Oleh: Tantri Pramudita
Pernahkah membayangkan apa jadinya jika cinta yang dipaksakan berujung pada bencana? Film Obsession karya sutradara Curry Barker mengeksplorasi sisi gelap dari hasrat manusia melalui kisah yang, jika diposisikan di Indonesia, mengingatkan pada fenomena “pelet”. Diproduksi Blumhouse, film ini mengajak penonton menyelami bahaya obsesi ketika keinginan mengalahkan batas moral.
Cerita berpusat pada Baron “Bear” Bailey (Michael Johnston), seorang pemuda pemalu yang diam-diam menyimpan perasaan kepada sahabat sekaligus rekan kerjanya di toko musik, Nikki (Inde Navarrette). Rasa frustrasi membuat Bear mengambil jalan pintas dengan memanfaatkan sebuah benda misterius bernama One Wish Willow, yang dipercaya mampu mengabulkan satu permintaan. Namun, setiap keinginan selalu memiliki konsekuensi. Sejak itulah hubungan keduanya berubah ke arah yang semakin tidak wajar dan membawa mereka pada situasi yang sulit dikendalikan.
Daya tarik utama Obsession terletak pada kemampuannya membangun atmosfer yang mencekam tanpa terlalu bergantung pada jump scare. Ketegangannya dirangkai secara perlahan hingga penonton ikut larut dalam tekanan psikologis yang dialami para karakter. Sinematografi bernuansa suram dipadukan dengan desain suara yang efektif semakin memperkuat rasa tidak nyaman sepanjang film.
Performa Inde Navarrette sebagai Nikki menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Ia mampu menampilkan perubahan emosi karakternya dengan meyakinkan sehingga membuat penonton terus mempertanyakan batas antara kasih sayang, obsesi, dan kehilangan kendali. Di balik balutan horornya, Obsession juga menyinggung isu-isu yang relevan, seperti hubungan beracun (toxic relationship), pentingnya persetujuan (consent), serta bahaya memaksakan kehendak atas nama cinta.
Meski demikian, premis tentang benda pengabul permintaan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Penonton yang akrab dengan genre horor mungkin akan merasa konsep dasarnya cukup familier sebelum film mulai mengembangkan konfliknya dengan pendekatan yang lebih intens. Karakter Bear juga sengaja ditulis sebagai sosok yang rapuh dan egois, sehingga tidak selalu mudah memperoleh simpati penonton.
Di sisi lain, perspektif Nikki sebagai pihak yang terdampak justru terasa kurang digali secara mendalam. Film ini lebih banyak berfokus pada perjalanan Bear sehingga pengalaman dan trauma Nikki belum memperoleh ruang yang seimbang. Selain itu, beberapa adegan gore dan kekerasan ditampilkan secara eksplisit sehingga mungkin kurang nyaman bagi penonton yang sensitif.
Secara keseluruhan, Obsession merupakan horor psikologis yang memadukan ketegangan dengan kritik terhadap obsesi dan hubungan yang dibangun di atas paksaan. Film ini tidak hanya menawarkan teror, tetapi juga mengajak penonton merenungkan batas antara cinta, kepemilikan, dan kebebasan memilih.
Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Andalas







