• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Jumat, 24 Juli 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Gentainment Karya Calon Anggota

Bahaya Cacingan Menjadi Alarm Gizi dan Lingkungan

oleh Redaksi
31 Agustus 2025, 09:49 WIB
(Ilustrasi/Dila Febrianti)

(Ilustrasi/Dila Febrianti)

ShareShareShareShare
(Ilustrasi/Dila Febrianti)

Kasus infeksi cacing gelang yang menyebabkan kematian seorang balita bernama Raya yang berusia 4 tahun asal Sukabumi, mendapat sorotan publik sekaligus tanda tanya di tengah masyarakat. Ia meninggal dunia pada 22 Juli 2025 di RSUD R. Syamsudin dalam kondisi mengenaskan, dengan tubuh dipenuhi cacing gelang (Ascaris lumbricoides) hingga menyebar ke organ vital.

Mengutip dari Antaranews.com Cacing gelang merupakan parasit yang hidup di usus manusia. Telurnya dapat masuk ke tubuh melalui makanan, minuman, atau tangan yang terkontaminasi. Setelah tertelan, telur akan menetas menjadi larva di usus halus dan kemudian menyebar ke paru-paru sebelum kembali ke usus untuk berkembang menjadi cacing dewasa. Setelah menetas di usus halus, larva cacing gelang dapat berpindah ke paru-paru, memicu gejala seperti batuk, demam, dan sesak napas. Proses ini menunjukkan bagaimana parasit ini dapat mempengaruhi berbagai organ tubuh sebelum kembali ke usus.

Berdasarkan hal tersebut infestasi cacing gelang dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang serius, sehingga penting untuk menjaga kebersihan dan melakukan penanganan medis segera. Pada anak-anak, infeksi cacing gelang berisiko menghambat pertumbuhan dan perkembangan akibat malnutrisi yang ditimbulkan. Hal tersebut kemudian yang awalnya diyakini dialami oleh Raya.

Tidak hanya itu, dalam laporan medis juga ditemukan adanya kemungkinan penyakit lain, seperti TBC yang turut memperburuk kondisi Raya. Melalui hal tersebut dapat diketahui bahwa betapa rumitnya dalam mendiagnosis gejala suatu penyakit. Seperti pada gejala askariasis yang samar kerap menyerupai penyakit lain, sehingga diperlukan pemeriksaan laboratorium yang teliti untuk memastikan penyebab utama. Tanpa diagnosis yang akurat, anak-anak berisiko mendapatkan penanganan yang terlambat atau bahkan salah arah. Pada hakikatnya tragedi ini bukan hanya menyingkap soal penyakit kecacingan, tetapi juga mengungkap problem besar lain seperti gizi buruk, lingkungan yang tidak sehat, pola asuh anak yang minim, hingga sulitnya akses kesehatan karena keterbatasan administrasi keluarga. Sebuah kenyataan yang membuat kita sadar, penyakit yang kerap dianggap ringan ternyata bisa berujung maut.

Hal ini kemudian menjadi suatu tantangan bagi seorang ahli parasitologi, dimana kasus Raya menjadi salah satu bentuk peringatan keras tentang bagaimana askariasis masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Penyakit ini sering dipandang sebelah mata, padahal infeksi berat dapat merusak organ, memicu malnutrisi, hingga mengancam nyawa anak-anak. Di tengah gencarnya program kesehatan, fakta bahwa seorang balita bisa meninggal dengan kondisi demikian menunjukkan masih ada celah besar dalam sistem pencegahan dan pengendalian penyakit berbasis lingkungan.

Baca Juga  Coroscope, Stetoskop Digital dalam Penanganan Pasien Covid-19

Disisi lain perasaan khawatir yang banyak dirasakan oleh masyarakat membuat mereka berbondong-bondong membeli obat cacing hingga menjadi menciptakan sebuah tren baru di media sosial. Fenomena ini memperlihatkan dua sisi yang kontras. Di satu sisi, ada kesadaran baru tentang pentingnya pencegahan. Namun di sisi lain, konsumsi obat tanpa resep dan tanpa pengawasan justru bisa menimbulkan masalah kesehatan yang baru.

Berdasarkan kasus tersebut Bagaimana seorang ahli parasitologi memandang kasus infeksi cacing gelang (Ascaris lumbricoides) yang dianggap sebagai penyebab kematian seorang balita bernama Raya? Bagaimana tantangan dalam membedakan askariasis dengan penyakit lain terutama setelah ditemukan adanya diagnosis lain seperti TBC? Apakah trend yang dipicu oleh kasus Raya yang berupa tren minum obat cacing massal di media sosial di kalangan masyarakat yang ramai membeli obat cacing bahkan tanpa resep dokter menjadi risiko bertambah nya kasus atau malah sebaliknya? Bagaimana langkah yang paling tepat untuk mencegah kasus seperti Raya agar tidak terulang? (Dila Febrianti).

Narasumber: Dr.dr. Selfi Renita Rusjdi M.Biomed*

Jawaban:

Bagaimana seorang ahli parasitologi memandang kasus infeksi cacing gelang (Ascaris lumbricoides) yang dianggap sebagai penyebab kematian seorang balita bernama Raya?

Kondisi Raya kemungkinan ada underlying disease yang menyebabkan dia menjadi lebih rentan untuk mengalami infeksi cacing Ascaris lumbricoides. Hal ini bisa saja diawali dengan asupan gizi yang tidak kuat, memudahkan Raya terkena penyakit infeksi, termasuk infeksi cacing. Selain itu, infeksi cacing itu juga bersifat lingkaran setan dengan status gizinya, semakin berat infeksi cacing, maka akan semakin terganggu juga status gizi anak. Namun, kemungkinan besar kematian Raya tidak disebabkan langsung oleh kecacingannya, tetapi bersifat memperburuk kondisi underlying diseasenya. Hal ini karena cacing Ascaris berhabitat di saluran pencernaan, kalau pun ada migrasi ektopik, biasanya terbatas di organ parenkim intra abdomen atau paru-paru. Migrasi ke paru tersebut terjadi pada stadium larva, bukan cacing dewasa.

Baca Juga  Virus Human Metapneumovirus (HMPV) Dapat Menjadi Ancaman Kesehatan Global

Bagaimana tantangan dalam membedakan askariasis dengan penyakit lain terutama setelah ditemukan adanya diagnosis lain seperti TBC? 

Prinsipnya kita tidak membedakan, tetapi mengeksplora penyakit apa saja yg diderita oleh pasien. Karena seorang pasien dapat saja mengalami berbagai macam penyamit infeksi. Sementara itu, terkait kondisi dan latar belakang Raya yang tinggal di lingkungan yang kurang bersih, pengasuhan yang tidak ideal, status ekonomi yang kurang dapat menjadi faktor resiko berbagai gangguan dan penyakit seperti gangguan gizi, infeksi TBC, dan parasit usus. Untuk itu, bagaimana pun tenaga medis punya kewajiban untuk melakukan pemeriksaan lengkap untuk mengetahui penyakit apa saja yg diderita Raya. Khusus infeksi parasit usus, pemeriksaan feses merupakan gold standar untuk memastikan diagnosisnya.

Apakah trend yang dipicu oleh kasus Raya yang berupa tren minum obat cacing massal di media sosial di kalangan masyarakat yang ramai membeli obat cacing bahkan tanpa resep dokter menjadi risiko bertambah nya kasus atau malah sebaliknya? 

Hal tersebut tentu saja sangat berisiko. Sebab, minum obat cacing dianjurkan setiap 6 bulan sekali. Selain itu, minum obat cacing harus sesuai dosis dan indikasi, atau tujuannya untuk preventif (1× 6 bulan). Kalau membabi buta mengkonsumsi tanpa indikasi dan dosis yang tidak sesuai, sangat tidak dianjurkan. Karena hal tersebut dapat memicu gangguan kesehatan bukan memperbaik kondisi. Oleh karena itu sudah jelas bahwa trend tersebut salah dan tidak seharusnya untuk ditiru apalagi sampai dilakukan.

Bagaimana langkah yang paling tepat untuk mencegah kasus seperti Raya agar tidak terulang? 

Dalam hal ini lini pertama yang bertanggung jawab melakukan skrining atas anak-anak seperti Raya tersebut adalah puskesmas terdekat yang menaungi wilayah tempat tinggal Raya. Dengan berbagai faktor risiko yang ada pada Raya, nakes puskesmas harus segera bertindak untuk memperbaiki keadaan Raya. Mulai dari memperbaiki status gizi, pemeriksaan lengkap terhadap berbagai risiko penyakit yang diderita Raya, serta tatalaksana pengobatan yang komprehensif. Namun tata laksana ini tidak berhenti di pengobatan saja, tetapi juga upaya pencegahan supaya penyakit tidak berulang, pencegahan penularan ke orang lain serta meningkatkan status kesehatan pasien.

*Narasumber merupakan Dosen Departemen Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

 

Tag: balitacacingankesehatan
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Poster film Toy Story 5/Disney Indonesia

Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

3 Juli 2026, 13:09 WIB
Pertunjukan drama berjudul "TPS" menghadirkan adegan di area pelepasan suara, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Syifa Alifah)

Mahasiswa Sastra Indonesia UNAND Unjuk Kepiawaian Berakting

2 Juli 2026, 16:32 WIB
Pementasan drama Nurani oleh mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2024 dalam Festival dan Seminar Teater Indonesia di FIB UNAND, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Zulaizah)

Sastra Indonesia UNAND Gelar Festival dan Seminar Teater Indonesia

2 Juli 2026, 16:20 WIB
Massa aksi menyampaikan aspirasi di depan pintu masuk Kantor Gubernur Sumatera Barat pada Kamis (25/06/2026) (Genta Andalas/Aurelia Syabandini)

Aksi Jilid II Mahasiswa Soroti Transparansi APBD hingga Harga BBM

27 Juni 2026, 00:09 WIB
(Ilustrasi/Kesih Rianti)

Kesenjangan Fasilitas Bayangi Kampus Cabang UNAND 

23 Juni 2026, 17:06 WIB
Diskusi Publik bertajuk Implikasi Hukum Putusan Praperadilan terhadap Putusan Peradilan Militer Andrie Yunus yang diselenggarakan oleh PBHI Sumatera Barat di Padang, Senin (22/6/2026) (Genta Andalas/Syifa Alifah)

PBHI Sumbar Soroti Implikasi Putusan Praperadilan terhadap Kasus Andrie Yunus

23 Juni 2026, 16:36 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mahasiswa Sastra Inggris UNAND Gelar English Drama Performance 2026

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Rekonstruksi GOR Haji Agus Salim dan Nasib PKL yang Terlupakan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak