• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, 6 Juni 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Gentainment Karya Calon Anggota

Maelo Pukek, Tradisi Turun-temurun Nelayan di Kampung Elo Pukek

oleh Redaksi
29 Juni 2023, 15:25 WIB
Nelayan saat melakukan tradisi Maelo Pukek di tepi pantai, Jumat (23/6/2023) (Genta Andalas/Vannisa Fitri)

Nelayan saat melakukan tradisi Maelo Pukek di tepi pantai, Jumat (23/6/2023) (Genta Andalas/Vannisa Fitri)

ShareShareShareShare
Nelayan saat melakukan tradisi Maelo Pukek di tepi pantai, Jumat (23/6/2023) (Genta Andalas/Vannisa Fitri)

Oleh: Vannisa Fitri*

Tradisi Maelo Pukek merupakan cara menangkap ikan secara tradisional yang masih dipertahankan turun-temurun oleh masyarakat di Kampung Elo Pukek, Kelurahan Purus, Kota Padang, Sumatra Barat. Istilah Maelo Pukek berasal dari Bahasa Minang, Maelo yang berarti “menarik” dan pukek yang berarti “pukat.” Maelo Pukek adalah keudayaan yang membutuhkan sekelompok orang untuk menangkap ikan di bibir pantai.

Sebelum melakukan Maelo Pukek, nelayan akan menyebarkan Pukek ke laut hingga jarak 1200 meter dari bibir pantai dengan menggunakan perahu. Setelah pukek disebar, kemudian nelayan akan kembali ke bibir pantai dan menunggu selama 30 menit sebelum Pukek ditarik bersama-sama ke arah pinggir pantai. Saat menunggu pukek, nelayan yang menjadi penarik Pukek akan mempersiapkan tali dari kain yang diikatkan ke pinggang untuk menarik Pukek dari pinggir pantai.

Nelayan lalu akan menarik Pukek secara bersama-sama dari dua sisi hingga pinggir pantai. Biasanya, saat menarik Pukek ke arah pinggir pantai memerlukan delapan hingga sepuluh orang. Hasil dari tangkapan Pukek bervariasi, mulai dari Ikan Maco, Ikan Gambolo,, dan Ikan Beledang. Ikan tersebut nantinya akan dijual langsung ke pembeli atau agen yang sudah menunggu di pinggir pantai. Tak jarang pembeli berasal dari pengunjung yang sedang melihat kegiatan ini.

Baca Juga  Menyusuri Keindahan Tersembunyi Ekowisata Sungkai Green Park di Kota Padang

Seorang nelayan yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Ombak Puruih, Sayuti, mengatakan bahwa dalam sehari biasanya kegiatan ini bisa dilakukan lebih dari satu kali tergantung cuaca saat melakukan Maelo Pukek.

“Biasanya di sini kami bisa melakukan Maelo Pukek sehari bisa sebanyak dua hingga tiga kali, namun semua tetap tergantung cuaca. Bila saat melakukan Maelo Pukek ombaknya besar, maka dilakukan satu kali saja,” jelas Sayuti saat diwawancarai pada Jumat (23/6/2023)

Lebih lanjut, Sayuti juga mengungkap bahwa kegiatan Maelo Pukek ini terkadang tidak bisa dilanjutkan karena Pukek yang sedang ditarik ke pinggir pantai tersangkut di bawah laut akibat besi dan kayu-kayu di bawah laut. Hal itu biasanya membuat Pukek rusak dan ikan yang sudah terjaring lepas begitu saja.

Baca Juga  Potret Kemeriahan Teater Musikal CHARS 2023

Maelo Pukek tidak hanya sebatas kegiatan menangkap ikan saja, namun juga menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk melihat kegiatan ini. Walaupun banyak kegiatan menangkap ikan secara modern namun tradisi Maelo Pukek tidak akan pernah pernah hilang. Hal itu dikarenakan terus diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya.

Doni, salah satu pengunjung asal Padang mengaku senang melihat tradisi maelo pukek dikarenakan ikan yang dihasilkan segar dan masih baru. “Saya senang saja melihat ikan-ikan tersebut bergerak-gerak. Selain itu ikannya juga segar dan baru,” ungkap Doni.

*Penulis merupakan Mahasiswi Departemen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Andalas

Tag: ikanPadangtradisi
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Situasi Pelaksanaan Diseminasi Riset tema Kebencanaan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang di Gedung Serba Guna (GSG) Fakultas Hukum Universitas Andalas pada Kamis (4/6/2026) (Genta Andalas/Irfan Deri Saputra)

Diseminasi Riset LBH Padang Soroti Industri Energi dan Kerentanan Bencana

4 Juni 2026, 23:06 WIB
Objektifikasi perempuan dalam tongkrongan laki-laki dinilai sekadar gurauan. (Ilustrasi/Echa Syafira)

Membongkar Budaya Objektifikasi Perempuan dalam Tongkrongan Mahasiswa

1 Juni 2026, 16:47 WIB
(Ilustrasi/Echa Syafira)

Pesta Babi dan Ancaman terhadap Ruang hidup Masyarakat Adat

25 Mei 2026, 22:53 WIB
Poster film Pesta Babi

Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

25 Mei 2026, 21:22 WIB
(Ilustrasi/Zulaizah)

Tiga Pria Diamankan Usai Diduga Konsumsi Alkohol di UNAND

24 Mei 2026, 12:04 WIB
Penyampaian materi pembekalan KKN Reguler II oleh Dr. Ir. Kurnia Harlina Dewi, MSi di gedung PKM Ruang Seminar Lt.1 Universitas Andalas, pada Sabtu (23/05/2026) (Jihan Aurelia Syabandini)

UNAND Gelar Pembekalan KKN Reguler II, Prioritaskan Kebutuhan Nagari

24 Mei 2026, 11:52 WIB

Populer

  • Poster film Pesta Babi

    Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tenaga Kebersihan FK UNAND Ditemukan Meninggal di Hutan Biologi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Pesta Babi dan Ancaman terhadap Ruang hidup Masyarakat Adat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tidak Ada Unggahan Kenaikan Isa Almasih, BEM KM UNAND Klarifikasi

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Atap Bagonjong pada Rumah Gadang sebagai Identitas Sosial Masyarakat Minangkabau

    1 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Aksi Mahasiswa Warnai Depan Kantor Gubernur Sumbar

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tiga Pria Diamankan Usai Diduga Konsumsi Alkohol di UNAND

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Absennya UNAND dalam Aksi BEM-SI Sumbar Tuai Pertanyaan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak