• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 5 November 2026
Gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Gentaandalas.com
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Keresahan Mahasiswa di Balik Ancaman Reformasi Jilid II

oleh Redaksi
21 Juni 2026, 23:40 WIB
(Ilustrasi/Syifa Alifah)

(Ilustrasi/Syifa Alifah)

ShareShareShareShare

Oleh: Syifa Alifah*

Pada Minggu, 7 Juni 2026, berdasarkan unggahan Instagram resmi @bem_si, Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Jawa Tengah memberikan ultimatum kepada pemerintah dengan tenggat waktu selama 18 hari untuk mengambil langkah konkret dalam memperbaiki kondisi ekonomi nasional dan menguatkan nilai tukar rupiah. Mahasiswa menyatakan bahwa apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi dalam batas waktu yang telah ditetapkan, mereka akan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran Reformasi Jilid II. Seruan itu kemudian menjadi perhatian publik karena dinilai mencerminkan keresahan mahasiswa terhadap kondisi ekonomi yang semakin membebani masyarakat.

Di balik ancaman tersebut, terdapat kegelisahan yang dirasakan generasi muda terhadap berbagai persoalan yang terjadi saat ini. Melemahnya nilai tukar rupiah, meningkatnya biaya hidup, serta ketidakpastian terhadap masa depan menjadi kekhawatiran yang nyata, terutama bagi mahasiswa yang akan segera memasuki dunia kerja. Mereka dihadapkan pada persaingan kerja yang semakin ketat, lapangan pekerjaan yang terbatas, serta tuntutan untuk tetap mampu memenuhi kebutuhan hidup di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Kritik yang mereka sampaikan bukan sekadar bentuk ketidakpuasan, tetapi juga harapan agar pemerintah lebih peka terhadap kondisi yang dirasakan masyarakat.

Di tengah berbagai tuntutan yang disampaikan mahasiswa, respons dari pemerintah pun akhirnya muncul. Dilansir dari CNN Indonesia pada 9 Juni 2026, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut pemerintah menerima ultimatum tersebut sebagai bentuk aspirasi masyarakat dan menegaskan bahwa berbagai upaya untuk memperbaiki kondisi ekonomi terus dilakukan. Namun, ia juga menilai bahwa persoalan ekonomi tidak dapat diselesaikan hanya dalam tenggat waktu tertentu, meskipun semangat mahasiswa dalam menyuarakan kepentingan publik tetap perlu dihargai.

Baca Juga  Erupsi Bersamaan, Kebetulan atau Peringatan Alam

Meski demikian, respons pemerintah tidak seharusnya berhenti pada tahap menerima dan memahami aspirasi mahasiswa semata. Tenggat waktu 18 hari yang diberikan BEM SI Jawa Tengah bukanlah batas waktu biasa yang dapat dianggap sebagai bentuk tekanan sesaat. Batas waktu tersebut merupakan alarm keras yang menunjukkan bahwa tingkat kekhawatiran masyarakat, khususnya mahasiswa, sudah berada pada titik yang perlu mendapat perhatian serius. Ketika generasi muda mulai meragukan masa depan mereka akibat kondisi ekonomi yang tidak menentu, pemerintah perlu hadir dengan langkah yang lebih nyata dan terukur.

Mahasiswa tidak menuntut perubahan yang mustahil dalam waktu singkat. Namun, mereka membutuhkan bukti bahwa suara yang disampaikan benar-benar didengar melalui kebijakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat. Transparansi mengenai langkah yang akan diambil pemerintah, komunikasi yang terbuka, serta upaya konkret dalam menjaga stabilitas ekonomi dapat menjadi bentuk respons yang mampu membangun kembali kepercayaan publik. Jika pemerintah hanya sebatas menerima kritik tanpa menunjukkan tindak lanjut yang jelas, keresahan yang ada berpotensi berubah menjadi kekecewaan yang lebih besar.

Selain itu, pemerintah perlu memahami bahwa keresahan mahasiswa tidak muncul secara tiba-tiba. Mereka merupakan kelompok yang akan merasakan dampak jangka panjang dari setiap kebijakan yang diambil saat ini. Ketika peluang kerja semakin sempit, daya beli masyarakat menurun, dan kondisi ekonomi belum menunjukkan kepastian, wajar jika muncul kekhawatiran terhadap masa depan. Oleh karena itu, aspirasi yang disampaikan mahasiswa seharusnya tidak dipandang sebagai bentuk perlawanan semata, melainkan sebagai pengingat bahwa generasi muda membutuhkan jaminan harapan dan kepastian untuk menatap masa depan dengan lebih optimistis.

Baca Juga  Ketika Meme Membuat Para Pejabat Tidak Lagi DiSakralkan

Meski demikian, penggunaan istilah Reformasi Jilid II juga perlu disikapi secara bijak. Reformasi 1998 merupakan bagian penting dalam sejarah Indonesia yang lahir dari krisis di berbagai sektor dan meninggalkan banyak pelajaran bagi bangsa ini. Karena itu, narasi Reformasi Jilid II sebaiknya dipahami sebagai peringatan keras agar pemerintah tidak menutup telinga terhadap kritik, bukan sebagai ajakan untuk menciptakan kekacauan.

Pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan sekadar pertentangan antara pemerintah dan mahasiswa, melainkan kesediaan semua pihak untuk saling mendengar dan mencari solusi bersama. Mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, sementara pemerintah memiliki tanggung jawab untuk merespons aspirasi publik dengan langkah yang nyata. Sebab, keresahan yang terus diabaikan hanya akan memperbesar kekecewaan masyarakat. Jika tidak ditangani dengan baik, ancaman Reformasi Jilid II bisa berubah dari sekadar peringatan menjadi gelombang protes yang lebih besar. Suara mahasiswa tidak cukup hanya didengar, tetapi juga perlu dijawab melalui perubahan yang dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Andalas

Tag: #Reformasi Jilid IIBEM SIMahasiswa
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Zulaizah)

Penyadapan Presiden, Menguji Supremasi Hukum dan Batas Kekuasaan Aparat Negara

5 November 2026, 22:19 WIB
(Ilusgrafis/Nasywa Luthfiiyah Edfa)

“Stop the Wedding!” dan Ketakutan untuk Menikah

3 November 2026, 18:21 WIB
(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Ketika Pengalaman Magang Jadi Kedok Buruh Murah

23 Oktober 2026, 20:27 WIB
(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Koa dan Tantangan Pewarisan Budaya Minangkabau

21 September 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Nabil Nur Insani)

Batal Dipecat, Keadilan Dipertanyakan

21 September 2026, 21:59 WIB
(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Ketika Bahasa Minang Mulai Canggung di Lidah Gen Z

19 September 2026, 23:58 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menerka Masa Depan Indonesia Melalui Teori Siklus Polybius

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Kebakaran Hanguskan Sejumlah Ruko Dekat Kampus UNAND, Kerugian Ditaksir Rp3 Miliar

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Ekspedisi Sejarah UNAND Gali Ingatan Kolektif dan Identitas Nagari Balai Tangah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Gentaandalas.com

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak