• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, 1 Agustus 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aneka Ragam Resensi

Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

oleh Redaksi
14 Juni 2026, 21:17 WIB
(Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

(Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

ShareShareShareShare

Oleh: Nabil Nur Insani*

Tiga tahun berlalu sejak petualangan mencekam di Gunung Madyopuro, geng Sekawan Limo kini kembali ke layar lebar lewat Sekawan Limo 2: Gunung Klawih yang mulai tayang pada 27 Mei 2026. Disutradarai sekaligus dibintangi oleh Bayu Skak, film produksi Starvision Plus dan Skak Studios ini hadir dengan tawaran yang lebih besar dari pendahulunya yaitu lebih gelap, lebih emosional, dan lebih berani menyentuh isu sosial yang membekas.

Cerita bermula tiga tahun setelah peristiwa di film pertama. Bagas (Bayu Skak), Lenni (Nadya Arina), Juna (Benidictus Siregar), Andrew (Indra Pramujito), dan Dicky (Firza Valaza) kembali berkumpul untuk merayakan ulang tahun anak Andrew. Namun, momen bahagia itu mendadak berubah menjadi mimpi buruk ketika masa lalu kelam ayah Andrew menghantui mereka.

Dikisahkan bahwa sang ayah pernah memilih jalan pintas melalui pesugihan demi mengubah nasib keluarganya yang hidup dalam kesulitan pasca-Kerusuhan 1998. Terdesak keadaan dan ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik secara cepat, ia tergoda melakukan ritual mistis tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjangnya. Keputusan itu kini menjadi bumerang dengan ada tumbal yang harus dibayar, dan kutukan tersebut mengancam nyawa Andrew, istri, serta anaknya. Inilah yang memaksa Bagas dan kawan-kawannya mendaki Gunung Klawih untuk mencari cara memutus perjanjian mistis yang dibuat sang ayah sebelum semuanya terlambat.

Baca Juga  Menilik Sisi Negatif Filter Bubble dalam Algoritme Penyediaan Informasi

Kekuatan terbesar film berdurasi 122 menit ini tetap terletak pada chemistry para pemainnya. Umpatan dalam bahasa Jawa yang terdengar lebih seperti ungkapan keakraban ketimbang makian justru menjadi pengikat dinamika persahabatan yang terasa hidup dan menggelitik. Ikatan yang sudah terbangun sejak film pertama semakin matang di sini, sehingga kelucuan yang muncul tidak pernah terasa dipaksakan, melainkan tumbuh alami dari karakter masing-masing. Penampilan pendukung dari Ferry Salim, Cak Kartolo sebagai Dukun Kartolo, hingga Gisella Anastasia turut memperkaya dinamika cerita.

Dari sisi teknis, sinematografi berhasil membangun nuansa pegunungan yang misterius dan mencekam. Pemilihan latar, tata cahaya, serta efek suara bekerja bersama menciptakan atmosfer horor yang intens. Perpindahan antara ketegangan dan humor pun terasa cukup seimbang, menjaga penonton tetap terlibat sepanjang cerita.

Namun, di balik semua kelebihannya, Sekawan Limo 2 tidak luput dari kelemahan yang cukup mengganggu. Beberapa bagian alur terasa mudah ditebak, terutama pada babak pertengahan yang seharusnya menjadi titik paling menegangkan.

Baca Juga  Menilik Literasi dan Minat Bayar Pajak Masyarakat

Yang lebih disayangkan, latar belakang keputusan ayah Andrew yang berkaitan dengan trauma Kerusuhan 1998 sebenarnya menyimpan potensi dramatis yang sangat kuat, tetapi film tidak menggalinya secara lebih dalam. Konteks sejarah yang berat itu hanya menjadi latar belakang, bukan kekuatan naratif yang sesungguhnya. Akibatnya, motivasi sang ayah terasa kurang memiliki bobot emosional bagi penonton, sehingga urgensi misi penyelamatan yang diemban Bagas dan kawan-kawan pun kurang mencapai kedalaman yang seharusnya bisa diraih.

Meski demikian, Sekawan Limo 2: Gunung Klawih tetap merupakan sekuel yang lebih dari sekadar layak tonton. Film ini berani mengangkat kisah tentang konsekuensi keputusan yang diambil dalam keputusasaan dan menyajikan pengalaman sinema yang lebih emosional dibanding film pertamanya. Setelah film ini usai, penonton tidak akan mudah melupakan pertanyaan yang ditinggalkannya yaitu seberapa jauh seseorang rela pergi demi mengubah nasib, dan warisan apa yang sesungguhnya ditinggalkan untuk generasi berikutnya?

*Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas

Tag: #Resensi Film#Sekawan Limo 2film
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Poster film The Odyssey/Wikipedia

The Odyssey: Perjalanan Pulang yang Penuh Rintangan

31 Juli 2026, 23:11 WIB
Poster film Obsession/TMDB

Obsession: Ketika Kamu “Dipelet” Cowok Insecure

21 Juli 2026, 21:26 WIB
(Poster Film 402 Rumah Sakit Angker Korea/Facebook MD Pictures)

Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

15 Juli 2026, 18:23 WIB
Poster film Toy Story 5/Disney Indonesia

Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

3 Juli 2026, 13:09 WIB
(Poster Film Cerita Lila/Facebook Moviezy)

Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

30 Juni 2026, 18:08 WIB
Poster film Pesta Babi

Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

25 Mei 2026, 21:22 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Sumbang Duo Baleh, Kode Etik dalam Kebudayaan Minangkabau

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Obsession: Ketika Kamu “Dipelet” Cowok Insecure

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • LBH Padang Soroti Dugaan Kekerasan Negara dan Impunitas pada Peringatan Hari Anti Penyiksaan Internasional

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Setahun Pascakebakaran, Gedung Jati FKM UNAND Masih Terbangkalai

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak