• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, 7 November 2026
Gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Gentaandalas.com
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) Rentan Dialami Anak Saat Hadapi Bencana

oleh Redaksi
Sabtu, 1 Januari 2022, 14:24 WIB
(Genta Andalas/ Riski Wahyudi)

(Genta Andalas/ Riski Wahyudi)

ShareShareShareShare
(Genta Andalas/ Riski Wahyudi)

Oleh: Yora Elsha Syaputri*

Istilah bencana digunakan untuk mengartikan setiap peristiwa yang membawa malapetaka dan merugikan manusia, contohnya seperti bencana alam yaitu badai, gempa bumi, tornado, banjir, tsunami dan kebakaran yang terjadi didaerah geografis tertentu. Selain itu  juga ada bencana yang disebabkan oleh manusia misalnya perang, konflik politik, kekerasan massal, dan kecelakaan yang juga sangat mempengaruhi keselamatan individu dan masyarakat.

Finkelhor & Kendall-Tackett (1997) mendefinisikan bencana sebagai peristiwa yang disebabkan alam atau manusia, yang mana satu kali peristiwa tersebut terjadi dapat menyebabkan sekelompok orang mengalami stres dikarenakan ancaman kematian, kehilangan, terganggunya sistem dukungan sosial, dan ketidakamanan kebutuhan dasar seperti makanan, air, tempat mengungssi dan akses bertemu anggota keluarga. Pratiwi (2011) menyatakan bahwa bencana sering kali terjadi di Indonesia tanpa dapat dicegah dan diprediksi sehingga menyebabkan banyak korban yang terdampak akan berada pada kondisi trauma yang cukup tinggi.

Terjadinya bencana tidak selalu hanya memberikan dampak fisik saja tetapi terbukti terkait dengan masalah kesehatan mental seperti anxiety (kecemasan), stress, depresi dan gangguan trauma pascabencana. Dalam terjadinya bencana selalu terdapat sekelompok masyarakat yang disebut sebagai kelompok rentan. Penelitian tentang kelompok rentan bencana sudah mulai dilakukan di Indonesia terutama saat terjadinya bencana itu sendiri.

Berdasarkan Jurnal Dialog Penanggulangan Bencana yang diterbitkan langsung oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB yang mana memuat salah satu penelitian dalam bidang psikologi bencana yang berjudul Upaya Pengurangan Resiko Bencana pada Kelompok Rentan. Penelitian ini dilakukan oleh Juli Sapti Siregar dan Adik Wibowo pada tahun 2019 yang menggunakan berbagai macam studi literatur tentang penanggulangan bencana dan kelompok rentan bencana seperti jurnal bencana, SFDR, dan undang-undang kebencanaan di Indonesia. Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa kelompok rentan merupakan kelompok yang dinilai memiliki resiko tinggi karena dinilai kurang memiliki kemampuan dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana yang akan terjadi.

Selain itu, kelompok rentan bencana juga diperkirakan akan mengalami dampak bencana yang lebih berat dibandingkan dengan yang bukan kelompok rentan. Terdapat empat kelompok rentan yaitu anak-anak, penyandang disabilitas, lansia, dan perempuan.

Baca Juga  Prodi Dihapus, Arah Pendidikan Dipertaruhkan

Anak-anak menjadi kelompok rentan dikarenakan berada pada faktor usia yang masih kecil dan belum mengalami kematangan dalam pertumbuhan sehingga dapat secara langsung terpapar dampak ketika terjadinya bencana. Oleh karena itu, sistem pemerintahan di Indonesia telah mengeluarkan suatu undang-undang yang berkaitan dengan paparan bencana pada anak, yang diatur dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang mana anak-anak dikelompokkan dalam kategori rentan (Pahleviannur, 2019).

Hal ini menunjukkan, bahwa anak-anak perlu penanganan dan perhatian khusus ketika terjadi bencana. Kerentanan anak-anak terhadap bencana dipicu oleh faktor keterbatasan pemahaman tentang risiko-risiko di sekeliling mereka, yang berakibat tidak adanya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana (Pahleviannur, 2019).

Selain itu, Resilensi bencana yang kurang terhadap anak-anak juga menambah kemungkinan anak-anak terpapar bencana semakin tinggi. Resilensi adalah faktor protektif untuk mempertahankan kesehatan jiwa akibat bencana (Niman & Sari, 2021). Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa kesehatan jiwa pada anak-anak juga menentukan kerentanan terpapar bencana.

Mengutip dari Kompas.com, salah satu contoh bencana sosial yang baru terjadi pada anak yaitu perilaku kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh pimpinan salah satu pondok pesantren di Bandung yaitu HW (36) terhadap 12 orang santriwati yang masih dibawah umur. HW menjanjikan kepada korban akan membiayai pendidikan hingga tingkat lanjut serta mengancam korban untuk tidak menceritakan perilaku bejat HW ini kepada orang diluar pesantren. Bahkan perilaku tercela HW ini mengakibatkan beberapa diantara santriwati tersebut melahirkan dan anak-anak itu dijadikan alasan untuk meminta sumbangan kepada warga sekitar. Peristiwa ini memberikan dampak psikis dan traumatis kepada korban terutama korban masih dibawah umur.

Mengalami reaksi traumatis yang berkelanjutan dapat memicu munculnya gangguan psikologis seperti PTSD (Post traumatic stress disorder). Menurut Tentama (2015) PTSD merupakan reaksi maladaptif yang berkelanjutan terhadap pengalaman atau kejadian yang menimbulkan peristiwa traumatis.

Baca Juga  Ketika Hukuman Penjara Berakhir, Hukuman Sosial Dimulai

Menurut Lubit, Rovine, Defrancisci, & Eth (2003) berpendapat bahwa PTSD yang terjadi pada anak akan dapat menyebabkan masalah perkembangan sehingga dapat memicu munculnya gangguan kesehatan mental yang lainnya seperti kecemasan, stress, depresi, serangan panik dan gangguan kepribadian.

Gejala PTSD yang dialami oleh anak berupa, merasakan takut dengan berlebihan, jantung berdetak kencang, wajah dan tangan tampak memucat dan dibanjiri keringat, menangis ataupun menutupi telinga untuk menghindari sesuatu yang dapat memicu terjadinya trauma. Gejala lain yang diraskan oleh anak adalah tidak dapat berkonsentrasi saat berada di sekolah, gelisah pada saat-saat tertentu, mudah kaget, kesulitan ketika hendak tidur bahkan tidak tertarik lagi dengan kehidupan sosialnya.

Tidak hanya bencana sosial saja tetapi bencana alam seperti meletusnya Gunung Semeru di Jawa Timur juga dapat mengakibatkan serangkaian dampak yang mana akan berpengaruh terhadap kesehatan mental, diantara gangguan kesehatan mental yang dialami oleh anak berupa perubahan sikap seperti menjadi lebih sensitif, mudah marah, melihat atau mendengar sesuatu yang mengingatkan kepada bencana yang pernah dialami akan langsung menangis, anak yang awalnya ceria dan aktif setelah terjadinya bencana cenderung lebih banyak diam dan menarik diri.

Oleh sebab itu, dibutuhkan suatu tindakan pelayanan kesehatan pascabencana tidak hanya bagi korban yang membutuhkan perawatan secara fisik tetapi juga psikologis untuk dapat membantu memberikan penanganan terhadap anak-anak yang terpapar masalah terkait kesehatan mental.

Pencegahan pada kelompok rentan dapat juga dilakukan dengan melibatkan kelompok rentan itu sendiri dalam pengurangan resiko dampak dari bencana. Kelompok rentan bukan berarti kelompok yang hanya bisa pasrah dan menerima apa yang ada dan terjadi kepada mereka, namun kelompok rentan juga bisa mengubah peran dari objek rentan yang rawan terkena bencana menjadi subjek yang siap untuk menghadapi bencana yang akan dihadapi di masa depan.

 

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Psikologi 2019  Fakultas Kedokteran

Universitas Andalas

 

Tag: AnakAspirasibencanaopiniPsikologi
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Zulaizah)

Penyadapan Presiden, Menguji Supremasi Hukum dan Batas Kekuasaan Aparat Negara

Kamis, 5 November 2026, 22:19 WIB
(Ilusgrafis/Nasywa Luthfiiyah Edfa)

“Stop the Wedding!” dan Ketakutan untuk Menikah

Selasa, 3 November 2026, 18:21 WIB
Mahasiswa Ilmu Sejarah UNAND tengah melakukan wawancara pada kegiatan Ekspedisi Sejarah 2026 di Lintau Buo, Sabtu (31/10/2026) (Genta Andalas/Ibnu Muhammad Bintang)

Ekspedisi Sejarah UNAND Gali Ingatan Kolektif dan Identitas Nagari Balai Tangah

Minggu, 1 November 2026, 21:18 WIB
Massa aksi menyampaikan aspirasi di depan Gedung DPRD Provinsi Sumatera Barat, Rabu (28/10/2026) (Genta Andalas/Farid Farhan)

Aksi Massa Lanjutan di DPRD Sumbar Desak Karhutla Jadi Bencana Nasional

Kamis, 29 Oktober 2026, 06:51 WIB
Serah terima jabatan oleh Pemimpin Umum UKPM Genta Andalas periode 2025/2026 Zaki Latif kepada Pemimpin Umum Genta Andalas periode 2026/2027 Oktavia Ramadhani, Senin (26/10/2026)(Genta Andalas/Syifa Alifa)

Oktavia Ramadhani Terpilih menjadi Pemimpin Umum Genta Andalas 2026/2027

Rabu, 28 Oktober 2026, 23:49 WIB
Bentuk aksi simbolik yang membentangkan spanduk protes di kawasan tugu Adipura depan Gedung DPRD Provinsi Sumatera Barat, pada Selasa(27/10/2026) (Genta Andalas/M.Dhiaurrahman Alfatih)

Massa Aksi Desak Pemerintah Tindak Lanjut Persoalan Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026, 01:16 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menerka Masa Depan Indonesia Melalui Teori Siklus Polybius

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Kebakaran Hanguskan Sejumlah Ruko Dekat Kampus UNAND, Kerugian Ditaksir Rp3 Miliar

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Ekspedisi Sejarah UNAND Gali Ingatan Kolektif dan Identitas Nagari Balai Tangah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Gentaandalas.com

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak