• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Minggu, 20 September 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Skripsi Tidak Pernah Lebih Berharga dari Nyawamu Sendiri

oleh Redaksi
15 Juli 2026, 21:18 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

ShareShareShareShare

Oleh: Ulya Nur Fadilah*

Bagi sebagian besar mahasiswa tingkat akhir, skripsi sering kali dipandang sebagai gerbang penentu masa depan. Namun, di balik tumpukan revisi dan lembaran kertas ilmiah itu, ada tekanan psikis dan fisik yang luar biasa. Demi mengejar target lulus tepat waktu, tidak sedikit mahasiswa yang nekat mengambil jalur ekstrem dengan mengorbankan waktu istirahat secara gila-gilaan. Tidur dipangkas habis-habisan, pola makan berantakan, dan sinyal lelah dari tubuh dianggap angin lalu. Sayangnya, ambisi yang memaksakan diri ini tidak jarang berakhir dengan tragedi memilukan.

Dua peristiwa nyata di tanah air menjadi bukti betapa fatalnya mengabaikan kesehatan demi tugas akhir. Kasus ini datang dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Seorang mahasiswi ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya setelah begadang hingga pukul tiga dini hari demi mengejar tenggat skripsi. Korban yang memiliki riwayat penyakit jantung diduga mengalami serangan fatal akibat kondisi fisik yang drop total setelah berjam-jam terjaga.

Tragedi ini membuka kembali luka lama dari kasus Jehuda Christ Wahyu beberapa tahun lalu. Demi bisa segera maju ke meja sidang, Jehuda nekat mengebut skripsinya selama tujuh hari tujuh malam tanpa tidur yang layak. Lewat unggahan di media sosialnya sebelum berpulang, ia sempat menceritakan betapa hancurnya kondisi fisiknya pasca-maraton akademik tersebut hingga merasa tubuhnya “hampir mati”. Meski akhirnya dinyatakan lulus, daya tahan tubuhnya yang runtuh total memicu komplikasi infeksi kronis dan meningitis (radang selaput otak) yang akhirnya merenggut nyawanya.

Baca Juga  Sekolah Rakyat, Antara Terobosan dan Tambalan Darurat

Secara medis, memaksakan diri bekerja terus-menerus tanpa tidur atau sleep deprivation bukan sekadar rasa kantuk biasa. Laporan ilmiah dari American Heart Association (AHA) menjelaskan bahwa kurang tidur ekstrem secara instan memicu lonjakan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Akibatnya, tekanan darah meningkat drastis dan detak jantung menjadi tidak stabil.

Data dari AHA menunjukkan bahwa kurang tidur kronis (kurang dari 6 jam per malam) dapat meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung hingga 48–50%. Selain itu, riset dari European Heart Journal menegaskan bahwa kurang tidur ekstrem dalam jangka pendek pun dapat memicu gangguan irama jantung (aritmia) akut. Bagi seseorang dengan riwayat masalah jantung laten, seperti pada kasus mahasiswi UIN Tulungagung, hantaman beban kerja jantung yang mendadak ini sangat berpotensi memicu henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest) yang fatal.

Tidak hanya menyerang jantung, maraton begadang berhari-hari juga melumpuhkan sistem pertahanan tubuh. Lembaga riset Sleep Foundation memaparkan bahwa saat kita tidur lelap, tubuh memproduksi protein bernama sitokin yang bertugas melawan infeksi dan peradangan.

Ketika seseorang tidak tidur selama berhari-hari, produksi sitokin ini merosot tajam. Penelitian dari University of California, Los Angeles (UCLA) menunjukkan bahwa kehilangan waktu tidur, bahkan untuk satu malam saja, bisa menurunkan aktivitas sel pembunuh alami (natural killer cells) yang menjadi benteng pertama imun kita hingga 70%. Ketika benteng ini runtuh, bakteri atau virus dapat dengan sangat mudah menginfeksi organ vital. Kondisi imun yang drop total inilah yang menjelaskan mengapa tubuh Jehuda yang awalnya bugar langsung terserang penyakit infeksi berat seperti meningitis bakteri setelah begadang tujuh hari berturut-turut.

Baca Juga  Jumlah Bus UNAND yang Beroperasi akan Ditambah Jika Ramai Peminat

Kedua kasus tragis di atas seharusnya menjadi tamparan keras sekaligus bahan refleksi bersama bagi seluruh sivitas akademika. Kita perlu merenungkan kembali esensi dari sebuah gelar sarjana. Apa gunanya selembar ijazah dan tanda tangan penguji jika sang penulis tidak pernah bisa menghadiri hari wisudanya sendiri? Apa artinya lulus tepat waktu jika harus dibayar dengan tangis duka yang mendalam dari orang tua dan keluarga?

Sebagai mahasiswa, kita harus mulai belajar mendengarkan tubuh sendiri dan tahu kapan harus berhenti. Mengatur waktu dengan bijak, berani mengambil jeda saat kepala mulai pening, serta tidak ragu mengomunikasikan kendala kepada dosen pembimbing adalah langkah krusial yang menyelamatkan nyawa. Skripsi memang sebuah tanggung jawab penting, namun ia hanyalah satu bab kecil dari perjalanan hidup yang masih sangat panjang. Tugas akhir butuh kerja keras, tetapi ia sama sekali tidak pernah berharga untuk ditukar dengan nyawamu sendiri.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Andalas

Tag: #SkripsiMahasiswaopini
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Ketika Bahasa Minang Mulai Canggung di Lidah Gen Z

19 September 2026, 23:58 WIB
Oplus_131072

Di Balik Mimbar dan Meja Guru

17 September 2026, 14:20 WIB
(Ilustrasi/Amanda)

Privilege bagi Masyarakat Dayak: Keadilan atau Perlakuan Khusus?

16 September 2026, 21:00 WIB
(Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

Menagih Paru-Paru Anak di Tengah Dapur yang Harus Tetap Ngebul

15 September 2026, 21:28 WIB
(Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

Berani Cerdas: Saat Sulteng Memilih Pendidikan daripada Popularitas

15 September 2026, 21:02 WIB
(Ilustrasi/Hadid Jailani Latif Utama)

Ketika Bantuan Asing Lebih Dulu Mengetuk Pintu NTT

15 September 2026, 19:17 WIB

TERPOPULER

  • (Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

    Berani Cerdas: Saat Sulteng Memilih Pendidikan daripada Popularitas

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Tradisi Kadaghek: Kerukunan Dalam Budaya Mengantar Jenazah Suku Minang di Tanjung Barulak

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Tak Sekadar Dibuang, Eco Expo 2026 Bahas Nasib Sampah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Spider-Man: Brand New Day, Babak Baru Peter Parker

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak