Padang, gentaandalas.com– Hujan deras yang mengguyur kawasan Universitas Andalas (UNAND) berdampak pada sejumlah infrastruktur saluran air di lingkungan kampus. Kondisi tersebut terlihat dari adanya saluran air yang mengalami kebocoran serta drainase di belakang Fakultas Farmasi yang kembali mengalami kerusakan.
Wakil Rektor II UNAND Bidang Keuangan dan Pengelolaan Aset, Hefrizal Handra, mengatakan kerusakan saluran air ditemukan di sekitar kawasan Fakultas Farmasi hingga ujung lapangan sepak bola. Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan faktor hidrometeorologi dan curah hujan sehingga perlu segera mendapatkan perbaikan.
“Terdapat saluran air rusak di dekat Farmasi, di belakang Gedung C, sampai ujung lapangan bola ada banyak kebocoran, karena hidrometeorologi, juga curah hujan,” ujar Hefrizal saat diwawancarai Genta Andalas pada Rabu (12/8/2026).
Hefrizal mengatakan kondisi tersebut perlu segera diperbaiki. Ia juga menyebutkan kerusakan yang terjadi merupakan kondisi yang tidak terduga sehingga pihak UNAND perlu mencari cara untuk melakukan perbaikan. Selain kerusakan saluran, kondisi permukaan di sekitar lokasi juga menjadi perhatian karena sebagian area telah terbuka dan vegetasinya berkurang.
Sementara itu, drainase di belakang Fakultas Farmasi mengalami kerusakan dan kembali jebol setelah sebelumnya pernah diperbaiki. Salah seorang petugas kebersihan Fakultas Farmasi, Emeli, mengatakan kerusakan tersebut telah terjadi sekitar enam bulan. Ia menyebutkan saluran tersebut sudah dua kali mengalami kerusakan, yakni saat terjadi banjir bandang dan pada kerusakan yang terjadi saat ini. Ia menduga fondasi saluran yang kurang kuat menjadi salah satu kemungkinan penyebab saluran kembali hancur.
“Prediksi Ibu air besar, sebelum banjir bandang dulu. Sepertinya sekitar enam bulan, dulu pernah diperbaiki, namun jebol kembali. Mungkin karena fondasinya kurang kuat, nah, hancur lagi. Sudah dua kali jebol, pertama saat banjir bandang, dan sekarang,” ujar Emeli saat diwawancarai Genta Andalas pada Kamis (13/8/2026).
Kerusakan drainase tersebut turut berdampak pada pekerjaan petugas kebersihan. Emeli mengatakan ketika hujan deras, air dapat naik ke area tanah dan membawa sampah ke permukaan. Kondisi tersebut membuat sampah kembali menumpuk sehingga petugas harus melakukan pekerjaan tambahan untuk membersihkannya.
Menurut Emeli, pihak terkait sebelumnya telah melakukan pemantauan terhadap lokasi drainase yang rusak. Namun, hingga saat wawancara dilakukan, pekerjaan perbaikan belum dimulai. Emeli mengatakan perbaikan kemungkinan dilakukan pada akhir tahun atau pada 2027, meskipun waktu tersebut masih berupa perkiraan.
“Kemarin dari pihak atas sudah memantau, cuman mungkin kerjaannya belum dimulai. Mungkin 2027 atau enggak akhir tahun. Biasanya di akhir tahun diperbaiki,” ujar Emeli.
Emeli berharap perbaikan dapat dilakukan secepatnya. Baginya, kondisi drainase yang rusak tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik saluran, tetapi juga berdampak pada pekerjaan petugas ketika hujan turun dan air membawa sampah ke sekitar area tersebut.
Sementara itu, Hefrizal menekankan pentingnya perawatan dan pemeliharaan infrastruktur sebagai bagian dari upaya efisiensi di lingkungan UNAND. Menurutnya, kelemahan dalam perawatan dan pemeliharaan dapat menyebabkan pengeluaran yang tidak efisien. Ia juga menyebut kerusakan pada instalasi yang telah masuk ke dalam lingkungan tanggung jawab Unand perlu mendapatkan perhatian.
Kondisi sejumlah saluran air tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan infrastruktur air di lingkungan UNAND tidak hanya berkaitan dengan pembangunan, tetapi juga membutuhkan pemeliharaan secara berkelanjutan. Sementara perbaikan saluran air masih menjadi perhatian pihak UNAND, kerusakan drainase di belakang Fakultas Farmasi juga menunggu tindak lanjut agar dampaknya terhadap lingkungan dan pekerjaan petugas tidak terus berulang.
Reporter: Amanda dan M. Dhiaurrahman AlFatih
Editor: Oktavia Ramadhani







