Padang, gentaandalas.com – Absennya Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Andalas (BEM-KM UNAND) dalam aksi unjuk rasa yang digelar Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI) Sumatra Barat di depan Kantor Gubernur Sumatra Barat, Senin (18/5/2026), menjadi sorotan di tengah aksi yang mengangkat berbagai isu daerah tersebut. Aksi tersebut menyoroti sejumlah persoalan di Sumatra Barat, mulai dari ketimpangan infrastruktur pascabencana alam, menurunnya daya beli masyarakat, hingga isu sosial.
Situasi aksi sempat memanas karena Gubernur Sumatra Barat, Mahyeldi, sedang berada di Jakarta sehingga tidak dapat menemui massa aksi secara langsung. Aksi saling dorong antara massa dan aparat kepolisian pun sempat terjadi sebelum akhirnya massa aksi dan Pemerintah Provinsi Sumatra Barat menyepakati agenda audiensi bersama gubernur pada waktu yang akan ditentukan.
Di tengah jalannya aksi, ketidakhadiran UNAND turut dipertanyakan. Koordinator Daerah BEM-SI Sumatra Barat, Putra Alkahfi Harahap, mengatakan pihak BEM-KM UNAND telah menyampaikan alasan ketidakhadiran mereka. “Terkait UNAND, tadi Menjakda-nya konfirmasi kalau UNAND tidak dapat hadir karena banyak mahasiswa UNAND yang ada kelas sore. Itu mungkin versi positifnya. Tapi kalau versi negatifnya mungkin sudah aman,” ujar Kahfi dalam wawancaranya bersama Genta Andalas, Senin (18/5/2026).
Menanggapi hal tersebut, Menteri Kebijakan Daerah (Menjakda) BEM-KM UNAND, Nibras Ananta Ferdinand, menyebut ketidakhadiran UNAND dalam aksi tersebut disebabkan oleh kendala koordinasi internal dan kondisi akademik mahasiswa. “Sebenarnya itu adalah kesalahan dari kami sendiri juga. Karena kami terlambat memberitahukan kepada BEM masing-masing fakultas terkait aksi kemarin. Soalnya kan ada libur panjang juga sebelum tanggal 18 tersebut,” ujar Nibras dalam wawancaranya bersama Genta Andalas, Rabu (20/5/2026).
Nibras juga menjelaskan bahwa pihaknya berkaca pada pelaksanaan aksi sebelumnya pada 4 Mei 2026, ketika banyak mahasiswa UNAND datang terlambat sehingga dinilai memengaruhi kondusivitas aksi. “Kalau berkaca dari aksi tanggal 4 Mei kemarin, banyak mahasiswa UNAND yang terlambat mengikuti aksi, sehingga hal tersebut membuat situasi tidak kondusif. Karena rata-rata mahasiswa UNAND yang mengikuti aksi tersebut berasal dari fakultas-fakultas saintek dan di hari Senin itu banyak di antara mereka yang melakukan praktikum,” lanjutnya.
Terkait munculnya anggapan bahwa BEM-KM UNAND bersikap “cair” atau tidak lagi kritis terhadap pemerintah, Nibras membantah tudingan tersebut. “Terkait stigma negatif yang dilontarkan kepada BEM-KM UNAND, seperti mereka yang mengatakan ‘cair’ atau ‘sudah aman’, itu bisa kami katakan tidak benar. Soalnya kalau sampai terjadi seperti itu kan jatuhnya sudah jauh atau hal yang pasti tidak diinginkan dalam setiap aksi,” ujarnya.
Ia juga memastikan BEM-KM UNAND akan menghadiri audiensi bersama Gubernur Sumatra Barat yang telah disepakati setelah aksi berlangsung. Sementara itu, hingga saat ini BEM-SI Sumatra Barat belum menetapkan tanggal pasti pelaksanaan audiensi karena masih menyesuaikan jadwal Gubernur Sumatra Barat.
Reporter: Farid Farhan dan Raza Altamis Fikri
Editor: Auryn Dzakirah







