• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, 27 Juni 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Media Sosial dan Kemunduran Cara Berpikir Kritis

oleh Redaksi
17 Juni 2026, 23:53 WIB
(Ilusgrafis/M. Dhiaurrahman Alfatih)

(Ilusgrafis/M. Dhiaurrahman Alfatih)

ShareShareShareShare

Oleh: M. Dhiaurrahman Alfatih

Perkembangan teknologi digital telah membuat media sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sekarang. Seperti TikTok, Instagram, X, hingga Youtube membuat manusia semakin mudah memperoleh informasi, berkomunikasi, hingga mengekspresikan pendapatnya di ruang digital. Hampir seluruh kalangan masyarakat, mulai dari anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga orang dewasa menggunakan media sosial dalam aktivitas sehari-hari, kerena dianggap lebih cepat, praktis, dan mudah diakses kapan saja.

Melalui media sosial, masyarakat dapat mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia hanya dalam hitungan detik. Kecepatan luar biasa ini sayangnya tidak berbanding lurus dengan kita dalam mencerna informasi. Arus visual yang datang bertubi-tubi, mulai dari potongan video, foto, hingga opini yang dikonsumsi oleh jutaan orang sekaligus. Secara tidak sadar memaksa otak kita untuk memproses segala hal.

Akibatnya, ruang digital yang semestinya menjadi saran edukasi dan bertukaran gagasan yang sehat, justru berubah sebaliknya. Informasi yang dahulunya membutuhkan waktu lama untuk dipahami secara matang, kini dituntuk untuk langsung ditelan mentah-mentah dalam waktu singkat sehingga mengubah masyarakat dari pemikir kritis menjadi konsumen informasi yang reaktif. 

Keadaan kita sebagai konsumen informasi yang reaktif ini sangat tepat digambarkan oleh Dr. Andreas Kurniawan. Andreas pernah mengatakan dalam sebuah podcast Gritte Agatha, beliau menganalogikan media sosial itu diibaratkan dengan Buffet All You Cant Eat. Segala macam makanan ada disana, mulai dari makanan yang cocok buat kita, hingga makanan yang tidak cocok buat kita. 

Baca Juga  Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) Rentan Dialami Anak Saat Hadapi Bencana

Jika kita implementasikan kepada diri saya, saya suka makan ayam, dan saya tidak suka makan ikan. Namun, ketika kita berada di rumah makan padang, semua makanan akan disajikan disana. Kita tidak akan pernah bisa bilang, “Saya tidak mau ini”, karena itu telah disajikan. Tugas saya adalah untuk memilih, kira-kira makanan mana yang bagus buat saya. Jadi sebenarnya kita punya pilihan, kita bisa memilih apa yang muncul di depan kita.

Kalau kita kaitkan kembali, konten di media sosial tidak semua itu sehat untuk kita. Ada informasi yang “bergizi dan bermanfaat”, tetapi ada juga konten yang hanya memancing emosi, membuat kecanduan, atau bahkan merusak cara berpikir kita. Jika kita tidak mampu memilih dan membatasi konsumsi kita dalam bermain media sosial, kita akan terus “memakan” semua yang disajikan algoritma, tanpa sadar apakah itu baik atau berdampak buruk bagi kita.

Salah satu madia sosial yang paling populer saat ini adalah TikTok. Aplikasi yang menarik perhatian masyarakat karena menyajikan berbagai video singkat yang dianggap menghibur dan mudah dikonsumsi. Dalam beberapa menit saja, seseorang dapat menonton puluhan video dengan topik yang berbeda-beda. Algoritma TikTok juga bekerja sangat cepat dalam menampilkan konten yang sesuai dengan minat si penggunanya, sehingga banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam tanpa sadar.

Namun, TikTok juga di pandang negatif oleh masyarakat, bahkan tidak sedikit orang menyebut sebagai “sarang monyet” karena isi kontennya yang dinilai tidak mencerminkan etika, bahkan banyak juga isi kontennya provokatif. Banyak pengguna media sosial ini yang berlomba-lomba mencari perhatian demi mendapatkan views, likes, dan popularity, tanpa memikirkan dampak dari konten yang mereka buat, terutama untuk anak dibawah umur.

Baca Juga  Ketika Seribu Halaman Tak Menjawab Keadilan

Fenomena tersebut secara tidak langsung memengaruhi masyarakat berpikir dan berperilaku. Seperti yang saya katakan sebelumnya, konten yang singkat dan berkelanjutan membuat banyak orang terbiasa menerima informasi secara cepat tanpa melakukan analisis mendalam. Akibatnya, masyarakat menjadi lebih mudah terpancing emosi, cepat menghakimi, dan sering kali percaya terhadap informasi yang dibumbui kata-kata oleh konten kreator, yang belum tentu kebenarannya.

Jika fenomena ini terus dibiarkan tanpa adanya kesadaran mutlak, maka kita sedang berjalan menuju kemunduran berpikir secara massal. Media sosial yang semula diciptakan sebagai alat untuk mempermudah hidup manusia, perlahan justru sebaliknya. Kita menjadi begitu rapuh di hadapan narasi-narasi pendek yang provokatif, mudah diadu domba oleh informasi yang belum jelas kebenarannya, dan kehilangan empati karena terlalu cepat menghakimi hanya karena potongan video berdurasi beberapa detik. 

Kehilangan kemampuan berpikir mendalam adalah harga mahal yang harus kita bayar akibat kita terlalu bergantung pada algoritma. Pada akhirnya, media sosial hanyalah sebuah alat, dan kitalah pemilik dari pikiran kita sendiri. Menjadi kritis di tengah derasnya arus informasi digital bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan demi menyelamatkan masa depan kita bersama. 

Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Andalas

Tag: algoritmaAspirasiMedia Sosialopini
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Massa aksi menyampaikan aspirasi di depan pintu masuk Kantor Gubernur Sumatera Barat pada Kamis (25/06/2026) (Genta Andalas/Aurelia Syabandini)

Aksi Jilid II Mahasiswa Soroti Transparansi APBD hingga Harga BBM

27 Juni 2026, 00:09 WIB
(Ilustrasi/Aulya Rindu Ramadan)

Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

24 Juni 2026, 23:09 WIB
(Ilustrasi/Kesih Rianti)

Kesenjangan Fasilitas Bayangi Kampus Cabang UNAND 

23 Juni 2026, 17:06 WIB
Diskusi Publik bertajuk Implikasi Hukum Putusan Praperadilan terhadap Putusan Peradilan Militer Andrie Yunus yang diselenggarakan oleh PBHI Sumatera Barat di Padang, Senin (22/6/2026) (Genta Andalas/Syifa Alifah)

PBHI Sumbar Soroti Implikasi Putusan Praperadilan terhadap Kasus Andrie Yunus

23 Juni 2026, 16:36 WIB
(Ilustrasi/Syifa Alifah)

Keresahan Mahasiswa di Balik Ancaman Reformasi Jilid II

21 Juni 2026, 23:40 WIB
Ilusgrafis/Kesih Rianti

Koperasi Merah Putih Tidak Boleh Menang karena Pesaingnya Dikalahkan

18 Juni 2026, 20:58 WIB

Populer

  • Ilusgrafis/Kesih Rianti

    Koperasi Merah Putih Tidak Boleh Menang karena Pesaingnya Dikalahkan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tenaga Kebersihan FK UNAND Ditemukan Meninggal di Hutan Biologi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menakar Prabowonomics di Tengah Tekanan Ekonomi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Sejumlah BEM Fakultas Nyatakan Mosi Tidak Percaya kepada BEM KM UNAND Usai Aksi di DPRD Sumbar

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Pengemudi Mengaku Pusing, Tabrak Dua Gerobak dan Satu Mobil

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Disclosure Day, Kembalinya Steven Spielberg Lewat Film Fiksi Ilmiah Terbaru

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tambang Ilegal di Sumbar Dinilai Perparah Krisis Ekologis

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak