• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 23 Juli 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Membatas Jumlah Kelahiran untuk Masa Depan yang Lebih Baik

oleh Redaksi
2 Juli 2023, 15:12 WIB
(Ilustrator/Vannisa Fitri)

(Ilustrator/Vannisa Fitri)

ShareShareShareShare
(Ilustrator/Vannisa Fitri)

Oleh: Vannisa Fitri*

Saat ini, penting bagi setiap keluarga untuk memahami dan menghargai pentingnya membatasi jumlah kelahiran. Masalah pertumbuhan populasi yang cepat di banyak negara, termasuk Indonesia memiliki dampak yang signifikan terhadap keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Pada tahun 2020 tercatat sebanyak 270.203.917 jiwa penduduk Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Oleh karena itu, mengambil langkah-langkah untuk mengatur kelahiran menjadi suatu kebutuhan yang mendesak. Salah satu alasan mengapa membatasi jumlah kelahiran penting adalah untuk memastikan kualitas hidup yang lebih baik bagi setiap anggota keluarga.

jumlah keluarga yang lebih kecil membuat orang tua dapat memberikan perhatian dan sumber daya yang cukup kepada setiap anak mereka. Hal ini dapat berkontribusi pada pendidikan yang lebih baik, akses ke perawatan kesehatan yang memadai, dan kesempatan untuk mengembangkan bakat dan potensi masing-masing individu.

Selain itu, membatasi jumlah kelahiran juga memiliki manfaat signifikan dalam hal kesejahteraan ekonomi. Keluarga dengan anggota yang lebih sedikit cenderung memiliki lebih banyak sumber daya yang tersedia untuk didistribusikan secara merata. Hal ini selaras dengan laporan Survei Gizi Indonesia (SSGI) 2022 yang dirilis Kementrian Kesehatan menyebutkan bahwa angka stunting balita di Indonesia pada 2022 adalah 21,6 persen. Salah satu faktor yang melatarbelakanginya adalah ekonomi.

Baca Juga  Aktivasi KTP Digital Bakal Permudah Update Data Penduduk

Hal itulah yang mengharuskan adanya kontrol akan angka kelahiran agar tidak terjadinya kurang gizi pada anak dan kesejaterahan keluarga yang semakin menurun. Hal ini dapat membuat orang tua dapat mengalokasikan lebih banyak dana untuk kebutuhan pendidikan, perumahan, makanan, dan keperluan lainnya. Ini dapat membantu mengurangi kemiskinan dan meningkatkan standar hidup keluarga secara keseluruhan.

Selanjutnya, membatasi jumlah kelahiran juga berdampak positif pada lingkungan. Pertumbuhan populasi yang tidak terkendali dapat menyebabkan tekanan berlebihan pada sumber daya alam, deforestasi, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Membatasi jumlah kelahiran membuat kita dapat mengurangi gas emisi dari aktivitas manusia dan memberikan kesempatan bagi alam untuk pulih dan mempertahankan ekosistem yang seimbang.

Baca Juga  About Family: Pilihan Hidup dan Warisan Keluarga yang Menguji Hati

Tentu saja penting untuk dicatat bahwa membatasi jumlah kelahiran harus diimplementasikan melalui pendekatan yang menghormati hak asasi manusia dan melibatkan edukasi, akses yang adil terhadap kontrasepsi, dan dukungan medis yang memadai. Memastikan bahwa setiap individu memiliki akses terhadap informasi dan layanan yang diperlukan untuk membuat keputusan yang sadar tentang keluarga mereka adalah langkah penting untuk mencapai tujuan ini.

Pentingnya membatasi jumlah kelahiran bukan berarti meniadakan hak setiap pasangan untuk memiliki anak. Sebaliknya, itu adalah tentang mempromosikan perencanaan keluarga yang bertanggung jawab dan memberikan kesempatan bagi setiap anak untuk tumbuh dan berkembang dengan penuh potensi. Mari kita ajak masyarakat untuk mempertimbangkan keputusan ini dengan cermat dan menyadari manfaat jangka panjang yang dapat dihasilkan untuk keluarga, masyarakat, dan bumi kita.

*Penulis merupakan mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Andalas

Tag: ekonomiKeluargapendidikan
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Kesih Rianti)

Ketika Penegak Hukum Diduga Tersangka

20 Juli 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Skripsi Tidak Pernah Lebih Berharga dari Nyawamu Sendiri

15 Juli 2026, 21:18 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nurfadillah)

Di Balik Antrean Virtual, Adakah Kesempatan yang Benar-benar Sama?

11 Juli 2026, 21:21 WIB
Poster film Toy Story 5/Disney Indonesia

Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

3 Juli 2026, 13:09 WIB
Pertunjukan drama berjudul "TPS" menghadirkan adegan di area pelepasan suara, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Syifa Alifah)

Mahasiswa Sastra Indonesia UNAND Unjuk Kepiawaian Berakting

2 Juli 2026, 16:32 WIB
Pementasan drama Nurani oleh mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2024 dalam Festival dan Seminar Teater Indonesia di FIB UNAND, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Zulaizah)

Sastra Indonesia UNAND Gelar Festival dan Seminar Teater Indonesia

2 Juli 2026, 16:20 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mahasiswa Sastra Inggris UNAND Gelar English Drama Performance 2026

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Rekonstruksi GOR Haji Agus Salim dan Nasib PKL yang Terlupakan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak