Meningkatnya ketertarikan mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri membuka peluang untuk memperoleh pengalaman sekaligus menghadapi lingkungan akademik yang berbeda. Namun, tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademis. Perbedaan sistem pendidikan juga menuntut mahasiswa untuk berpikir kritis, menyusun argumen, dan berani menyampaikan pendapat.
Lalu, apa sebenarnya tantangan terbesar yang dihadapi saat beradaptasi dengan sistem pendidikan di luar negeri? Hal apa yang paling mengubah cara pandang mahasiswa dalam menempuh studi di luar negeri? Apa yang dapat dipelajari perguruan tinggi di Indonesia dari sistem pendidikan di luar negeri agar semakin mampu bersaing di tingkat internasional? Keterampilan atau karakter apa yang perlu dimiliki mahasiswa agar mampu berkiprah di dunia internasional? Bagaimana pengalaman belajar di luar negeri memengaruhi cara mahasiswa melihat peluang, membangun relasi, dan menghadapi tantangan di masa depan? (Aulya Rindu Ramadan)
Narasumber: Avan Fadli, Sap, MA, MBA
Jawaban:
Apa sebenarnya tantangan terbesar yang dihadapi saat beradaptasi dengan sistem pendidikan di luar negeri?
Perbedaan sistem pembelajaran menjadi salah satu tantangan yang perlu dihadapi. Di Australia, dosen tidak selalu menyajikan materi secara utuh sebagaimana yang biasa dijumpai di Indonesia. Mahasiswa dituntut untuk mencari referensi, informasi, dan solusi secara mandiri. Selain itu, mahasiswa juga perlu beradaptasi dengan bahasa akademis dan pola belajar yang berbeda. Kemandirian menjadi penting karena proses pembelajaran tidak hanya bergantung pada materi yang diberikan oleh dosen.
Hal apa yang paling mengubah cara pandang mahasiswa dalam menempuh studi di luar negeri?
Perubahan paling terasa terdapat pada cara belajar. Jika sebelumnya terbiasa dengan metode hafalan, sistem pendidikan di Australia lebih mengutamakan kemampuan berpikir kritis, menyusun argumen, dan mengungkapkan pandangan. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami konsep, tetapi juga mampu menganalisis dan menggunakannya untuk memecahkan masalah. Budaya membaca, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat juga menjadi bagian penting dalam proses akademik.
Apa yang dapat dipelajari perguruan tinggi di Indonesia dari sistem pendidikan di luar negeri agar semakin mampu bersaing di tingkat internasional?
Budaya berpikir kritis perlu lebih banyak dibangun di lingkungan perguruan tinggi. Debat, seminar, dan forum ilmiah dapat diperbanyak agar mahasiswa terbiasa mengemukakan pendapat berdasarkan data dan analisis. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga terbiasa menyampaikan gagasan, mempertahankan argumen, dan menghadapi perbedaan perspektif.
Keterampilan atau karakter apa yang perlu dimiliki mahasiswa agar mampu berkiprah di dunia internasional?
Penguasaan bahasa asing menjadi salah satu kemampuan penting sebagai sarana komunikasi. Selain itu, disiplin, kemampuan mengelola waktu, kerja sama, kepemimpinan, dan pengalaman organisasi juga diperlukan. Kemampuan tersebut dapat mulai dibangun sejak berada di lingkungan kampus melalui berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik.
Bagaimana pengalaman belajar di luar negeri memengaruhi cara mahasiswa melihat peluang, membangun relasi, dan menghadapi tantangan di masa depan?
Lingkungan internasional mendorong mahasiswa untuk lebih terbuka terhadap sudut pandang baru, berani mengambil keputusan, dan melihat tantangan sebagai peluang. Kemampuan membangun relasi juga menjadi bagian penting dalam menghadapi dunia yang semakin terhubung. Kerja sama dan kemampuan beradaptasi diperlukan ketika berhadapan dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Hal ini menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menghadapi lingkungan kerja dan tantangan global.
*( Narasumber merupakan alumni The University of Sydney, Australia.







