Belakangan ini, tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menyentuh level Rp17.600-an mendapat sorotan tajam sekaligus memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Mengutip dari Kompas.com, tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak yang memperbesar tekanan inflasi global, hingga kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang menahan suku bunga tinggi. Situasi ini memicu investor global menarik dananya dari negara berkembang ke aset berbasis dolar AS yang lebih aman.
Berdasarkan kondisi tersebut, pelemahan nilai tukar dapat menimbulkan gangguan perekonomian yang serius jika dibiarkan berlarut-larut. Daya beli masyarakat perlahan mulai terancam seiring dengan bayang-bayang kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, sektor industri, manufaktur, hingga UMKM yang sangat bergantung pada bahan baku impor kini dihadapkan pada posisi yang sangat rentan, yang dampaknya berpotensi memengaruhi investasi hingga memunculkan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).
Fenomena ini sejatinya menyingkap problem yang lebih besar dalam sistem pertahanan ekonomi kita, termasuk kondisi fundamental domestik dan tingkat kepercayaan investor yang menurun. Situasi yang kerap dianggap sebagai dinamika pasar biasa ini menuntut tindakan konkret dari otoritas terkait agar dampaknya tidak menjalar luas. Sebuah kenyataan yang membuat kita sadar bahwa stabilitas nilai tukar adalah nyawa dari daya tahan ekonomi suatu bangsa.
Berdasarkan situasi tersebut, apa sebenarnya penyebab utama sulitnya mata uang kita menguat pada situasi saat ini? Jika kondisi ini terus berlanjut, seberapa besar dampaknya terhadap daya beli masyarakat umum dan mahasiswa? Selain konsumen akhir, sektor usaha atau industri apa yang paling rentan atau dirugikan dengan tingginya nilai tukar dolar saat ini? Terkait solusi penguatan, langkah darurat dan konkret apa yang seharusnya segera dilakukan oleh Bank Indonesia dan pemerintah agar rupiah kembali stabil? Sebagai penutup, adakah saran atau langkah mitigasi untuk masyarakat dalam menghadapi situasi ekonomi yang rentan ini?
(Tantri Pramudita)
Narasumber: Prof. Syafruddin Karimi, Dr., S.E., M.A.
Jawaban:
Secara garis besar, apa penyebab utama sulitnya mata uang kita menguat pada situasi saat ini?
Rupiah sulit menguat karena tekanan datang dari dua arah sekaligus, yakni faktor eksternal dan kerentanan domestik. Dari luar, yield (imbal hasil) global yang tinggi membuat investor meminta imbal hasil lebih besar untuk tetap memegang aset negara berkembang. Dari dalam negeri, ekspor melemah tajam sehingga pasokan devisa tidak cukup kuat menopang rupiah. Data yang sudah dibahas menunjukkan ekspor barang dan jasa turun dari 10,78% yoy (year-on-year/secara tahunan) pada Q2 2025 menjadi hanya 0,79% yoy pada Q1 2026, sementara ekspor April bahkan terkontraksi 3,1% yoy. Pada saat yang sama, rupiah bergerak di sekitar Rp17.660–Rp17.670 per dolar AS, CDS (Credit Default Swap/indikator risiko investasi) lima tahun Indonesia berada di kisaran 89,796–92,788 bps (basis points), dan yield SUN (Surat Utang Negara) 10 tahun naik ke sekitar 6,887%. Angka-angka ini menunjukkan pasar meminta premi risiko lebih tinggi. Jadi, rupiah sulit menguat bukan karena satu sebab tunggal, melainkan karena kombinasi ekspor melemah, permintaan dolar meningkat, suku bunga global tinggi, dan kepercayaan investor yang belum sepenuhnya pulih.
Jika kondisi ini terus berlanjut, seberapa besar dampaknya terhadap daya beli masyarakat umum dan mahasiswa? Apakah ancaman kenaikan harga kebutuhan pokok di pasaran sudah di depan mata?
Jika pelemahan rupiah berlanjut, daya beli masyarakat akan tertekan melalui jalur harga impor, energi, pangan, bahan baku industri, dan biaya distribusi. Saat ini inflasi memang masih terkendali, sekitar 2,42% yoy, dengan inflasi inti 2,44%, sehingga lonjakan harga besar belum sepenuhnya terjadi. Akan tetapi, ancaman kenaikan harga kebutuhan pokok sudah berada di depan mata jika depresiasi rupiah berlangsung lama. Banyak komponen pangan, energi, pupuk, obat, bahan baku industri makanan, dan barang konsumsi masih bergantung pada impor atau harga internasional. Ketika rupiah melemah, pelaku usaha menghadapi biaya lebih tinggi. Pada awalnya, produsen bisa menahan margin. Setelah tekanan berlangsung lebih lama, mereka akan meneruskan biaya itu kepada konsumen. Rumah tangga berpendapatan rendah paling cepat merasakan pukulan karena porsi belanja mereka banyak terserap untuk pangan, transportasi, dan energi. Karena itu, pemerintah harus menjaga stok pangan, distribusi, subsidi tepat sasaran, dan stabilitas harga sebelum depresiasi berubah menjadi inflasi yang memukul rakyat.
Selain konsumen akhir, sektor usaha atau industri apa yang menurut Prof paling rentan atau dirugikan dengan tingginya nilai tukar dolar saat ini?
Sektor usaha paling rentan ialah industri yang banyak memakai bahan baku impor, memiliki utang valas, atau bergantung pada energi dan logistik. Industri farmasi, makanan dan minuman berbasis bahan impor, elektronik, otomotif, tekstil, kimia, pupuk, alat kesehatan, penerbangan, pelayaran, dan manufaktur padat impor menghadapi tekanan paling besar. Pelemahan rupiah langsung menaikkan biaya pembelian bahan baku, mesin, suku cadang, dan pembayaran utang dolar. Sektor properti dan konstruksi juga rentan karena kenaikan suku bunga membuat pembiayaan lebih mahal. Dunia usaha semakin tertekan ketika BI Rate naik dari 4,75% ke 5,25% karena biaya kredit ikut naik dan permintaan domestik berisiko melambat. Di pasar keuangan, tekanan ini sudah tampak melalui IHSG yang melemah sekitar 1,3%–1,5% dan yield SUN 10 tahun yang naik. Jika rupiah terus lemah, perusahaan akan menunda ekspansi, menekan biaya, menaikkan harga, atau mengurangi impor barang modal. Dampaknya dapat menjalar ke investasi dan penciptaan kerja.
Terkait solusi penguatan, langkah darurat dan konkret apa yang seharusnya segera dilakukan oleh Bank Indonesia dan pemerintah agar rupiah kembali stabil?
Bank Indonesia dan pemerintah harus bergerak cepat dengan kebijakan yang konkret, bukan sekadar imbauan agar pasar tenang. BI perlu menjaga rupiah melalui intervensi valas terukur, penguatan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), operasi moneter yang menyerap tekanan spekulatif, dan komunikasi yang konsisten tentang arah suku bunga. Kenaikan BI Rate ke 5,25% sudah memberi sinyal stabilisasi, tetapi BI harus memastikan pengetatan tidak mematikan kredit produktif. Pemerintah perlu memperkuat pasokan devisa melalui kewajiban DHE (Devisa Hasil Ekspor) yang kredibel, percepatan repatriasi DHE, pengawasan under-invoicing (praktik pelaporan nilai ekspor lebih rendah), dan insentif bagi eksportir yang menempatkan valas di dalam negeri. Kementerian Keuangan harus menjaga APBN, kualitas belanja, dan pasar SBN agar yield tidak terus naik. Belanja pemerintah harus diarahkan ke pangan, energi, logistik, ekspor, UMKM, dan sektor padat karya. Jika BI menjaga rupiah dan pemerintah memperkuat devisa serta fiskal, pasar akan melihat negara bekerja secara disiplin. Stabilitas rupiah lahir dari kredibilitas, bukan dari slogan.
Sebagai penutup, adakah saran atau langkah mitigasi dari Prof untuk masyarakat dalam menghadapi situasi ekonomi yang rentan ini?
Masyarakat perlu bersikap rasional, hemat, dan waspada tanpa ikut menciptakan kepanikan. Rumah tangga sebaiknya menata ulang belanja, memprioritaskan kebutuhan pokok, mengurangi konsumsi barang impor yang tidak mendesak, menjaga dana darurat, dan berhati-hati mengambil kredit berbunga tinggi. Pelaku UMKM perlu menghitung ulang biaya bahan baku, mencari pemasok lokal, menjaga arus kas, dan menghindari utang valas tanpa lindung nilai (hedging). Investor ritel perlu memahami bahwa volatilitas rupiah, IHSG, yield, dan CDS menunjukkan pasar sedang menilai ulang risiko. Karena itu, keputusan investasi harus berbasis horizon waktu, kemampuan menanggung risiko, dan kebutuhan likuiditas. Masyarakat juga perlu mendukung produk domestik karena konsumsi barang lokal dapat mengurangi tekanan impor. Sikap terbaik bukan panik membeli dolar atau menimbun barang, melainkan memperkuat ketahanan keuangan keluarga. Dalam situasi seperti ini, disiplin rumah tangga dan kredibilitas kebijakan negara sama-sama menentukan daya tahan ekonomi.
*)Narasumber merupakan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas







