Padang, gentaandalas.com – Ketimpangan fasilitas antar kampus di lingkungan Universitas Andalas (UNAND) kembali menjadi sorotan. Mahasiswa Kampus 2 di Payakumbuh dan Kampus 3 di Dharmasraya menilai kondisi sarana dan prasarana di kampus mereka masih jauh tertinggal dibanding kampus utama, meski berada di bawah institusi yang sama.
Merespons berbagai keluhan tersebut, pihak universitas mengakui masih terdapat kesenjangan fasilitas di kampus cabang. Wakil Rektor II Bidang Keuangan dan Sumber Daya, Hefrizal Handra, mengatakan kondisi kampus cabang memang masih membutuhkan banyak pembenahan karena pembangunan fasilitas dilakukan secara bertahap.
“Kita memang mengakui adanya perbedaan fasilitas, namun proses mengajar sudah ada, di sana sudah ada tempat kuliah, ada fasilitas laboratorium juga ada di sana, meskipun tidak bagus seperti di kampus utama. Jadi, kita menyediakan sarana dan prasarana, katakanlah standar minimum,” ujar Hefrizal Handra saat diwawancarai Genta Andalas pada Selasa (9/6/2026).
Di Kampus 2 Payakumbuh, Gubernur Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Kiki Mairanda Putra, menilai ketimpangan fasilitas sudah terlihat sejak memasuki area kampus. Menurutnya, kondisi gerbang dan pos keamanan belum mencerminkan lingkungan perguruan tinggi yang representatif. “Seperti awal mula masuk gerbang saja, serasa kita tidak masuk universitas, karena hanya gerbang kosong, pos satpam tidak layak huni atau coretan lainnya,” ujarnya saat diwawancarai Jumat (12/6/2026).
Kiki menjelaskan bahwa meskipun telah ada perbaikan kecil seperti penambahan kipas angin dan lampu, kondisi ruang perkuliahan masih jauh dari ideal. Beberapa ruang kelas mengalami kebocoran, sementara meja dan kursi di lantai tiga sudah tidak layak digunakan untuk kegiatan belajar. “Kondisinya di dalam kelas itu, seperti ada dinding yang bocor. Pada lantai 3, kursi dan meja sudah miring, jadi untuk menulis sudah sangat susah,” katanya.
Ia juga menyoroti kondisi laboratorium komputer yang belum berfungsi optimal karena banyak perangkat tidak dapat digunakan sehingga mahasiswa harus bergantian saat praktikum. “Komputer banyak, namun tidak semua dioperasikan,” ujarnya.
Persoalan serupa juga dirasakan mahasiswa Kampus 3 Dharmasraya. Bupati Fakultas Pertanian Kampus 3, Alfarisi Ramadhani, menyoroti keterbatasan laboratorium yang berdampak pada pelaksanaan praktikum. Menurutnya, sejumlah kegiatan praktikum terpaksa dilakukan di ruang kelas meskipun menggunakan bahan kimia yang berpotensi membahayakan. “Seringkali kegiatan praktikum yang harusnya dilakukan di laboratorium harus dilakukan di ruangan kelas, padahal menggunakan zat kimia berbahaya seperti pestisida,” ujarnya.
Hefrizal Handra mengatakan universitas terus berupaya meningkatkan fasilitas di kampus cabang. Salah satu rencana yang tengah dipersiapkan adalah pembangunan gedung serbaguna di Kampus 2 Payakumbuh. Ia juga menyebut penambahan fasilitas akan disesuaikan dengan perkembangan jumlah mahasiswa dan program studi di kampus cabang.
“Tambah prodi, tambah mahasiswa, tentu tambah fasilitas. Kita akan terus berupaya untuk menyediakan sarana dan prasarana untuk kegiatan pembelajaran yang layak,” ujarnya. Hingga kini, peningkatan fasilitas di kampus cabang masih dilakukan secara bertahap seiring perkembangan jumlah mahasiswa dan program studi di masing-masing kampus.
Reporter: Kesih Rianti dan M. Dhiaurrahman Alfatih
Editor: Auryn Dzakirah







