• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Minggu, 20 September 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Dimanja Media, Rayuan Maut Realitas Semu

oleh Redaksi
29 Maret 2021, 09:19 WIB
ShareShareShareShare

Oleh : Rahmadina Firdaus*)

Kita terjerat dalam komersialisme, bernapas dengan outer beauty, hidup dengan angan-angan. Agaknya itu kata yang bisa menggambarkan perilaku tidak berguna kehidupan manusia di era ini, era simulasi kata Jean Baudrilliand. Di era ini, manusia sibuk meniru dan lupa esensi konsumsi. Realitas telah berpisah jauh dari kenyataan, bahkan menggeser realitas itu sendiri. Semua itu efek dari perkembangan media yang mempermudah komersialisasi dan membentuk pola konsumsi.

Bagaimanapun, media tak dapat kita pisahkan dari kehidupan. Ketika media menghilang, perdaban manusia akan terpuruk karena arus informasi berjalan lambat. Namun bila medianya terlalu maju, manusia terseok dan digilas oleh informasi. Seperti umat manusia di zaman ini sedang terseok dan digilas oleh informasi karena terbuai realitas semu.

Hampir semua yang ada di sekitar manusia menjadi barang dengan nilai semu. Media pada dasarnya berusaha menanamkan kesamaan persepsi (polarisasi), pendapat, kesukaan, pilihan, dan kebutuhan manusia. Tapi persepsi ini terdistorsi karena proses pencernaan informasi manusia yang beragam. Akibatnya, suatu peragaan, model, atau peristiwa yang muncul di media, salah satu efek distorsinya ialah dianggap sebagai realitas. Hal seperti ini terus berulang, sehingga terpisahlah realitas dari kenyataan, bahkan menggesernya.

Di media sekarang, kita merupakan pelaku dan korban. Sebagai pelaku (produsen) menggunakan media untuk eksistensi diri (melakukan pemasaran). Ketika produsen menampilkan anak muda bersenang-senang dengan gawai terbarunya, dengan pergeseran realita nilai gawai sebagai alat komunikasi bergeser ke arah pelengkap penampilan, ketika itulah kita menjadi korban ‘peniluan media’.

Baca Juga  Pria Minahasa Rudapaksa Anak dan Cucu: Indonesia Darurat Inses

Di media sekarang juga, orang-orang dengan literasi media rendah mudah terbuai oleh intrik pesan dari mesin. Mesin dengan teknologi pengolahan datanya menyajikan pengguna media informasi yang sebenarnya tidak dibutuhkan olehnya, namun pemaparan berulang seolah menunjukkan bahwa itu informasi yang penting. Dengan mengiyakan (menaruh perhatian pada) informasi tersebut, media mendapatkan Anda sebagai komoditi kemudian menjualnya pada pihak ketiga. Semakin sering Anda menggunakan media, akan semakin ‘berduit’ medianya, dan semakin beragam jenis informasi yang akan muncul.

Di satu sisi ada rasa kepuasan bahwa kebutuhan pribadi akan informasi terpenuhi, tapi kebutuhan itu sebenarnya merupakan kebutuhan yang dipola dalam media. Ketika media berubah, masyarakat juga akan ikut berubah. Ketika masyarakat negara A menghujat presidennya, satu dunia akan menghujat presidennya. Ketika satu orang berfoto dengan gaya mulut bebek, semua orang berfoto dengan gaya yang sama. Ketika memakai dan membuat tutorial make up di media sosial, orang lain melihatnya, mencobanya, lalu ada lagi orang yang menirunya, begitu seterusnya.

Apa jadinya masyarakat kita jika perilaku demikian semakin mengakar? Bila memandang lebih jauh, kita akan mendapati siklus yang berputar ini hanya menguntungkan pihak yang ‘berpikir’ dan menjadikan mereka yang ‘naif’ sebagai budak tanpa kesadaran.

Dulu orang takkan terpikirkan bahwa komoditi yang tak terlihat seperti ‘perhatian’ bisa diperjualbelikan. Mereka tak terpikirkan bahwa tubuh bisa ‘dijual’ secara legal dan suka rela oleh pemiliknya melalui serangkaian challenges. Mereka tak terpikirkan bahwa orang di zaman ini akan menggunakan beragam kosmetik pada satu kelopak mata untuk mengikuti tren. Di masa depan, bisa jadi cara kita meregang nyawa jadi konten komersil yang diminati dan legal.

Baca Juga  Tindak Kejahatan Revenge Porn yang Merampas Hak Hidup Korban

Kita mesti sadar, bukan itu tujuan utama manusia menciptakan berbagai produk dan alat, melainkan untuk membantu manusia mempermudah kehidupan. Apa gunanya manusia operasi plastik jika tubuhnya sudah baik, untuk apa manusia melaparkan diri jika dia bisa makan secukupnya, untuk apa manusia merusak alam jika dia tinggal dan butuh dengannya, dan masih banyak pertanyaan yang mestinya kita renungkan.

Inilah kekuatan media. Saat kita dimanja oleh media, di saat itu pikiran kita juga disusupi bahwa sekecil apa pun hal di dunia ini bernilai jika dikenal dan diikuti orang lain. Semua hal butuh mereknya sendiri. Dengan realitas semu yang ada di media, manusia mengonsumsi dengan mengambil nilai dari dan dalam konsumsi itu sendiri. Media menjadikan keinginan sebagai kebutuhan yang mesti terpenuhi dalam mengonsumsi.

Dunia merupakan siklus yang bergerak tanpa henti. Satu per satu perlahan mengubah dan diubah. Jika hal negatif bisa memengaruhi dunia, begitu pun hal positif. Komersialisme bukanlah jalan hidup bagi mereka yang masih memiliki harga diri. Jadi haruskan kita bersikap kuno? Tidak. Lebih sederhana dari itu, kita hanya perlu bijak. Bijak mengatur diri dan bijak menyikapi keadaan. Jangan toleran pada hal yang tak semestinya.

 

*Penulis merupakan Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi 2018 Fakultas ISIP Universitas  Andalas

Tag: digitaltren
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Ketika Bahasa Minang Mulai Canggung di Lidah Gen Z

19 September 2026, 23:58 WIB
Oplus_131072

Di Balik Mimbar dan Meja Guru

17 September 2026, 14:20 WIB
(Ilustrasi/Amanda)

Privilege bagi Masyarakat Dayak: Keadilan atau Perlakuan Khusus?

16 September 2026, 21:00 WIB
(Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

Menagih Paru-Paru Anak di Tengah Dapur yang Harus Tetap Ngebul

15 September 2026, 21:28 WIB
(Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

Berani Cerdas: Saat Sulteng Memilih Pendidikan daripada Popularitas

15 September 2026, 21:02 WIB
(Ilustrasi/Hadid Jailani Latif Utama)

Ketika Bantuan Asing Lebih Dulu Mengetuk Pintu NTT

15 September 2026, 19:17 WIB

TERPOPULER

  • (Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

    Berani Cerdas: Saat Sulteng Memilih Pendidikan daripada Popularitas

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Tradisi Kadaghek: Kerukunan Dalam Budaya Mengantar Jenazah Suku Minang di Tanjung Barulak

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Tak Sekadar Dibuang, Eco Expo 2026 Bahas Nasib Sampah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Spider-Man: Brand New Day, Babak Baru Peter Parker

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak