Oleh: Kesih Rianti
“Percuma kita di bawah naungan merah putih, ternyata merah putih tidak lindungi kami dan tidak anggap kami sebagai rakyatnya.” Kutipan ini menjadi salah satu dialog paling membekas dalam film dokumenter Pesta Babi. Film investigatif garapan Dandhy Laksono dan antropolog Cypri Paju Dale ini mengangkat ancaman terhadap hutan adat dan kehidupan masyarakat Papua Selatan akibat proyek skala besar negara. Sebuah dokumenter yang tidak hanya menyentuh, tetapi juga memperlihatkan bagaimana suara perjuangan masyarakat Papua Selatan selama ini nyaris tidak terdengar.
Film ini dibuka dengan adegan yang sulit dilupakan. Sebuah salib merah dari kayu besi rawa sepanjang 17 meter didirikan sebagai bentuk perlawanan terhadap penghancuran hutan di Papua Selatan, tanpa melukai siapa pun. Dari sana, cerita mulai membawa penonton mengenal suku-suku yang terdampak, seperti Marind, Awyu, Yei, dan Muyu. Di setiap kisah, pola yang sama terus berulang, hutan ditebang, tanah adat berpindah tangan, dan masyarakat yang selama ratusan tahun hidup bergantung pada hutan tidak pernah benar-benar dimintai persetujuan.
Penamaan Pesta Babi sendiri berasal dari tradisi ritual suku Muyu bernama Awon Atatbon, sebuah pesta adat besar yang melibatkan perburuan babi hutan di kawasan hutan leluhur. Bagi suku Muyu, babi hutan bukan sekadar hewan buruan, melainkan simbol kemakmuran, kehormatan, dan hubungan manusia dengan alam. Ketika hutan ditebang, tradisi itu ikut menghilang. Bersamaan dengan itu, musnah pula identitas, nilai, dan warisan budaya yang telah hidup selama berabad-abad. Melalui metafora tersebut, film ini menegaskan bahwa yang terjadi di Papua Selatan bukan hanya kerusakan lingkungan, tetapi juga ancaman terhadap sebuah peradaban.
Film ini memiliki banyak keunggulan. Secara visual, Pesta Babi berhasil membangun kontras yang kuat antara rimbunnya hutan Papua dan hamparan tanah merah yang telah dikeruk ekskavator. Tanpa perlu banyak narasi, gambar-gambar tersebut sudah cukup menunjukkan besarnya skala kerusakan yang terjadi. Film ini juga menghadirkan data, peta konsesi, serta analisis struktur kekuasaan secara visual, sehingga penonton dapat memahami bagaimana sistem itu bekerja. Pendekatan tersebut membuat dokumenter ini terasa kuat secara emosional sekaligus serius secara intelektual.
Keunggulan lain terletak pada cara film ini memperlakukan masyarakat adat sebagai subjek utama. Wawancara dilakukan dengan penuh rasa hormat dan memberi ruang bagi warga untuk berbicara dengan cara mereka sendiri, tanpa terasa diarahkan demi kepentingan narasi tertentu. Pendekatan ini menjadikan Pesta Babi bukan sekadar dokumenter investigatif, tetapi juga ruang bagi suara-suara yang selama ini jarang sampai ke publik nasional.
Meski begitu, film ini juga memiliki kekurangan. Keberpihakan narasinya terasa sangat terang-terangan. Film tidak menghadirkan suara dari pemerintah, pihak proyek, ataupun akademisi dengan pandangan berbeda, sehingga penonton hanya melihat satu sisi persoalan. Padahal, kehadiran perspektif yang berlawanan bisa membuat argumen film ini terasa lebih kuat dan memberi ruang bagi penonton untuk menilai sendiri.
Selain itu, film ini kurang berhasil menjangkau penonton awam. Beberapa bagian terasa lebih nyaman berbicara kepada mereka yang sudah familiar dengan isu Papua Selatan. Penonton yang baru pertama kali mengenal persoalan ini mungkin akan merasa tertinggal sebelum benar-benar memahami urgensi yang ingin disampaikan. Seharusnya ada jembatan narasi yang lebih sederhana agar pesan film dapat diterima lebih luas.
Secara keseluruhan, Pesta Babi adalah film yang layak disaksikan dan didiskusikan. Ini bukan sekadar dokumenter, melainkan bentuk keberanian untuk menyuarakan apa yang selama ini dibungkam. Bagi penonton yang peduli pada isu lingkungan dan keadilan sosial, film ini menghadirkan gugatan sekaligus pengingat bahwa pembangunan yang mengabaikan manusianya bukanlah kemajuan. Film ini juga membuktikan bahwa sinema dokumenter Indonesia mampu menjadi ruang perjuangan yang nyata, dengan visual yang kuat, narasi yang berani, dan keberpihakan yang jelas pada mereka yang paling terdampak.
Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Andalas







