• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 23 Juli 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aneka Ragam

Belajar Menghargai Waktu Lewat FilmTitip Bunda di Surga-Mu

oleh Redaksi
28 Februari 2026, 21:46 WIB
(Poster Film Titip Bunda di Surga-Mu/detik.com)

(Poster Film Titip Bunda di Surga-Mu/detik.com)

ShareShareShareShare

Oleh: Oktavia Ramadhani*

Tidak semua luka dalam keluarga lahir dari kebencian. Kadang, ia muncul dari keputusan yang dianggap sepele, dari pikiran bahwa semuanya masih bisa dijelaskan nanti, atau dari keyakinan bahwa orang tua pasti akan memaafkan. Film Titip Bunda di Surga-Mu, drama keluarga yang dirilis pada 2026 dan disutradarai oleh Hanny R. Saputra, memulai ceritanya dari titik tersebut, yaitu sebuah kesalahan yang terlihat kecil tetapi perlahan meretakkan hubungan yang selama ini terasa aman.

Film ini tidak menjual tangis berlebihan atau konflik yang dibuat-buat. Ceritanya bergerak pelan mengikuti tiga bersaudara yang terhimpit masalah hidup hingga nekat menggunakan simpanan sang ibu, Bunda Mozza. Keputusan itu mungkin terasa logis bagi mereka, tetapi bagi seorang ibu, kepercayaan yang dilanggar bukan perkara sederhana.

Alya, Adam, dan Azzam masing-masing membawa beban hidupnya sendiri. Tekanan ekonomi dan kebutuhan yang mendesak membuat mereka menempatkan kepentingan pribadi di atas kejujuran. Apa yang awalnya dianggap sebagai solusi cepat justru menjadi awal renggangnya hubungan keluarga. Dari sinilah konflik berkembang, bukan lewat teriakan, melainkan melalui jarak yang perlahan tercipta.

Menariknya, film ini tidak membangun ketegangan dengan adegan dramatis yang berlebihan. Rasa kecewa Bunda lebih banyak hadir dalam bentuk keheningan. Nada bicara yang berubah, tatapan yang tidak lagi sama, serta suasana rumah yang terasa asing menjadi penanda bahwa ada sesuatu yang retak. Momen-momen sunyi itu justru terasa paling kuat karena begitu dekat dengan realitas yang mungkin pernah dialami banyak keluarga.

Baca Juga  Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

Seiring waktu, rasa bersalah mulai menghantui ketiga anak tersebut. Mereka mencoba memperbaiki keadaan dengan menemani sang ibu, menghabiskan waktu bersama, dan kembali membangun percakapan yang sempat hilang. Proses ini digambarkan tidak instan karena ada kecanggungan, ada gengsi, dan ada momen ketika masing-masing harus belajar menurunkan ego. Di bagian inilah film terasa paling jujur karena perubahan dalam keluarga memang jarang terjadi secara tiba-tiba.

Penampilan Meriam Bellina sebagai Bunda menjadi pusat emosi cerita. Ia mampu menyampaikan rasa kecewa dan kasih sayang dalam waktu bersamaan tanpa perlu dialog panjang. Ekspresinya cukup untuk menggambarkan pergulatan batin seorang ibu yang terluka. Acha Septriasa sebagai Alya juga tampil kuat, terutama dalam adegan yang memperlihatkan dilema antara tanggung jawab dan penyesalan. Kevin Julio dan Abun Sungkar melengkapi dinamika tersebut dengan karakter yang berbeda sehingga konflik antarsaudara terasa hidup.

Dari sisi penyutradaraan, film ini memilih pendekatan visual yang sederhana dan realistis. Tata kamera tidak dibuat rumit, pencahayaan terasa natural, dan musik latar digunakan secukupnya. Tidak ada upaya berlebihan untuk memaksa penonton menangis. Justru karena kesederhanaannya, emosi yang muncul terasa lebih tulus dan tidak dibuat-buat.

Meski demikian, ritme cerita di bagian tengah sempat terasa melambat. Beberapa adegan memiliki pola emosi yang serupa sehingga ketegangannya tidak selalu meningkat. Bagi sebagian penonton, tempo ini mungkin terasa terlalu pelan. Namun di sisi lain, pendekatan tersebut memberi ruang untuk memahami karakter secara lebih mendalam.

Baca Juga  Koalisi Mayarakat Sipil Sumbar Deklarasikan Perlawanan terhadap Politik Uang dan Politik Dinasti

Yang membuat Titip Bunda di Surga-Mu terasa relevan adalah kedekatannya dengan realitas. Banyak orang mungkin pernah merasa tertekan oleh keadaan hingga tanpa sadar melukai orang terdekat. Film ini seperti pengingat bahwa orang tua bukan sekadar tempat bergantung secara materi, melainkan sosok yang juga memiliki batas kesabaran dan rasa sakit.

Pada akhirnya, Titip Bunda di Surga-Mu tidak sedang menawarkan cerita yang rumit. Film ini hanya mengingatkan satu hal yang sering diabaikan, yaitu orang tua tidak selalu menuntut banyak tetapi mereka tetap bisa terluka. Film ini mungkin tidak meninggalkan adegan yang spektakuler, namun ia menyisakan ruang sunyi untuk berpikir. Film ini mungkin tidak membuat semua penonton larut dalam tangis, tetapi cukup untuk mengajak merenung lebih lama setelah cerita berakhir. Tentang waktu yang terus berjalan, tentang kata maaf yang kadang tertahan, dan tentang kesempatan yang belum tentu datang dua kali. Bisa jadi setelah lampu bioskop menyala, yang terlintas justru wajah orang tua di rumah.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Tag: filmIndonesiaKeluargaResensi
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Poster film Obsession/TMDB

Obsession: Ketika Kamu “Dipelet” Cowok Insecure

21 Juli 2026, 21:26 WIB
(Poster Film 402 Rumah Sakit Angker Korea/Facebook MD Pictures)

Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

15 Juli 2026, 18:23 WIB
Poster film Toy Story 5/Disney Indonesia

Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

3 Juli 2026, 13:09 WIB
(Poster Film Cerita Lila/Facebook Moviezy)

Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

30 Juni 2026, 18:08 WIB
(Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

14 Juni 2026, 21:17 WIB
Poster film Pesta Babi

Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

25 Mei 2026, 21:22 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mahasiswa Sastra Inggris UNAND Gelar English Drama Performance 2026

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Rekonstruksi GOR Haji Agus Salim dan Nasib PKL yang Terlupakan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak