Oleh: M. Dhiaurrahman Alfatih
Perkembangan teknologi digital telah membuat media sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sekarang. Seperti TikTok, Instagram, X, hingga Youtube membuat manusia semakin mudah memperoleh informasi, berkomunikasi, hingga mengekspresikan pendapatnya di ruang digital. Hampir seluruh kalangan masyarakat, mulai dari anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga orang dewasa menggunakan media sosial dalam aktivitas sehari-hari, kerena dianggap lebih cepat, praktis, dan mudah diakses kapan saja.
Melalui media sosial, masyarakat dapat mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia hanya dalam hitungan detik. Kecepatan luar biasa ini sayangnya tidak berbanding lurus dengan kita dalam mencerna informasi. Arus visual yang datang bertubi-tubi, mulai dari potongan video, foto, hingga opini yang dikonsumsi oleh jutaan orang sekaligus. Secara tidak sadar memaksa otak kita untuk memproses segala hal.
Akibatnya, ruang digital yang semestinya menjadi saran edukasi dan bertukaran gagasan yang sehat, justru berubah sebaliknya. Informasi yang dahulunya membutuhkan waktu lama untuk dipahami secara matang, kini dituntuk untuk langsung ditelan mentah-mentah dalam waktu singkat sehingga mengubah masyarakat dari pemikir kritis menjadi konsumen informasi yang reaktif.
Keadaan kita sebagai konsumen informasi yang reaktif ini sangat tepat digambarkan oleh Dr. Andreas Kurniawan. Andreas pernah mengatakan dalam sebuah podcast Gritte Agatha, beliau menganalogikan media sosial itu diibaratkan dengan Buffet All You Cant Eat. Segala macam makanan ada disana, mulai dari makanan yang cocok buat kita, hingga makanan yang tidak cocok buat kita.
Jika kita implementasikan kepada diri saya, saya suka makan ayam, dan saya tidak suka makan ikan. Namun, ketika kita berada di rumah makan padang, semua makanan akan disajikan disana. Kita tidak akan pernah bisa bilang, “Saya tidak mau ini”, karena itu telah disajikan. Tugas saya adalah untuk memilih, kira-kira makanan mana yang bagus buat saya. Jadi sebenarnya kita punya pilihan, kita bisa memilih apa yang muncul di depan kita.
Kalau kita kaitkan kembali, konten di media sosial tidak semua itu sehat untuk kita. Ada informasi yang “bergizi dan bermanfaat”, tetapi ada juga konten yang hanya memancing emosi, membuat kecanduan, atau bahkan merusak cara berpikir kita. Jika kita tidak mampu memilih dan membatasi konsumsi kita dalam bermain media sosial, kita akan terus “memakan” semua yang disajikan algoritma, tanpa sadar apakah itu baik atau berdampak buruk bagi kita.
Salah satu madia sosial yang paling populer saat ini adalah TikTok. Aplikasi yang menarik perhatian masyarakat karena menyajikan berbagai video singkat yang dianggap menghibur dan mudah dikonsumsi. Dalam beberapa menit saja, seseorang dapat menonton puluhan video dengan topik yang berbeda-beda. Algoritma TikTok juga bekerja sangat cepat dalam menampilkan konten yang sesuai dengan minat si penggunanya, sehingga banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam tanpa sadar.
Namun, TikTok juga di pandang negatif oleh masyarakat, bahkan tidak sedikit orang menyebut sebagai “sarang monyet” karena isi kontennya yang dinilai tidak mencerminkan etika, bahkan banyak juga isi kontennya provokatif. Banyak pengguna media sosial ini yang berlomba-lomba mencari perhatian demi mendapatkan views, likes, dan popularity, tanpa memikirkan dampak dari konten yang mereka buat, terutama untuk anak dibawah umur.
Fenomena tersebut secara tidak langsung memengaruhi masyarakat berpikir dan berperilaku. Seperti yang saya katakan sebelumnya, konten yang singkat dan berkelanjutan membuat banyak orang terbiasa menerima informasi secara cepat tanpa melakukan analisis mendalam. Akibatnya, masyarakat menjadi lebih mudah terpancing emosi, cepat menghakimi, dan sering kali percaya terhadap informasi yang dibumbui kata-kata oleh konten kreator, yang belum tentu kebenarannya.
Jika fenomena ini terus dibiarkan tanpa adanya kesadaran mutlak, maka kita sedang berjalan menuju kemunduran berpikir secara massal. Media sosial yang semula diciptakan sebagai alat untuk mempermudah hidup manusia, perlahan justru sebaliknya. Kita menjadi begitu rapuh di hadapan narasi-narasi pendek yang provokatif, mudah diadu domba oleh informasi yang belum jelas kebenarannya, dan kehilangan empati karena terlalu cepat menghakimi hanya karena potongan video berdurasi beberapa detik.
Kehilangan kemampuan berpikir mendalam adalah harga mahal yang harus kita bayar akibat kita terlalu bergantung pada algoritma. Pada akhirnya, media sosial hanyalah sebuah alat, dan kitalah pemilik dari pikiran kita sendiri. Menjadi kritis di tengah derasnya arus informasi digital bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan demi menyelamatkan masa depan kita bersama.
Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Andalas







