Oleh: Nasywa Luthfiyyah Edfa*
Belakangan ini, kalau sedang membuka TikTok, kita mungkin beberapa kali menemukan video dengan tulisan “Stop the Wedding!” yang diiringi lagu Ashe. Isinya macam-macam. Ada yang bercerita baru mengetahui sifat asli pasangannya setelah menikah, ada yang menyesal karena diselingkuhi, bahkan ada yang membagikan pengalaman rumah tangga yang jauh dari bayangan mereka sebelum menikah. Cerita-cerita itu kemudian ramai ditonton dan dikomentari. Tidak sedikit pula yang akhirnya ikut berkomentar bahwa menikah sepertinya bukan pilihan yang menarik.
Awalnya, tren ini mungkin terlihat seperti konten biasa yang lewat di beranda. Namun, kalau diperhatikan, ada banyak cerita serius di baliknya. Ada orang-orang yang benar-benar kecewa dengan pernikahannya, bahkan mengalami hal yang tidak seharusnya dialami siapa pun dalam sebuah hubungan. Di sisi lain, muncul pertanyaan, apakah karena banyak cerita buruk yang kita lihat di TikTok, berarti pernikahan memang seseram itu?
Kita tidak bisa menganggap semua cerita dalam tren tersebut sebagai candaan. Perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, dan pasangan yang tidak bertanggung jawab bukan persoalan sepele. Hal-hal seperti ini benar-benar terjadi dan dialami oleh banyak orang. Bahkan, persoalan kekerasan dalam hubungan juga terlihat dalam Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024. Survei yang disusun oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) tersebut mencatat bahwa 41,2 persen perempuan berusia 15–64 tahun yang pernah menikah atau berpasangan mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan oleh pasangan sepanjang hidupnya. Bentuknya tidak hanya kekerasan fisik, tetapi juga seksual, emosional, ekonomi, dan pembatasan perilaku.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pengalaman buruk dalam hubungan bukan sekadar cerita yang dibuat untuk menarik perhatian di media sosial. Ada persoalan nyata yang perlu dibicarakan. Karena itu, orang-orang yang membagikan pengalamannya tentu punya alasan tersendiri. Bisa jadi mereka ingin didengar, ingin mengingatkan orang lain, atau sekadar ingin mengeluarkan sesuatu yang selama ini mereka pendam.
Namun, ada hal lain yang juga menarik untuk diperhatikan. Ketika cerita-cerita seperti ini terus bermunculan, kita bisa saja mulai merasa bahwa pernikahan selalu berakhir dengan kekecewaan. Satu video muncul, kemudian video lain menyusul dengan cerita yang hampir serupa. Belum lagi komentar-komentar yang ikut menyarankan orang lain untuk tidak menikah. Lama-kelamaan, bukan hanya kisah seseorang yang kita lihat, melainkan seolah-olah gambaran umum tentang kehidupan setelah menikah.
Padahal, pengalaman seseorang tidak bisa langsung dijadikan gambaran untuk semua orang. Rumah tangga yang dipenuhi pertengkaran tentu ada, tetapi bukan berarti semua pernikahan berjalan dengan cara yang sama. Begitu juga dengan orang-orang yang membagikan pengalaman bahagia mereka. Keduanya merupakan bagian dari kenyataan, tetapi tidak satu pun bisa mewakili seluruh kehidupan pernikahan.
Di sinilah kita perlu sedikit lebih hati-hati dalam melihat tren tersebut. Bukan berarti orang harus berhenti bercerita tentang pengalaman buruknya. Justru, cerita seperti itu bisa membuka mata banyak orang terhadap persoalan yang mungkin selama ini dianggap biasa atau bahkan ditutupi. Hanya saja, jangan sampai pengalaman pribadi yang tersebar di media sosial membuat kita terburu-buru menarik kesimpulan tentang sesuatu yang jauh lebih luas.
Media sosial juga punya cara sendiri dalam membuat suatu konten terus muncul di hadapan penggunanya. Ketika kita sering menonton atau berinteraksi dengan video bertema tertentu, bukan tidak mungkin konten serupa kembali muncul. Akibatnya, kita bisa merasa seolah-olah semua orang sedang mengalami hal yang sama. Padahal, yang terlihat di beranda hanyalah sebagian cerita dari kehidupan masyarakat, bukan keseluruhan kenyataan.
Menariknya, tren ini justru bisa menjadi pintu masuk untuk membicarakan hal-hal yang sering luput ketika orang membahas pernikahan. Selama ini, pembicaraan tentang pernikahan kerap ramai ketika menyangkut gedung, pakaian, biaya pesta, dan persiapan hari bahagia. Sementara itu, kehidupan setelah acara selesai tidak selalu mendapat perhatian yang sama. Padahal, ada banyak hal yang perlu dibicarakan, mulai dari pembagian tanggung jawab, kondisi ekonomi, cara menyelesaikan konflik, hingga bagaimana pasangan saling menghargai. Belum lagi persoalan tekanan dari lingkungan sekitar. Tidak sedikit orang yang merasa harus segera menikah karena usia, tuntutan keluarga, atau takut menjadi bahan pembicaraan. Bahkan, ada yang merasa tidak enak jika membatalkan pernikahan setelah berbagai persiapan dilakukan. Padahal, keputusan sebesar itu seharusnya tidak hanya didasarkan pada rasa takut mengecewakan orang lain. Jika ada persoalan serius yang sudah terlihat sebelum menikah, hal tersebut layak dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh.
Ramainya tren “Stop the Wedding!” menunjukkan bahwa cerita buruk tentang pernikahan mudah menarik perhatian di media sosial. Sayangnya, pembicaraan sering berhenti pada unggahan penyesalan dan komentar yang ikut menyarankan orang lain untuk tidak menikah. Padahal, persoalan rumah tangga jauh lebih luas daripada sekadar menyesal telah memilih pasangan. Kekerasan, perselingkuhan, dan pengabaian tanggung jawab tidak seharusnya hanya menjadi bahan konten viral, tetapi perlu dibicarakan sebagai masalah yang benar-benar terjadi di masyarakat.
*Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas







