• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 23 Juli 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Berita

Buya Hamka: Dari Lembah Maninjau Ke Panggung Sejarah

oleh Redaksi
31 Oktober 2025, 22:26 WIB
Amir Syakib, anak bungsu Buya Hamka menyambut kedatangan pengunjung Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka pada Minggu (26/10/2025) (Genta Andalas/Pitri Yani)

Amir Syakib, anak bungsu Buya Hamka menyambut kedatangan pengunjung Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka pada Minggu (26/10/2025) (Genta Andalas/Pitri Yani)

ShareShareShareShare

Oleh: Pitri Yani*

Di tepi Danau Maninjau yang bening, diapit oleh lembah dan bukit yang diselimuti kabut, berdirilah sebuah rumah panggung sederhana. Rumah panggung yang menjadi saksi bisu perjalanan seorang ulama besar sekaligus sastrawan Indonesia, Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal dengan Buya Hamka. Dari rumah inilah kisah panjang itu berawal. Kisah seorang anak kampung yang kelak menjelma menjadi cendekiawan dan tokoh bangsa, yang pemikirannya menembus batas negeri hingga ke tanah seberang.

Kini, rumah itu dirawat oleh generasi penerusnya. Di balik dinding kayu yang tua, tersimpan kenangan akan masa kecil sang ulama. “Buya Hamka itu anaknya ada dua belas, dan saya anak yang paling bungsu,” ujar Amir Syakib, putra bungsu Hamka, saat ditemui Genta Andalas pada Minggu (26/10/2025). Suaranya mengandung kebanggaan sekaligus rindu, seolah setiap hembusan angin danau membawa kembali bayangan ayahnya di masa kecil.

Sejak kecil, Hamka dikenal cerdas sekaligus keras kepala. Ia menimba ilmu agama di Sumatera Thawalib Padang Panjang, pesantren yang didirikan ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah, ulama besar pembaharu Islam di Minangkabau. Namun, ikatan darah justru membuat hubungan keduanya sering bergesekan. “Karena yang punya pesantren itu ayahnya sendiri, Hamka sering kabur dan pulang ke kampung. Akhirnya, ia dijemput kembali oleh sang ayah dan dipindahkan ke pesantren di Parabek, Bukittinggi,” ujar Syakib.

Namun di balik kenakalan itu, bersemayam jiwa pembelajar yang tak pernah padam. Di usia 15 tahun, Hamka dikirim ke Pulau Jawa untuk menimba ilmu yang lebih luas. Lima tahun kemudian, ia menikah dengan Siti Raham, seorang gadis Mandailing. Pernikahan itu kemudian dipercepat untuk melindungi Siti Raham dari kekacauan masa pendudukan Jepang.

Baca Juga  Mahasiswa Sastra Indonesia UNAND Unjuk Kepiawaian Berakting

Tak lama kemudian, pasangan muda itu merantau ke Medan, tanah yang menjadi saksi metamorfosis Hamka dari pengembara menjadi sastrawan. Dari ruang kecil di rumahnya, ia menulis karya-karya yang menggetarkan jiwa: Merantau ke Deli, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Karya-karya itu lahir dari pengamatannya terhadap kehidupan sosial dan batin manusia. Ia menulis bukan sekadar dengan pena, tapi dengan hatinya.

Dari Medan, perjalanan membawanya ke Jakarta atas permintaan Presiden Soekarno. Di ibu kota, Hamka membantu membangun Masjid Al-Azhar dan kemudian diangkat sebagai imam besar. Namun takdir seolah ingin mengujinya lebih jauh. Fitnah politik di masa itu menyeretnya ke penjara, atas tuduhan hendak menggulingkan pemerintah dengan bantuan Malaysia.

Bagi keluarga, masa itu adalah luka yang tak mudah disembuhkan. Buku-buku karya Hamka dibakar, harta benda disita, dan ancaman kekerasan menghantui setiap malam. Tapi dari balik jeruji, Hamka menyalakan lentera maaf yang tak padam.

Setelah wafatnya pada 1981, rumah kelahirannya di Maninjau sempat terbengkalai. Bahkan, di masa pendudukan Jepang, rumah itu pernah dihancurkan ketika mereka memburu ayah Hamka. Hingga akhirnya, bantuan datang dari negeri jiran “Datanglah tamu dari Malaysia, yang sekarang menjadi Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Katanya, mereka dari Perserikatan Angkatan Belia Islam Malaysia ingin bersilaturahmi dengan keluarga Buya Hamka,” ujar Syakib.

Dari pertemuan itulah lahir gagasan membangun kembali rumah kelahiran sang ulama. Tahun 2000, Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka akhirnya berdiri di tepi Danau Maninjau. Barang-barang pribadi, tongkat, serta buku-buku peninggalannya dibawa dari Jakarta untuk melengkapi museum itu. “Malaysia merasa berutang budi pada Hamka karena beliau pernah menenangkan hubungan Indonesia dan Malaysia di masa genting. Bahkan Anwar Ibrahim sampai merasa seperti anaknya sendiri.” Ujar Syakib.

Baca Juga  PSU Ulang Bentuk Ketidakresponsifan KPU Terhadap MK

Kini, rumah itu tak lagi sekadar bangunan bersejarah, melainkan ruang perenungan yang hidup. Setiap hari pengunjung datang dari berbagai kota bahkan dari luar negeri. Salah satunya Ara, seorang wisatawan muda. Ia memandangi foto-foto di dinding dengan cermat. “Rapi dan terawat, bagus sekali untuk mengenal lebih jauh tentang perjalanan hidup Buya Hamka,” ujarnya saat diwawancarai Genta Andalas.

Sebagian besar karya Hamka berakar pada pergulatan antara adat dan agama. Perang batin yang telah ia kenal sejak kecil. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, misalnya, bukan sekadar kisah cinta yang tragis, tapi juga kritik terhadap adat yang membelenggu.

Kini, setiap hari pengunjung datang ke rumah kecil itu dari berbagai kota, bahkan dari Malaysia. Tidak ada tiket masuk, hanya sebuah kotak amal kecil untuk menjaga listrik dan air tetap menyala. Di mata Amir Syakib, menjaga rumah itu bukan sekadar kewajiban, tetapi bentuk bakti kepada sejarah.

Buya Hamka bukan sekadar nama di buku sejarah. Ia adalah cahaya yang menuntun di antara kabut zaman. Seorang ulama yang menjembatani cinta, adat, dan kemanusiaan. Dan di tepi Danau Maninjau yang hening itu, gema perjuangannya masih terdengar, lembut tapi abadi.

*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Tag: buya hamkaFeaturesejarahSumatra Barat
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Potret Gedung FKM Jati yang hingga saat ini masih terbangkai pada Kamis (16/7/2026) (Genta Andalas/ Zaki Latif Bagia Rahman)

Setahun Pascakebakaran, Gedung Jati FKM UNAND Masih Terbangkalai

19 Juli 2026, 20:32 WIB
Narasumber menyampaikan pemaparan dalam diskusi publik bertajuk "Sumatera Barat Anti Penyiksaan: Hentikan Kekerasan Negara, Serta Hapus Impunitas dan Ideologi Militerisme" yang digelar di Kantor LBH Padang, Kamis (2/7/2026) (Genta Andalas/Oktavia Ramadhani)

LBH Padang Soroti Dugaan Kekerasan Negara dan Impunitas pada Peringatan Hari Anti Penyiksaan Internasional

3 Juli 2026, 16:11 WIB
Pertunjukan drama berjudul "TPS" menghadirkan adegan di area pelepasan suara, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Syifa Alifah)

Mahasiswa Sastra Indonesia UNAND Unjuk Kepiawaian Berakting

2 Juli 2026, 16:32 WIB
Pementasan drama Nurani oleh mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2024 dalam Festival dan Seminar Teater Indonesia di FIB UNAND, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Zulaizah)

Sastra Indonesia UNAND Gelar Festival dan Seminar Teater Indonesia

2 Juli 2026, 16:20 WIB
Para aktor mementaskan drama The Lottery pada gelaran English Drama Performance 2026 di SMKN 7 Padang, Sabtu (27/6/2026) (Genta Andalas/Aulia Rindu)

Mahasiswa Sastra Inggris UNAND Gelar English Drama Performance 2026

28 Juni 2026, 16:30 WIB
Massa aksi menyampaikan aspirasi di depan pintu masuk Kantor Gubernur Sumatera Barat pada Kamis (25/06/2026) (Genta Andalas/Aurelia Syabandini)

Aksi Jilid II Mahasiswa Soroti Transparansi APBD hingga Harga BBM

27 Juni 2026, 00:09 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mahasiswa Sastra Inggris UNAND Gelar English Drama Performance 2026

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Rekonstruksi GOR Haji Agus Salim dan Nasib PKL yang Terlupakan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak