Oleh: Maulina*
Di tengah hamparan alam Minangkabau yang asri, kawasan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, menyimpan sebuah warisan budaya yang lekat dengan ingatan masyarakat setempat. Bukan sekadar batu yang diletakkan di depan Balai Nagari, Batu Bujang Juaro menyimpan kisah dan cerita lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, di balik keunikan bentuk dan kisah mistisnya, tersimpan fenomena sosial berupa perbedaan pemahaman antara generasi tua dan muda terhadap warisan budaya lokal tersebut.
Bagi para sesepuh nagari, keberadaan Batu Bujang Juaro bukan sekadar hiasan kampung, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Situjuah. Salah seorang tetua kampung, Baruni (70), menuturkan kembali bagaimana batu tersebut bermula dari tradisi gotong royong nenek moyang di masa lampau. “Dulu kalau ada suku yang ingin membangun Rumah Gadang, warga pasti bergotong royong pergi ke rimba untuk mengambil bahan-bahan seperti kayu dan batu. Dan saat menebang pohon yang sangat besar, warga terkejut karena di dalam pohon itu ada batu yang cukup besar dan bentuknya sangat spesial yang bagian bawah batu menyerupai lima jari. Karena bentuknya yang menarik maka batu itu dibawa ke kampung.”
Warga sepuh lainnya, Iki (65), membagikan kisah magis seputar upaya pemindahan batu tersebut yang sempat menghebohkan warga pada masanya. “Dulu batu itu diletakkan di halaman balai. Tapi pernah suatu hari batu itu diculik. Anehnya, meskipun sudah dicuri dan dibawa pergi, batu itu tetap bisa kembali sendiri ke tempat semula secara misterius,” tutur Iki saat diwawancarai pada, Jum’at (14/08/2026). Ia menambahkan, karena seringnya insiden penculikan tersebut, warga akhirnya memutuskan untuk mengkerangkeng batu itu agar tetap aman. Menurut Iki, bentuk bagian bawah batu yang menyerupai lima jari juga menjadi salah satu cerita yang dikaitkan masyarakat dengan penamaan Situjuah Limo Nagari.
Berbanding terbalik dengan para tetua yang masih mengingat cerita tersebut, pemandangan berbeda justru terlihat dari kalangan mudanya. Pengetahuan mengenai sejarah batu tersebut tampaknya tidak sepenuhnya sampai kepada generasi muda. Salah seorang pemudi yang lahir dan besar di kawasan tersebut, Zahra (19), mengaku kurang memahami latar belakang historis dari batu tersebut. “Jujur aku tau ada batu di depan balai yang dikerangkeng, tapi untuk nama dan sejarahnya aku gatau,” ujar Zahra saat diwawancarai pada Jum’at (14/08/2026).
Perbedaan pengetahuan antara para tetua dan generasi muda tersebut menggambarkan salah satu persoalan dalam pewarisan budaya lokal. Legenda Batu Bujang Juaro tidak hanya berbicara tentang mitos atau bentuk fisik batu yang unik, tetapi juga tentang bagaimana sebuah cerita dan ingatan kolektif dipertahankan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jika para tetua masih menjaga cerita tersebut melalui tutur kata secara turun-temurun, tantangannya kini bukan hanya mempertahankan keberadaan Batu Bujang Juaro, tetapi juga memastikan kisah yang menyertainya tetap dikenal oleh generasi muda.
Karena itu, pelestarian Batu Bujang Juaro tidak cukup hanya dilakukan dengan menjaga bentuk fisiknya. Cerita mengenai asal-usul, fungsi, serta nilai budaya yang melekat pada batu tersebut juga perlu didokumentasikan dan diperkenalkan kembali kepada generasi muda. Sekolah, pemuda nagari, tokoh masyarakat, dan pemerintah setempat dapat mengambil peran melalui kegiatan seperti dokumentasi cerita lisan, pembuatan arsip budaya, atau pengenalan sejarah lokal dalam kegiatan kemasyarakatan.
Kesenjangan informasi antara sosok seperti Baruni dan Iki dengan generasi muda seperti Zahra mencerminkan potret nyata pelestarian budaya hari ini. Legenda Batu Bujang Juaro tidak hanya berbicara tentang mitos atau bentuk fisik batu yang unik, tetapi juga menguji ketahanan tradisi lisan di tengah gempuran zaman. Jika para tetua kampung telah berupaya menjaga ingatan kolektif tersebut melalui tutur kata secara turun-temurun, tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana menghidupkan kembali rasa ingin tahu di dada generasi muda agar akar budaya di tanah Situjuah tidak pupus dimakan waktu.
*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas







