Oleh: Kesih Rianti*
Insidious: Out of the Further garapan Jacob Chase memperkenalkan wajah baru dengan beberapa penyesuaian cerita. Memberikan kesan yang lebih segar, meski mungkin tak bisa menyenangkan semua penggemar. Gemma (Amelia Eve) adalah seorang dental hygienist sekaligus ibu muda yang tinggal di rumah masa kecilnya bersama putrinya, Maya (Island Austin). Ia menyimpan mainan Maya bersama barang-barang mendiang ibunya yang ingin dilupakannya.
Setelah lima film dan lebih dari 750 juta dolar pendapatan box office, franchise Insidious akhirnya berani mengambil langkah besar, yakni meninggalkan keluarga Lambert yang selama ini jadi jantung cerita. Kini kisahnya beralih ke Gemma dan keluarganya. Perubahan dari cerita keluarga Lambert ini memberikan point of view baru tentang The Further dan orang-orang yang bisa memasukinya.
Hilang sudah potret kelam Keluarga Lambert. Elise (Lin Shaye), yang tetap bersemayam di The Further selepas kematiannya, jadi penghubung tunggal dengan film-film lalu. Elise kini bertugas memandu si protagonis baru, Gemma (Amelia Eve), yang tanpa ia sadari, kerap menyebrangi The Further kala terlelap.
Letak kesegaran dari naskah buatan sang sutradara, Jacob Chase, mulai terasa kala tiga lansia menyeramkan gemar mondar-mandir di depan kediaman si tokoh utama. Segera penonton berasumsi bahwa pemandangan itu sekadar penampakan hantu biasa yang hanya bisa disaksikan Gemma. Tapi ternyata Maya (Island Austin), putrinya, turut melihat pemandangan serupa. Begitu pun tetangga mereka.
Tentu guliran kisahnya belum secara total mendobrak pakem. Sekitar 100 menit durasi masih didominasi kompilasi teror, dengan membangun ketegangan yang bergulir jauh lebih lama daripada eksplorasi psikis tokoh-tokohnya. Out of the Further tetap produk arus utama, bukan spesies elevated horror yang bersedia mengedepankan kekuatan narasi.
“Aneh” adalah amunisi yang filmnya siapkan. Pasca sebuah titik balik tak terduga yang mempersingkat rumusan klise yang menyebalkan soal “protagonis vs. skeptis”, Out of the Further beralih arah dari kisah rumah hantu menuju creature feature. Beberapa penonton akan menertawakan keanehannya (Siapa yang menolak tertawa menyaksikan hantu menodongkan senapan?), tapi seluruhnya bersifat intensional. Jacob Chase memilih tampil konyol dibanding membiarkan penonton terlelap di kursi bioskop.
Dari sisi visual, tata cahaya dan desain produksi The Further masih terasa familiar, tapi cukup untuk membangun suasana mencekam tanpa harus mengandalkan Computer Generated Imagery (CGI) berlebihan. Ada kalanya kesunyian dibiarkan mengiringi, sementara hembusan napas penonton yang tercekat seperti menjadi efek suara pengganti. Untungnya, daya kreasi film ini tidak hanya tentang mengangeti film saja. Lin Shaye sebagai Elise, meski porsinya nggak sebanyak film-film sebelumnya, tetap berhasil jadi jangkar emosional yang menghubungkan penonton lama dengan cerita baru ini. Meski begitu, tetap saja dengan wajah baru pun, film ini berusaha tetap menggaet penonton lama untuk dapat menikmati alam The Further yang sering kali dibahas pada film-film Insidious sebelumnya.
Pada akhirnya, Insidious: Out of the Further nggak berusaha jadi elevated horror yang berat secara narasi, tapi juga nggak sekadar jualan jump scare tanpa arah. Film ini menemukan celahnya sendiri dengan berani tampil sedikit konyol dan tidak takut ditertawakan, selama itu bisa bikin penonton tetap terjaga di kursi bioskop. Buat penggemar lama yang penasaran gimana nasib The Further tanpa Keluarga Lambert, film ini layak ditonton. Tapi buat yang berharap terobosan besar dari segi cerita, mungkin harus menurunkan ekspektasi dulu.
*Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Andalas







