• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Minggu, 20 September 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Berita Feature

Tradisi Kadaghek: Kerukunan Dalam Budaya Mengantar Jenazah Suku Minang di Tanjung Barulak

oleh Redaksi
30 Juni 2024, 20:21 WIB
ShareShareShareShare
(Ilustrasi/ Vivi Sriani)

oleh: Vivi Sriani

Kadaghek adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat di Nagari Tanjung Barulak, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Tradisi ini merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada orang yang telah meninggal.

Sebelum melakukan tradisi Badaghek ada serangkaian prosesi yang dilewati. Ketika ada warga yang meninggal maka salah seorang dari warga akan membunyikan alat khusus yang disebut dengan “tontonan.” Maka seketika penduduk akan datang menuju rumah gadang. Di sana penduduk akan memberikan salam dan penghormatan terakhir pada jenazah.

Bunyi tontonan juga memiliki makna tertentu berdasarkan jumlah bunyi ketukan tontonan. Misalnya, bunyi tontonan satu kali ketukan untuk anak kecil dan tiga kali ketukan untuk orang dewasa.

Setiap kampung atau suku memiliki tontonan mereka sendiri. Di Nagari Tanjung Barulak, tontonan terbuat dari kayu yang dilobangi dan diletakkan di tempat tinggi agar bunyinya biskaa terdengar oleh seluruh masyarakat. Matan

Contoh lainnya, di daerah tertentu, bunyi tontonan bisa berbeda-beda, seperti lonceng atau t lainnya. Dengan adanya tradisi Kadaghek masyarakat dapat memberikan penghormatan terakhir kepada yang meninggal dan memberikan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Iswandri menjelaskan terkait dengan tradisi Kadaghek di Tanjung Barulak yang memiliki sebutan masing-masing di setiap prosesnya. Pertama, setelah tontonan berbunyi, kerabat dekat akan datang ke rumah duka, ini disebut dengan takojuik maambui. Kemudian, setelah itu, masyarakat atau kerabat akan datang dengan membawa beras di piring atau pinggan proses ini disebut dengan manjonguak sakali. Hal ini dilakukan sebagai bentuk dukungan dan penghormatan terhadap keluarga yang sedang berduka.

Baca Juga  Mahasiswa KKN UNAND Olah Limbah Rumah Tangga Jadi Pupuk dan Pestisida Organik

Setelah mayat dikubur, dunsanak (kerabat) akan datang lagi disebut dengan manjonguak. Ini menunjukkan bahwa dukungan dan perhatian terhadap keluarga yang berduka tidak berhenti setelah proses pemakaman selesai. Terakhir, ada istilah mandua ari yang merupakan sebutan untuk manjonguak kembali setelah mayat dikuburkan. Ini menunjukkan bahwa tradisi dan adat istiadat dalam masyarakat Minangkabau sangat penting dan dijunjung tinggi, serta menunjukkan solidaritas dan kebersamaan dalam momen-momen sulit seperti kematian.

“Pada acara Manduo Ari, mereka yang memiliki hubungan kekerabatan dekat seperti menantu, bako (keluarga dari ayah), ande (keluarga dari pihak ibu), dan dunsanak (saudara) membawa pelang besar berisi beras, makanan, dan sambal (lauk pauk). Kini, isi pelang berubah menjadi bahan mentah seperti telur, gula, dan minyak. Secara filosofis, hal ini bertujuan untuk membantu keluarga di rumah duka,” ungkap Iswandri saat diwawancarai Genta Andalas lada Minggu (23/6/2024).

Kadaghek dilakukan oleh masyarakat Tanjung Barulak pagi subuh setelah jenazah dikubur. Kaum laki-laki datang ke kuburan setelah sholat subuh. Bagi yang sholat di mesjid biasanya akan langsung ke kuburan. Tuan rumah akan menyiapkan pencahayaan di pekuburan saat melakukan tradisi Kadaghek. Ketika zaman belum ada listrik Iswandiri menceritakan orang- orang akan menggunakan lampu srongkeng (stormking).

Iswandri menjelaskan bahwa tradisi keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat Nagari Tanjung Barulak tersebut melewati beberapa prosesi. Pada pagi hari, laki-laki di nagari berkumpul untuk melakukan kegiatan kadaghek. Mereka membawa uang seikhlasnya dan dimasukkan ke dalam wadah yang berisi daun sirih. Sirih ini kemudian disebar di sekitar kuburan.

Baca Juga  Potret Semarak Festival Pesona Pariangan Nagari Terindah

Setelah matahari mulai terbit, orang-orang yang hadir akan meminta maaf kepada keluarga almarhum begitu juga pihak keluarga akan memintakan permohonan maaf untuk almarhum. “Mereka akan diberikan kesempatan untuk memaafkan almarhum dengan cara menjawab pertanyaan yang diajukan oleh perwakilan yang hadir. Jika mereka semua setuju, mereka akan bersama-sama mengatakan “kami telah memaafkannya,” ungkap Iswandri saat di wawancara Genta Andalas, (Minggu,23/06/2024).

Setelah selesai prosesi Kadaghek maka seseorang yang meninggal dunia akan diberikan gelar adat pengganti yang akan diumumkan setelah musyawarah keluarga selesai. Kemudian, orang yang disebut sipangka (Laki- laki dari pihak keluarga almarhum yang mengurus acara Kadaghek) akan meminta kepada yang datang untuk membacakan doa untuk almarhum. Setelah kegiatan kadaghek selesai, orang-orang mulai meninggalkan tempat pemakaman satu per satu.

“Bagi sipangka dan dunsanak lainnya, diharapkan untuk singgah ke rumah duka karena di sana telah disiapkan makan pagi dari makanan yang dibawa oleh ibu-ibu atau induak-induak saat prosesi pemakaman,. Makanan yang disajikan biasanya berupa dadar telur, sambal, dan sayur bening,” ujar Iswandri . Setelah makan pagi, kegiatan Kadaghek berakhir.

*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Andalas 

 

Tag: Tanah DatarTanjung BarulakTanjung EmasTradisi Kadaghek
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Ketika Bahasa Minang Mulai Canggung di Lidah Gen Z

19 September 2026, 23:58 WIB
(Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

Menagih Paru-Paru Anak di Tengah Dapur yang Harus Tetap Ngebul

15 September 2026, 21:28 WIB
(Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

Berani Cerdas: Saat Sulteng Memilih Pendidikan daripada Popularitas

15 September 2026, 21:02 WIB
(Ilustrasi/Jihan Aurelia Syabandini)

Volume Kendaraan Meningkat, Kemacetan Terjadi di Sejumlah Ruas Jalan UNAND

14 September 2026, 15:56 WIB
(Ilustrasi/Jihan Aurelia Syabandini)

Parkir Padat dan Tak Teratur Jadi Persoalan di Lingkungan UNAND

13 September 2026, 01:06 WIB
(Ilusgrafis/Amanda)

Di Tengah Ancaman Bencana, Anggaran BNPB Justru Menyusut

12 September 2026, 23:44 WIB

TERPOPULER

  • (Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

    Berani Cerdas: Saat Sulteng Memilih Pendidikan daripada Popularitas

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Tradisi Kadaghek: Kerukunan Dalam Budaya Mengantar Jenazah Suku Minang di Tanjung Barulak

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Tak Sekadar Dibuang, Eco Expo 2026 Bahas Nasib Sampah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Spider-Man: Brand New Day, Babak Baru Peter Parker

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak