• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Selasa, 22 September 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Turun di Atas Kertas, Kemiskinan Nyata Masih Menghantui

oleh Redaksi
2 September 2025, 09:31 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

ShareShareShareShare

Oleh: Tantri Pramudita*

Pemerintah melalui Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini mengumumkan penurunan tingkat kemiskinan nasional per Maret 2025 menjadi 8,47 persen atau sekitar 23,85 juta jiwa. Garis kemiskinan nasional ditetapkan sebesar Rp 609.160 per kapita per bulan, yang jika dibagi rata setara Rp 20.305 per hari. Angka ini kemudian ramai diperbincangkan di media sosial, karena dimaknai seolah-olah siapa pun yang mampu membelanjakan lebih dari Rp 20 ribu per hari tidak lagi tergolong miskin. Narasi sederhana ini terdengar masuk akal, tetapi justru berbahaya karena menyederhanakan realitas kemiskinan yang jauh lebih kompleks.

BPS memang menegaskan bahwa garis kemiskinan dihitung per bulan, bukan per hari. Pembagian ke angka harian hanya untuk mempermudah pemahaman publik. Namun, di lapangan, penyederhanaan ini melahirkan persepsi keliru seakan-akan hidup layak bisa dicapai hanya dengan Rp 20 ribu per hari. Padahal, perhitungan garis kemiskinan hanya berbasis pada kebutuhan kalori minimal dan kebutuhan non-makanan yang sangat terbatas. Biaya transportasi, sewa rumah, pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan sosial sama sekali tidak terakomodasi penuh dalam angka itu.

Mari ambil contoh sederhana. Di kota besar seperti Jakarta, Rp 20 ribu bahkan tidak cukup untuk ongkos sekali jalan. Di daerah lain, harga kebutuhan pokok terus melonjak seiring inflasi. Sulit dibayangkan seseorang yang hanya membelanjakan sedikit di atas Rp 20 ribu per hari bisa dikategorikan “tidak miskin.” Kondisi ini membuat standar garis kemiskinan versi pemerintah menuai kritik, baik dari akademisi maupun ekonom.

Baca Juga  Carut Marut Penundaan Pemilu: Modus Pelanggaran Konstitusi Gaya Baru

Salah satu suara kritis datang dari Prof. Ali Khomsan (IPB University), yang menilai garis kemiskinan Rp 600 ribu per bulan terlalu rendah dibanding kebutuhan riil masyarakat. Menurutnya, indikator itu seharusnya mencakup komponen non-makanan yang menentukan kualitas hidup. Pandangan ini sejalan dengan standar internasional. Bank Dunia, misalnya, menetapkan ambang kemiskinan untuk negara berpenghasilan menengah ke atas sebesar US$ 6,85 per hari atau sekitar Rp 115 ribu. Dengan patokan ini, sekitar 68 persen penduduk Indonesia masih tergolong miskin atau rentan miskin berbeda jauh dengan klaim resmi pemerintah.

Perbedaan mencolok ini menimbulkan pertanyaan: apakah angka kemiskinan benar-benar turun, atau kita sekadar mengubah cara menghitungnya? Penurunan kemiskinan di atas kertas memang patut diapresiasi jika dibarengi dengan perbaikan nyata di lapangan. Namun, jika indikatornya terlalu longgar, hasilnya hanyalah ilusi statistik. Bahayanya, pemerintah bisa merasa puas dengan capaian semu sehingga mengurangi urgensi memperjuangkan upah layak, memperluas bantuan sosial, atau memperbaiki akses layanan publik.

Baca Juga  PP Nomor 21 Tahun 2026 dan Harapan Baru Bagi Rupiah

Ada beberapa langkah yang seharusnya ditempuh pemerintah. Pertama, merevisi definisi garis kemiskinan dengan pendekatan biaya hidup layak (living wage) yang mencakup pendidikan, transportasi, kesehatan, dan tempat tinggal. Kedua, membagi kategori kemiskinan menjadi lebih berlapis miskin ekstrem, miskin, rentan miskin, hingga menengah bawah agar kebijakan lebih tepat sasaran. Ketiga, menyelaraskan standar nasional dengan standar internasional demi transparansi dan perbandingan global.

Kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari angka statistik, melainkan dari perbaikan nyata yang dirasakan rakyat. Rp 20 ribu per hari mungkin cukup untuk membeli makanan sederhana, tetapi jelas tidak cukup untuk menjalani kehidupan yang bermartabat. Selama masih ada warga yang harus memilih antara makan atau berobat, atau orang tua yang mengorbankan pendidikan anak demi kebutuhan sehari-hari, maka kemiskinan masih jauh dari selesai. Angka boleh turun, tetapi tugas kita mengentaskan kemiskinan baru tuntas jika standar pengukuran realistis dan kebijakan benar-benar berpihak kepada rakyat.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

 

Tag: IndonesiamiskinRupiah
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Koa dan Tantangan Pewarisan Budaya Minangkabau

21 September 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Nabil Nur Insani)

Batal Dipecat, Keadilan Dipertanyakan

21 September 2026, 21:59 WIB
(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Ketika Bahasa Minang Mulai Canggung di Lidah Gen Z

19 September 2026, 23:58 WIB
Oplus_131072

Di Balik Mimbar dan Meja Guru

17 September 2026, 14:20 WIB
(Ilustrasi/Amanda)

Privilege bagi Masyarakat Dayak: Keadilan atau Perlakuan Khusus?

16 September 2026, 21:00 WIB
(Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

Menagih Paru-Paru Anak di Tengah Dapur yang Harus Tetap Ngebul

15 September 2026, 21:28 WIB

TERPOPULER

  • (Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

    Berani Cerdas: Saat Sulteng Memilih Pendidikan daripada Popularitas

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Tradisi Kadaghek: Kerukunan Dalam Budaya Mengantar Jenazah Suku Minang di Tanjung Barulak

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Tak Sekadar Dibuang, Eco Expo 2026 Bahas Nasib Sampah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak