• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Minggu, 13 September 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aneka Ragam

Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

oleh Redaksi
16 Januari 2026, 19:04 WIB
(Poster Film Alas Roban/detik.com)

(Poster Film Alas Roban/detik.com)

ShareShareShareShare

Oleh: Oktavia Ramadhani*

Film Alas Roban menjadi salah satu film horor Indonesia yang mencoba menggali kekuatan mitos lokal sebagai sumber teror utama. Disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu, film ini mengambil latar jalur Alas Roban, kawasan hutan di Jawa Tengah yang sejak lama dikenal masyarakat sebagai jalan angker dan penuh cerita kelam. Dengan menggabungkan horor ritual dan drama keluarga, Alas Roban tidak hanya menghadirkan rasa takut, tetapi juga menyuguhkan konflik emosional yang menjadi inti ceritanya.

Kisah film ini berpusat pada Sita (Michelle Ziudith), seorang ibu tunggal yang hidup dalam keterbatasan ekonomi di Pekalongan. Demi memperbaiki kehidupannya dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi sang anak, Sita menerima pekerjaan di Semarang. Ia pun memutuskan pindah bersama putrinya, Gendis (Fara Shakila), seorang anak dengan keterbatasan penglihatan. Perjalanan menuju tempat baru itu dilakukan dengan menaiki bus malam yang harus melintasi Alas Roban, sebuah keputusan yang kemudian menjadi awal dari rangkaian peristiwa mengerikan.

Sejak bus yang mereka tumpangi mengalami gangguan di tengah hutan, kehidupan Sita dan Gendis perlahan berubah. Gendis mulai menunjukkan perilaku tidak wajar, seperti mendengar suara-suara asing, menggambar simbol-simbol misterius, hingga mengalami kerasukan berulang kali. Teror yang dialami Gendis tidak hanya mengancam keselamatannya, tetapi juga mengguncang batin Sita sebagai seorang ibu. Film ini dengan cukup baik menggambarkan bagaimana ketakutan dan rasa bersalah bercampur dalam diri Sita ketika menghadapi situasi yang berada di luar logika.

Baca Juga  Perkuliahan Daring Sebagai Pemicu Peningkatan Stres Mahasiswa

Horor dalam Alas Roban dibangun secara perlahan dan cenderung menekan. Film ini tidak mengandalkan jumpscare yang berlebihan, melainkan memanfaatkan suasana sunyi, gelap, dan rasa terisolasi untuk menciptakan ketegangan. Visual hutan yang dipenuhi kabut, jalan sempit tanpa penerangan, serta suara alam yang minim dialog berhasil menciptakan atmosfer yang tidak nyaman. Penonton diajak merasakan kecemasan yang terus meningkat seiring waktu, seolah ikut terjebak bersama para tokohnya.

Kehadiran sosok gaib Dewi Raras (Imelda Therinne) menjadi pusat konflik horor dalam film ini. Ia digambarkan bukan sekadar sebagai arwah penebar teror, melainkan sebagai representasi dari janji ritual lama yang dilanggar manusia. Dari sini, Alas Roban menegaskan bahwa teror yang muncul memiliki sebab, yakni kelalaian dan keserakahan manusia di masa lalu. Pendekatan ini membuat horor yang disajikan terasa lebih bermakna dan tidak semata-mata hadir untuk menakut-nakuti.

Dari segi akting, Michelle Ziudith tampil cukup kuat sebagai Sita. Ia berhasil menampilkan emosi seorang ibu yang berada di ambang keputusasaan, namun tetap berusaha tegar demi anaknya. Ekspresi ketakutan, kepanikan, hingga keberanian yang ia tunjukkan terasa natural dan tidak berlebihan. Fara Shakila juga patut diapresiasi karena mampu membawakan karakter Gendis dengan baik, terutama dalam adegan-adegan kerasukan yang membutuhkan kontrol ekspresi dan gestur yang matang. Rio Dewanto sebagai Anto, sopir ambulans yang memahami mitos Alas Roban, hadir sebagai penyeimbang cerita dan membantu membuka lapisan misteri yang menyelimuti jalur tersebut.

Secara teknis, sinematografi dan tata suara menjadi kekuatan film ini. Pemilihan sudut pengambilan gambar yang sempit dan minim cahaya mendukung kesan terkurung dan terancam. Musik latar dan efek suara digunakan secara efektif untuk membangun suasana, bahkan pada momen-momen sunyi yang justru terasa lebih menegangkan dibandingkan adegan penuh teriakan.

Baca Juga  Di Tengah Ancaman Bencana, Anggaran BNPB Justru Menyusut

Meski demikian, Alas Roban masih memiliki beberapa kelemahan. Ritme cerita di bagian tengah terasa cukup lambat dan cenderung berulang, terutama dalam penggambaran gangguan yang dialami Gendis. Selain itu, latar belakang ritual dan sejarah sosok Dewi Raras sebenarnya memiliki potensi untuk digali lebih dalam agar konflik terasa semakin kuat. Penyelesaian cerita di bagian akhir juga terkesan agak terburu-buru jika dibandingkan dengan pembangunan atmosfer yang panjang di awal film.

Terlepas dari kekurangan tersebut, Alas Roban tetap menawarkan pengalaman horor yang cukup berkesan. Film ini tidak hanya menghadirkan rasa takut, tetapi juga mengangkat tema pengorbanan seorang ibu yang rela menghadapi apa pun demi keselamatan anaknya. Perpaduan antara horor ritual dan drama keluarga membuat film ini memiliki lapisan emosi yang membedakannya dari film horor konvensional.

Secara keseluruhan, Alas Roban adalah film horor Indonesia yang memanfaatkan kekuatan mitos lokal dan atmosfer untuk membangun teror. Dengan akting yang solid, visual yang mendukung, serta cerita yang menyentuh sisi emosional, film ini layak menjadi salah satu tontonan horor yang patut diperbincangkan di awal tahun 2026.

*Penulis Merupakan  Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Tag: #unand #genta AndalasfilmFilm HororIndonesia
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Poster Film Insidious: Out of the Further)/Instagram officialwatchmenid)

Wajah Baru, Teror Lama Insidious

1 September 2026, 00:49 WIB
(Ilusgrafis/Aulya Rindu Ramadan)

Strategi Mahasiswa Indonesia Menembus Dunia Internasional

31 Agustus 2026, 10:58 WIB
(Poster film Spider-Man: Brand New Day/Wikipedia)

Spider-Man: Brand New Day, Babak Baru Peter Parker

22 Agustus 2026, 08:32 WIB
Poster film The Odyssey/Wikipedia

The Odyssey: Perjalanan Pulang yang Penuh Rintangan

31 Juli 2026, 23:11 WIB
Poster film Obsession/TMDB

Obsession: Ketika Kamu “Dipelet” Cowok Insecure

21 Juli 2026, 21:26 WIB
(Poster Film 402 Rumah Sakit Angker Korea/Facebook MD Pictures)

Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

15 Juli 2026, 18:23 WIB

TERPOPULER

  • (Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

    Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Tradisi Kadaghek: Kerukunan Dalam Budaya Mengantar Jenazah Suku Minang di Tanjung Barulak

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Mengenal Sumbang Duo Baleh, Kode Etik dalam Kebudayaan Minangkabau

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Prosesi dan Perayaan Tabuik Pariaman

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak