• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 5 November 2026
Gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Gentaandalas.com
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Berita

Inkonsistensi Kebijakan Warnai 200 Hari Pemerintahan Prabowo-Gibran

oleh Redaksi
9 Mei 2025, 21:17 WIB
Ilustrasi/ Asyani Rahayu Simantupang

Ilustrasi/ Asyani Rahayu Simantupang

ShareShareShareShare
Ilustrasi/ Asyani Rahayu Simantupang

Oleh: Asyani Rahayu Simatupang 

Memasuki 200 hari masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, hasil evaluasi yang dilakukan oleh The Indonesian Institute (TII) menunjukkan sejumlah catatan serius terhadap kinerja pemerintah, khususnya dalam hal konsistensi kebijakan dan partisipasi publik. Penilaian ini dilakukan melalui pendekatan metode campuran, yaitu gabungan antara penilaian kuantitatif berupa skor dan analisis kualitatif yang didasarkan pada riset pustaka serta wawancara mendalam dengan para akademisi, pengamat, pelaku usaha, hingga aktivis kebijakan publik. Lima indikator utama yang menjadi dasar penilaian tersebut adalah Key Performance Indicator (KPI), konsistensi kebijakan, kolaborasi lintas sektor, partisipasi publik, dan komunikasi publik. Dari lima indikator itu, dua di antaranya mencatat skor terendah, yaitu konsistensi kebijakan sebesar 44,27 persen dan partisipasi publik sebesar 42,71 persen.

Menurut Direktur Eksekutif TII, Adinda Tenriangke Muchtar, banyak kebijakan pemerintah dinilai tidak konsisten, cenderung berubah-ubah mengikuti tekanan publik, bersifat seremonial, dan kerap tidak dilandasi strategi jangka panjang yang jelas. Contoh yang disorot adalah kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12 persen serta kebijakan impor mobil listrik yang dinilai inkonsisten dan minim kajian data. Di sisi lain, pemerintah justru dinilai mengambil langkah-langkah yang bertentangan dengan prinsip efisiensi yang mereka gembar-gemborkan sendiri, seperti penunjukan figur publik sebagai staf khusus di kementerian maupun pembentukan berbagai satuan tugas baru yang berimplikasi pada penambahan beban anggaran negara.

Baca Juga  Pentingnya Anggota yang Aktif dan Besar Indeks SHU bagi Koperasi

Selain itu, partisipasi publik dalam proses perumusan kebijakan juga dinilai sangat minim. Keterlibatan masyarakat hanya bersifat formalitas dan tidak benar-benar mencerminkan proses deliberatif yang inklusif. Pemerintah lebih sering bersikap reaktif ketimbang proaktif dalam melibatkan masyarakat sejak awal pembahasan kebijakan. Pelibatan kelompok rentan seperti masyarakat adat, penyandang disabilitas, perempuan, lansia, maupun kelompok ekonomi bawah sangat terbatas. Beberapa kebijakan yang disorot karena minim partisipasi adalah pembentukan Badan Pengelola Investasi Danantara, program Makan Bergizi Gratis, serta revisi Undang-Undang TNI.

Baca Juga  Tanggapi Penyelewengan Dana di UNAND, BPK Sumbar: Prosesnya Butuh Banyak Tahap

Sementara itu, indikator lain seperti kolaborasi lintas sektor mendapat skor 55,73 persen, KPI sebesar 60,94 persen, dan komunikasi publik mencatat skor tertinggi yaitu 77,60 persen. Meski secara umum rapor pemerintah masih dinilai lemah, terdapat beberapa catatan positif, seperti langkah Kementerian Kesehatan dalam membangun kebijakan berbasis data. Beberapa kebijakan Kemenkes yang diapresiasi adalah pemerataan layanan kesehatan, deteksi dini penyakit tidak menular, serta penanggulangan penyakit seperti TBC.

Kendati demikian, Presiden Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna pada 5 Mei 2025 mengklaim bahwa kinerja pemerintahannya berjalan baik dan timnya bekerja secara kompak. Pemerintah berencana meluncurkan 53 Sekolah Rakyat dan melanjutkan berbagai program subsidi. Total anggaran subsidi saat ini mencapai sekitar Rp500 triliun per tahun, belum termasuk program Makan Bergizi Gratis yang ditargetkan menyerap dana hingga Rp170 triliun pada akhir 2025.

Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas 

Editor: Nurul Ilmi Ramadhani 

BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Mahasiswa Ilmu Sejarah UNAND tengah melakukan wawancara pada kegiatan Ekspedisi Sejarah 2026 di Lintau Buo, Sabtu (31/10/2026) (Genta Andalas/Ibnu Muhammad Bintang)

Ekspedisi Sejarah UNAND Gali Ingatan Kolektif dan Identitas Nagari Balai Tangah

1 November 2026, 21:18 WIB
Massa aksi menyampaikan aspirasi di depan Gedung DPRD Provinsi Sumatera Barat, Rabu (28/10/2026) (Genta Andalas/Farid Farhan)

Aksi Massa Lanjutan di DPRD Sumbar Desak Karhutla Jadi Bencana Nasional

29 Oktober 2026, 06:51 WIB
Serah terima jabatan oleh Pemimpin Umum UKPM Genta Andalas periode 2025/2026 Zaki Latif kepada Pemimpin Umum Genta Andalas periode 2026/2027 Oktavia Ramadhani, Senin (26/10/2026)(Genta Andalas/Syifa Alifa)

Oktavia Ramadhani Terpilih menjadi Pemimpin Umum Genta Andalas 2026/2027

28 Oktober 2026, 23:49 WIB
Bentuk aksi simbolik yang membentangkan spanduk protes di kawasan tugu Adipura depan Gedung DPRD Provinsi Sumatera Barat, pada Selasa(27/10/2026) (Genta Andalas/M.Dhiaurrahman Alfatih)

Massa Aksi Desak Pemerintah Tindak Lanjut Persoalan Karhutla

28 Oktober 2026, 01:16 WIB
Nelayan lokal sedang menjala ikan di pinggiran Pantai Carolina, Minggu (30/8/2026) (Tantri Pramudita)

Carolina dalam Riuh Ombak dan Teduh Pepohonan

24 Oktober 2026, 23:42 WIB
Ilusgrafis/Ulya Nur Fadillah

Menjelang Akhir Kepengurusan, Struktur Kabinet BEM KM UNAND Tuai Pertanyaan

24 Oktober 2026, 00:12 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menerka Masa Depan Indonesia Melalui Teori Siklus Polybius

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Kebakaran Hanguskan Sejumlah Ruko Dekat Kampus UNAND, Kerugian Ditaksir Rp3 Miliar

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Ekspedisi Sejarah UNAND Gali Ingatan Kolektif dan Identitas Nagari Balai Tangah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Gentaandalas.com

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak