• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, 1 Agustus 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Prodi Dihapus, Arah Pendidikan Dipertaruhkan

oleh Redaksi
29 April 2026, 22:28 WIB
(Ilusgrafis/Ulya Nur Fadilah)

(Ilusgrafis/Ulya Nur Fadilah)

ShareShareShareShare

Oleh: Nia Rahmayuni*

Rencana pemerintah untuk menutup program studi (prodi) yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan masa depan kembali memantik perdebatan di ruang publik. Wacana ini tidak muncul tanpa latar belakang yang jelas. Setiap tahunnya, jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat, namun pertumbuhan tersebut tidak sepenuhnya diimbangi dengan kemampuan pasar kerja dalam menyerap tenaga kerja baru.

Mengacu pada pemberitaan Pontianak Post (26/4/2026), lonjakan jumlah lulusan tanpa diiringi ketersediaan lapangan kerja menjadi perhatian serius pemerintah. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa sekitar 1,9 juta mahasiswa diwisuda setiap tahun, tetapi tidak sedikit yang berakhir menganggur atau bekerja tidak sesuai bidangnya. Kondisi ini memperlihatkan adanya ketimpangan yang semakin nyata antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri, sehingga mendorong munculnya wacana penutupan prodi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan pasar kerja.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi dasar bagi pemerintah untuk mendorong evaluasi besar-besaran terhadap prodi di perguruan tinggi. Sekilas, langkah ini tampak sebagai solusi cepat untuk mengurangi angka pengangguran terdidik yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, persoalan pendidikan sejatinya tidak bisa disederhanakan hanya pada pilihan menutup atau mempertahankan prodi tertentu.

Jika ditarik lebih dalam, akar persoalan tidak terletak semata pada relevansi suatu disiplin ilmu, melainkan pada bagaimana ilmu tersebut diajarkan, dikembangkan, dan dihubungkan dengan realitas sosial maupun kebutuhan zaman. Banyak prodi yang sering dicap tidak “siap kerja” justru memiliki kontribusi besar dalam membentuk pola pikir kritis, kemampuan analisis yang tajam, serta kepekaan sosial mahasiswa. Kemampuan-kemampuan ini mungkin tidak selalu terlihat secara langsung dalam kebutuhan pasar kerja jangka pendek, tetapi menjadi fondasi penting dalam menghadapi dinamika jangka panjang.

Dalam pemberitaan nasional lain (27/4/2026), pemerintah kembali menegaskan bahwa penyesuaian prodi dengan kebutuhan masa depan merupakan langkah strategis untuk menekan angka pengangguran lulusan perguruan tinggi. Rencana penutupan prodi yang dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan tersebut diposisikan sebagai bagian dari upaya reformasi pendidikan tinggi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa orientasi kebijakan masih sangat bertumpu pada logika pasar kerja sebagai indikator utama keberhasilan pendidikan.

Baca Juga  Jangan Takut Beda, Ini Negerinya Anak Muda

Namun, wacana ini juga menimbulkan kekhawatiran yang tidak bisa diabaikan, terutama bagi bidang pendidikan dan keguruan. Prodi-prodi keguruan kerap dipandang kurang menjanjikan secara ekonomi dibandingkan dengan bidang lain yang lebih berorientasi pasar. Padahal, sektor pendidikan merupakan fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan. Jika prodi keguruan ikut terdampak kebijakan ini, maka dalam jangka panjang bukan tidak mungkin terjadi kekurangan tenaga pendidik yang berkualitas, terutama di wilayah yang selama ini sudah mengalami keterbatasan akses pendidikan.

Tidak hanya itu, penyusutan atau penghapusan prodi keguruan juga berpotensi memperlebar ketimpangan pendidikan antarwilayah. Daerah-daerah yang sejak awal kekurangan tenaga pengajar akan semakin tertinggal jika suplai lulusan pendidikan terus berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa ukuran “relevansi” tidak bisa semata-mata ditentukan oleh kebutuhan industri, tetapi juga harus mempertimbangkan kebutuhan sosial, pemerataan pembangunan, serta keberlanjutan sistem pendidikan nasional secara keseluruhan.

Respons dari kalangan perguruan tinggi pun menunjukkan dinamika yang beragam. Sebagian kampus melihat kebijakan ini sebagai momentum untuk melakukan pembenahan internal dan meningkatkan kualitas program studi. Namun, tidak sedikit pula yang menilai bahwa pendekatan tersebut terlalu menyederhanakan persoalan yang sebenarnya kompleks dan multidimensional.

Mengacu pada laporan Tempo.co (27/4/2026), sejumlah perguruan tinggi menekankan bahwa evaluasi prodi memang diperlukan sebagai bagian dari peningkatan mutu pendidikan. Namun, mereka juga menolak jika solusi yang diambil hanya berhenti pada penutupan prodi tanpa diiringi pembenahan sistem pendidikan secara menyeluruh. Tanpa perubahan pada aspek kurikulum, metode pembelajaran, dan keterhubungan dengan dunia kerja, kebijakan ini dikhawatirkan tidak akan memberikan dampak signifikan.

Di sisi lain, tingginya angka pengangguran lulusan tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada prodi semata. Terdapat faktor lain yang tidak kalah penting, seperti lemahnya keterhubungan antara kampus dan dunia industri, minimnya pengalaman praktis yang dimiliki mahasiswa, serta terbatasnya ketersediaan lapangan pekerjaan. Dalam banyak kasus, lulusan sebenarnya memiliki kapasitas yang memadai, tetapi tidak memiliki akses, jaringan, atau pengalaman yang cukup untuk memasuki dunia kerja secara kompetitif.

Baca Juga  Jokowi akan Pertemukan Putin-Zelensky di KTT G20 pada November Mendatang: Langkah yang Tepat?

Jika persoalan-persoalan tersebut tidak disentuh secara serius, maka penutupan prodi hanya akan menjadi solusi jangka pendek yang bersifat kosmetik. Bahkan, kebijakan ini berpotensi menimbulkan persoalan baru, seperti menyempitnya pilihan pendidikan bagi mahasiswa, terutama di daerah yang sejak awal memiliki keterbatasan akses terhadap program studi yang beragam.

Pendekatan yang lebih tepat seharusnya tidak berfokus pada eliminasi, melainkan pada adaptasi dan transformasi. Prodi yang dianggap kurang relevan perlu diperbarui melalui pengembangan kurikulum yang lebih kontekstual, penguatan keterampilan praktis, serta kolaborasi lintas disiplin ilmu. Sebagai contoh, prodi keguruan dapat diperkaya dengan kompetensi teknologi pendidikan, kewirausahaan, dan literasi digital agar lulusannya lebih fleksibel dalam menghadapi perubahan kebutuhan zaman.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai penyedia tenaga kerja, tetapi juga sebagai ruang pembentukan cara berpikir, karakter, dan kesadaran sosial manusia. Jika seluruh orientasi pendidikan hanya didasarkan pada kebutuhan pasar, maka ada risiko besar bahwa pendidikan kehilangan maknanya sebagai institusi yang membangun peradaban. Kebijakan ini mungkin tampak tegas dan solutif di permukaan. Namun tanpa pembenahan sistem pendidikan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan, langkah tersebut justru berpotensi mempersempit arah pendidikan itu sendiri, sekaligus melemahkan sektor-sektor fundamental seperti keguruan yang selama ini menjadi penopang utama kualitas bangsa.

 

*Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Tag: AspirasiIndustriMahasiswapendidikanPengangguranProdiuniversitas
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Tantri Pramudita)

Ketika Hukuman Penjara Berakhir, Hukuman Sosial Dimulai

28 Juli 2026, 11:14 WIB
(Ilustrasi/Kesih Rianti)

Ketika Penegak Hukum Diduga Tersangka

20 Juli 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Skripsi Tidak Pernah Lebih Berharga dari Nyawamu Sendiri

15 Juli 2026, 21:18 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nurfadillah)

Di Balik Antrean Virtual, Adakah Kesempatan yang Benar-benar Sama?

11 Juli 2026, 21:21 WIB
(Ilusgrafis/Ulya Nur Fadilah)

Konflik Selat Hormuz, Alarm bagi Ketahanan Energi Indonesia

30 Juni 2026, 19:59 WIB
(Ilusgrafis/Ulya Nur Fadilah)

Rekonstruksi GOR Haji Agus Salim dan Nasib PKL yang Terlupakan

29 Juni 2026, 23:28 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Sumbang Duo Baleh, Kode Etik dalam Kebudayaan Minangkabau

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Obsession: Ketika Kamu “Dipelet” Cowok Insecure

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • LBH Padang Soroti Dugaan Kekerasan Negara dan Impunitas pada Peringatan Hari Anti Penyiksaan Internasional

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Setahun Pascakebakaran, Gedung Jati FKM UNAND Masih Terbangkalai

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak