• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 23 Juli 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aneka Ragam Resensi

Obsession: Ketika Kamu “Dipelet” Cowok Insecure

oleh Redaksi
21 Juli 2026, 21:26 WIB
Poster film Obsession/TMDB

Poster film Obsession/TMDB

ShareShareShareShare

Oleh: Tantri Pramudita

Pernahkah membayangkan apa jadinya jika cinta yang dipaksakan berujung pada bencana? Film Obsession karya sutradara Curry Barker mengeksplorasi sisi gelap dari hasrat manusia melalui kisah yang, jika diposisikan di Indonesia, mengingatkan pada fenomena “pelet”. Diproduksi Blumhouse, film ini mengajak penonton menyelami bahaya obsesi ketika keinginan mengalahkan batas moral.

Cerita berpusat pada Baron “Bear” Bailey (Michael Johnston), seorang pemuda pemalu yang diam-diam menyimpan perasaan kepada sahabat sekaligus rekan kerjanya di toko musik, Nikki (Inde Navarrette). Rasa frustrasi membuat Bear mengambil jalan pintas dengan memanfaatkan sebuah benda misterius bernama One Wish Willow, yang dipercaya mampu mengabulkan satu permintaan. Namun, setiap keinginan selalu memiliki konsekuensi. Sejak itulah hubungan keduanya berubah ke arah yang semakin tidak wajar dan membawa mereka pada situasi yang sulit dikendalikan.

Daya tarik utama Obsession terletak pada kemampuannya membangun atmosfer yang mencekam tanpa terlalu bergantung pada jump scare. Ketegangannya dirangkai secara perlahan hingga penonton ikut larut dalam tekanan psikologis yang dialami para karakter. Sinematografi bernuansa suram dipadukan dengan desain suara yang efektif semakin memperkuat rasa tidak nyaman sepanjang film.

Baca Juga  UNAND Resmi Lepas Mahasiswa KKN Kebencanaan ke Dua Lokasi Terdampak

Performa Inde Navarrette sebagai Nikki menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Ia mampu menampilkan perubahan emosi karakternya dengan meyakinkan sehingga membuat penonton terus mempertanyakan batas antara kasih sayang, obsesi, dan kehilangan kendali. Di balik balutan horornya, Obsession juga menyinggung isu-isu yang relevan, seperti hubungan beracun (toxic relationship), pentingnya persetujuan (consent), serta bahaya memaksakan kehendak atas nama cinta.

Meski demikian, premis tentang benda pengabul permintaan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Penonton yang akrab dengan genre horor mungkin akan merasa konsep dasarnya cukup familier sebelum film mulai mengembangkan konfliknya dengan pendekatan yang lebih intens. Karakter Bear juga sengaja ditulis sebagai sosok yang rapuh dan egois, sehingga tidak selalu mudah memperoleh simpati penonton.

Baca Juga  Hilang Tiga Nol : Redenominasi atau Kebingungan Publik

Di sisi lain, perspektif Nikki sebagai pihak yang terdampak justru terasa kurang digali secara mendalam. Film ini lebih banyak berfokus pada perjalanan Bear sehingga pengalaman dan trauma Nikki belum memperoleh ruang yang seimbang. Selain itu, beberapa adegan gore dan kekerasan ditampilkan secara eksplisit sehingga mungkin kurang nyaman bagi penonton yang sensitif.

Secara keseluruhan, Obsession merupakan horor psikologis yang memadukan ketegangan dengan kritik terhadap obsesi dan hubungan yang dibangun di atas paksaan. Film ini tidak hanya menawarkan teror, tetapi juga mengajak penonton merenungkan batas antara cinta, kepemilikan, dan kebebasan memilih.

Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Andalas

Tag: filmGenta AndalasResensi
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Poster Film 402 Rumah Sakit Angker Korea/Facebook MD Pictures)

Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

15 Juli 2026, 18:23 WIB
Poster film Toy Story 5/Disney Indonesia

Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

3 Juli 2026, 13:09 WIB
(Poster Film Cerita Lila/Facebook Moviezy)

Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

30 Juni 2026, 18:08 WIB
(Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

14 Juni 2026, 21:17 WIB
Poster film Pesta Babi

Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

25 Mei 2026, 21:22 WIB
(Poster Film Titip Bunda di Surga-Mu/detik.com)

Belajar Menghargai Waktu Lewat FilmTitip Bunda di Surga-Mu

28 Februari 2026, 21:46 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mahasiswa Sastra Inggris UNAND Gelar English Drama Performance 2026

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Rekonstruksi GOR Haji Agus Salim dan Nasib PKL yang Terlupakan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak