Oleh: Raza Altamis Fikri*
Steven Spielberg kembali hadir dengan karya terbarunya yang berjudul Disclosure Day. Tema luar angkasa dan alien pun kembali dipilih oleh sutradara kawakan satu ini. Film ini menjadi karya ke-37 Steven Spielberg sepanjang kariernya dalam dunia perfilman dan menjadi film bergenre fiksi ilmiahnya yang ke-10. Film ini sendiri diproduksi oleh Amblin Entertainment bersama Universal Pictures dan bakal memulai penayangannya secara global pada 12 Juni 2026, sedangkan di Indonesia telah ditayangkan terlebih dahulu pada 10 Juni lalu.
Disclosure Day menceritakan tentang seorang ahli keamanan siber bernama Daniel Kellner (Josh O’Connor) yang bekerja untuk Wardex, sebuah perusahaan besar dan berpengaruh. Suatu ketika, Daniel terlibat dalam situasi yang membuatnya mempertanyakan berbagai hal yang selama ini ia yakini. Dalam proses mencari jawaban, ia bertemu dengan Hugo (Colman Domingo), sosok yang memiliki keterkaitan dengan Wardex. Bersama-sama, mereka terlibat dalam serangkaian peristiwa yang membawa mereka semakin dekat pada sebuah rahasia besar yang berpotensi mengubah banyak hal. Namun, langkah mereka tidak berjalan mulus karena mereka harus berhadapan dengan Pemimpin Wardex, Noah Scanlon (Colin Firth). Di tengah situasi tersebut, orang-orang terdekat Daniel, seperti kekasihnya Jane (Eve Hewson) dan seorang penyiar televisi bernama Margaret (Emily Blunt), turut terlibat dalam pusaran konflik yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Tentu saja, Steven Spielberg kembali mengangkat tema tentang alien di dalam filmnya. Tetapi, berbeda dengan rumus kebanyakan film lainnya, yaitu tentang bagaimana mengalahkan alien, film ini justru mengambil pendekatan yang berbeda. Steven justru mengambil jalur reflektif, yaitu menggali sisi paling gelap dari manusia, yaitu ketamakan. Film ini tidak hanya berbicara mengenai kemungkinan adanya kehidupan di luar bumi, tetapi juga mengajak penonton untuk mempertanyakan bagaimana manusia menyikapi informasi, kekuasaan, serta rasa takut terhadap sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami.
Salah satu hal yang patut dipuji dari film ini adalah kemampuan akting dari para aktor dan aktrisnya. Salah satunya yaitu Emily Blunt yang memerankan penyiar televisi bernama Margaret. Memang, jam terbang tidak pernah bohong. Kemampuan dari sang aktris dalam mengolah berbagai emosi dalam tokoh Margaret ini terbilang mengesankan. Terdapat adegan bagaimana Margaret mengucapkan berbagai hal yang random tetapi justru ia berpusat pada satu hal, yaitu kebingungan. Selain itu, bagaimana cara sang sutradara dalam membangun suasana cerita juga patut diapresiasi. Mulai dari teknik pengambilan gambar, penataan musik, hingga dialog dari setiap pemeran sukses membangun suasana cerita yang pas terhadap kehidupan manusia yang selalu dipenuhi intrik-intrik dan kebohongan.
Dengan durasi sepanjang 147 menit atau 2 jam 27 menit, para penonton pada awal cerita mungkin akan merasa bosan karena pengenalan karakter yang terasa lambat. Padatnya dialog dan adegan-adegan di awal film yang hanya berpusat pada Daniel Kellner membuat awal film ini terasa membosankan. Sedangkan, karakter Margaret yang diperankan oleh Emily Blunt baru diperkenalkan menuju babak kedua dari film.
Film yang mengangkat cerita alien seperti ini tentu akan menimbulkan perdebatan, baik di kalangan ilmuwan maupun para pemburu alien dan UFO. Tetapi, pada akhirnya film ini tidak hanya menawarkan ketegangan, tetapi juga menghadirkan ruang refleksi bagi para penontonnya. Film ini mengajak kita untuk memikirkan kembali bagaimana manusia merespons sesuatu yang berbeda, menghadapi ketidakpastian, serta mempertimbangkan batas antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama. Seperti tagline pada poster film ini yaitu “Kita berhak untuk tahu,” film ini seolah mengingatkan bahwa setiap informasi yang berkaitan dengan kepentingan publik seharusnya dapat diakses oleh semua orang.
*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas







