawasan rawan bencana.

Fakta bahwa Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik bukanlah hal baru. Namun, ketika beberapa gunung api menunjukkan aktivitas erupsi dalam waktu yang berdekatan, fenomena tersebut seharusnya menjadi momentum untuk menguji kembali kesiapan sistem mitigasi bencana nasional. Pertanyaannya bukan hanya seberapa cepat informasi mengenai erupsi disampaikan, tetapi juga seberapa efektif informasi tersebut diterjemahkan menjadi tindakan ketika ancaman datang dari berbagai wilayah pada waktu yang hampir bersamaan. Sebab, kesiapsiagaan tidak cukup berhenti pada pemantauan dan peringatan saja, tetapi juga harus memastikan masyarakat memahami risiko serta memiliki kemampuan untuk meresponsnya.

Erupsi serentak bulan September ini mungkin memang kebetulan geologis. Namun, kesiapan dan ketegasan kebijakan dalam meresponsnya bukanlah sesuatu yang boleh dibiarkan menjadi kebetulan pula.

Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Andalas

Tag: #Cincin Api Pasifik#Erupsi#Gunung Api#Mitigasi Bencanabencana alam
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Ketika Bahasa Minang Mulai Canggung di Lidah Gen Z

19 September 2026, 23:58 WIB
Oplus_131072

Di Balik Mimbar dan Meja Guru

17 September 2026, 14:20 WIB
(Ilustrasi/Amanda)

Privilege bagi Masyarakat Dayak: Keadilan atau Perlakuan Khusus?

16 September 2026, 21:00 WIB
(Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

Menagih Paru-Paru Anak di Tengah Dapur yang Harus Tetap Ngebul

15 September 2026, 21:28 WIB
(Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

Berani Cerdas: Saat Sulteng Memilih Pendidikan daripada Popularitas

15 September 2026, 21:02 WIB
(Ilustrasi/Hadid Jailani Latif Utama)

Ketika Bantuan Asing Lebih Dulu Mengetuk Pintu NTT

15 September 2026, 19:17 WIB

TERPOPULER

  • (Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

    Berani Cerdas: Saat Sulteng Memilih Pendidikan daripada Popularitas

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Tradisi Kadaghek: Kerukunan Dalam Budaya Mengantar Jenazah Suku Minang di Tanjung Barulak

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Tak Sekadar Dibuang, Eco Expo 2026 Bahas Nasib Sampah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Spider-Man: Brand New Day, Babak Baru Peter Parker

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak