• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Minggu, 13 September 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Berita

LPK FIB UNAND Gelar Diskusi Publik tentang Sastra dan Krisis Lingkungan

oleh Redaksi
3 September 2026, 21:52 WIB
Diskusi Publik bertajuk “Membaca Kerusakan Alam Melalaui Sastra" oleh Labor Penulisan kreatif (LPK) dan Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia( PBHI) di ruang seminar FIB pada kamis (3/9/2026) (Genta Andalas/Sargita Asmara Dewi)

Diskusi Publik bertajuk “Membaca Kerusakan Alam Melalaui Sastra" oleh Labor Penulisan kreatif (LPK) dan Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia( PBHI) di ruang seminar FIB pada kamis (3/9/2026) (Genta Andalas/Sargita Asmara Dewi)

ShareShareShareShare

Padang, gentaandalas.com – Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Labor Kepenulisan Kreatif (LPK) Universitas Andalas (UNAND) menggelar diskusi publik bertajuk “Membaca Kerusakan Alam Melalui Sastra: Perspektif Ekokritik dalam Merespons Krisis Lingkungan” pada Kamis, (3/9/2026) di Ruang Seminar FIB UNAND. Kegiatan Tersebut diselenggarakan bekerja sama dengan Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) Sumatera Barat (Sumbar) dan terbuka untuk umum. Diskusi tersebut membahas hubungan sastra, lingkungan, dan persoalan ekologis yang terjadi di Sumbar. Kegiatan menghadirkan beberapa pemateri, yakni dosen Sastra Indonesia FIB UNAND, Syafril, Jurnalis, Aidil Ichlas, dan dari PBHI Sumatera Barat, Ridho Alsyukri.

Ketua pelaksana kegiatan, Nada Aprila Kurnia, menjelaskan tema ekokritik dipilih karena meningkatnya berbagai kasus kerusakan lingkungan dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, masyarakat selama ini lebih sering melihat persoalan lingkungan melalui data dan jumlah korban, sementara sastra jarang dipandang sebagai cara untuk membaca dan menyuarakan persoalan tersebut. “Kami ingin menunjukkan bahwa sastra juga punya cara pandang terhadap kerusakan lingkungan. Sastra mungkin tidak bisa menghentikan krisis ekologis, tetapi sastra bisa membuat kita merasakan apa yang sedang terjadi di bumi kita,” ujarnya.

Baca Juga  Dugaan Penyelewengan Dana Asrama Mahasiswa PMM Inbound Unand

Dalam pemaparannya, Mayang Putih Ifanny menjelaskan Sumatera Barat menjadi salah satu daerah yang penting dikaji melalui perspektif ekokritik karena berbagai persoalan ekologis, seperti banjir, kebakaran hutan, dan kerusakan lingkungan terus bermunculan. Ia mencontohkan karya sastra yang menggambarkan kerusakan alam sebagai bentuk kritik terhadap kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Sementara itu, jurnalis Aidil Ichlas menyebut Sumatera Barat sebagai laboratorium bencana karena rentan terhadap gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor, hingga ancaman megathrust Mentawai. Menurutnya, sejumlah bencana tidak semata-mata disebabkan faktor alam, tetapi juga dipengaruhi eksploitasi lingkungan, aktivitas perusahaan, dan kebijakan pembangunan yang berdampak pada masyarakat. Aidil juga membagikan pengalamannya meliput banjir bandang di Sumatera Barat pada 2025. Menurutnya, kisah penyintas yang kehilangan keluarga, rumah, hingga dokumen penting dapat menjadi inspirasi karya sastra yang membangun empati terhadap korban bencana.

Baca Juga  Keamanan Kampus Kurang Efektif , BEM KM Unand Gelar Aksi Seruan Keamanan Kampus

Pembahasan dilanjutkan Syafril yang mengulas teori hegemoni dan kontrahegemoni Antonio Gramsci dalam sastra ekologis. Ia menjelaskan karya sastra tidak hanya dapat menceritakan kerusakan alam, tetapi juga membongkar relasi kuasa di balik eksploitasi lingkungan dan membangun kesadaran kritis terhadap narasi pembangunan yang mengabaikan aspek ekologis.

Dari perspektif hukum dan hak asasi manusia, Ridho Alsyukri menilai sastra dapat menyadarkan masyarakat dengan menggambarkan dampak kerusakan lingkungan secara lebih dekat dengan kehidupan manusia. “Ketika hutan ditebang, sastra bisa menjelaskan bahwa masyarakat kehilangan sumber air, sungai tercemar, muncul penyakit, dan kehidupan masyarakat ikut terdampak. Sastra menghadirkan dampak itu secara langsung kepada manusia,” jelas Ridho.

Reporter: Amanda dan Sargita Asmara Dewi 

Editor: Auryn Dzakirah 

Tag: #unand #genta AndalasUnand
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Jihan Aurelia Syabandini)

Parkir Padat dan Tak Teratur Jadi Persoalan di Lingkungan UNAND

13 September 2026, 01:06 WIB
(Ilusgrafis/Amanda)

Di Tengah Ancaman Bencana, Anggaran BNPB Justru Menyusut

12 September 2026, 23:44 WIB
(Ilusgrafis/Sargita Asmara Dewi)

Karhutla: Hilangnya Rumah bagi Penghuni Hutan

6 September 2026, 15:15 WIB
(Ilusgrafis/Aulya Rindu Ramadan)

Prioritas Presiden Antara Diplomasi dan Keselamatan Rakyat di Tengah Karhutla

5 September 2026, 03:38 WIB
Suasana sesi diskusi bertajuk “Ekonomi Restoratif Bencana Ekologis Deforestasi” dalam diskusi publik di Sekretariat AJI Padang, Rabu (2/9/2026). (Genta Andalas/Hadid Jailani Latif Utama)

Pemulihan Bencana di Sumbar Dipertanyakan, Penyintas Masih Menunggu Hunian Tetap

4 September 2026, 09:07 WIB
Rapat koordinasi pembayaran kewajiban dana Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan untuk 
kegiatan organisasi kemahasiswaan (ormawa) tahun 2022 pada Kamis (03/09/2026) (Genta Andalas/ Zaki Latif Bagia Rahman)

Pencairan Dana Kemahasiswaan, Ormawa Diminta Lengkapi LPJ kegiatan 2022

4 September 2026, 09:02 WIB

TERPOPULER

  • (Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

    Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Tradisi Kadaghek: Kerukunan Dalam Budaya Mengantar Jenazah Suku Minang di Tanjung Barulak

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Mengenal Sumbang Duo Baleh, Kode Etik dalam Kebudayaan Minangkabau

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Prosesi dan Perayaan Tabuik Pariaman

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak