Padang,gentaandalas.com – Sejumlah mahasiswa mempertanyakan tidak adanya unggahan ucapan perayaan Kenaikan Isa Almasih pada akun Instagram BEM KM Universitas Andalas pada 14 Mei 2026. Pertanyaan tersebut muncul karena sebelumnya akun BEM KM diketahui mengunggah ucapan pada hari besar Islam. Menanggapi hal tersebut, pihak BEM KM dan mahasiswa Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) Universitas Andalas memberikan klarifikasi dalam wawancara pada 17 Mei 2026.
Pihak BEM KM Universitas Andalas menjelaskan bahwa keputusan untuk tidak mengunggah ucapan perayaan agama tertentu di media sosial merupakan hasil kebijakan internal setelah melakukan diskusi dengan sejumlah organisasi keagamaan di lingkungan kampus.
“Kalau ditanya apakah kita tidak mengucapkan, kita mengucapkan juga, bisa dilihat dari caption. Tapi kenapa tidak dibuat di feed, karena sebelumnya sudah berdiskusi dengan beberapa organisasi agama lain dan dari hasil diskusi itu mereka juga sependapat kalau masalah ucapan ini tidak ada aturan yang mengikat dan tidak harus diucapkan,” ujar Wakil Presiden Mahasiswa BEM KM UNAND, Muhammad Firdan, saat diwawancarai Genta Andalas pada Sabtu (17/5/2026).
Firdan menyebutkan kebijakan tersebut diambil agar tidak ada perbedaan perlakuan antaragama di akun media sosial BEM KM UNAND. Menurutnya, ke depan BEM KM memilih untuk tidak mengunggah ucapan seluruh perayaan agama, termasuk Islam.
“Jalan tengahnya ya tidak diucapkan semuanya. Toleransi tidak hanya sebatas postingan, tapi bagaimana memberikan ruang yang sama, kesempatan, serta kenyamanan bagi semua pihak di lingkungan kampus,” katanya.
Pihak BEM juga menegaskan tidak ada intervensi dari pihak kampus terkait kebijakan tersebut. Mereka menyebut keputusan itu murni berdasarkan hasil pertimbangan internal organisasi.
Sementara itu, anggota Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) Universitas Andalas, Rio, menilai perbedaan perlakuan dalam ucapan hari besar keagamaan dapat menimbulkan jarak antarmahasiswa apabila hanya diberikan kepada satu agama tertentu.
Rio menegaskan bahwa kapasitas dirinya dalam wawancara tersebut bukan sebagai perwakilan PMK, melainkan sebagai pihak yang hadir dalam temu ramah bersama BEM KM.
“Saya menyadari bahwa pengucapan perayaan keagamaan bukan hal esensial, namun apabila pengucapan hanya terhadap satu agama, hal itu akan menimbulkan ketimpangan perlakuan dan jarak antarmahasiswa,” ujarnya saat diwawancarai Genta Andalas pada Sabtu (17/5/2026).
Ia menyebutkan dalam temu ramah yang dilakukan bersama pihak BEM KM, organisasi mahasiswa tersebut menjelaskan bahwa dalam pandangan agama Islam, ucapan perayaan agama di luar Islam tidak diperbolehkan. Sebagai solusi, BEM KM memutuskan untuk tidak lagi mengunggah ucapan perayaan keagamaan apa pun di masa mendatang.
Menurut Rio, PMK menyikapi keputusan tersebut secara terbuka karena hal itu merupakan kewenangan BEM KM sebagai lembaga mahasiswa. Meski demikian, ia menilai keputusan tersebut sebenarnya telah ditetapkan sebelum forum diskusi dilakukan.
“Kami juga sempat memberikan solusi agar pengeditan ucapan hari besar agama non-Islam dilakukan oleh anggota BEM yang nonmuslim agar tidak mengganggu kenyamanan teman-teman muslim,” katanya.
Rio berpandangan bahwa langkah yang diambil BEM KM lebih mengarah pada upaya meredam polemik yang berkembang di lingkungan mahasiswa. Ia juga mengaku khawatir tidak semua mahasiswa nonmuslim merasa terwakili dalam forum diskusi yang telah dilakukan.
Ia berharap perbedaan pandangan terkait isu keagamaan dapat disikapi secara terbuka melalui musyawarah serta mengedepankan kepentingan bersama agar tidak berkembang menjadi konflik sosial di lingkungan kampus.
Reporter: Ibnu Muhammad Bintang dan Irfan Deri Saputra
Editor: Nasywa Luthfiyyah Edfa







