• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Minggu, 20 September 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Berita

Buya Hamka: Dari Lembah Maninjau Ke Panggung Sejarah

oleh Redaksi
31 Oktober 2025, 22:26 WIB
Amir Syakib, anak bungsu Buya Hamka menyambut kedatangan pengunjung Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka pada Minggu (26/10/2025) (Genta Andalas/Pitri Yani)

Amir Syakib, anak bungsu Buya Hamka menyambut kedatangan pengunjung Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka pada Minggu (26/10/2025) (Genta Andalas/Pitri Yani)

ShareShareShareShare

Oleh: Pitri Yani*

Di tepi Danau Maninjau yang bening, diapit oleh lembah dan bukit yang diselimuti kabut, berdirilah sebuah rumah panggung sederhana. Rumah panggung yang menjadi saksi bisu perjalanan seorang ulama besar sekaligus sastrawan Indonesia, Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal dengan Buya Hamka. Dari rumah inilah kisah panjang itu berawal. Kisah seorang anak kampung yang kelak menjelma menjadi cendekiawan dan tokoh bangsa, yang pemikirannya menembus batas negeri hingga ke tanah seberang.

Kini, rumah itu dirawat oleh generasi penerusnya. Di balik dinding kayu yang tua, tersimpan kenangan akan masa kecil sang ulama. “Buya Hamka itu anaknya ada dua belas, dan saya anak yang paling bungsu,” ujar Amir Syakib, putra bungsu Hamka, saat ditemui Genta Andalas pada Minggu (26/10/2025). Suaranya mengandung kebanggaan sekaligus rindu, seolah setiap hembusan angin danau membawa kembali bayangan ayahnya di masa kecil.

Sejak kecil, Hamka dikenal cerdas sekaligus keras kepala. Ia menimba ilmu agama di Sumatera Thawalib Padang Panjang, pesantren yang didirikan ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah, ulama besar pembaharu Islam di Minangkabau. Namun, ikatan darah justru membuat hubungan keduanya sering bergesekan. “Karena yang punya pesantren itu ayahnya sendiri, Hamka sering kabur dan pulang ke kampung. Akhirnya, ia dijemput kembali oleh sang ayah dan dipindahkan ke pesantren di Parabek, Bukittinggi,” ujar Syakib.

Namun di balik kenakalan itu, bersemayam jiwa pembelajar yang tak pernah padam. Di usia 15 tahun, Hamka dikirim ke Pulau Jawa untuk menimba ilmu yang lebih luas. Lima tahun kemudian, ia menikah dengan Siti Raham, seorang gadis Mandailing. Pernikahan itu kemudian dipercepat untuk melindungi Siti Raham dari kekacauan masa pendudukan Jepang.

Baca Juga  Pantai Cinta yang berteman Sampah  

Tak lama kemudian, pasangan muda itu merantau ke Medan, tanah yang menjadi saksi metamorfosis Hamka dari pengembara menjadi sastrawan. Dari ruang kecil di rumahnya, ia menulis karya-karya yang menggetarkan jiwa: Merantau ke Deli, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Karya-karya itu lahir dari pengamatannya terhadap kehidupan sosial dan batin manusia. Ia menulis bukan sekadar dengan pena, tapi dengan hatinya.

Dari Medan, perjalanan membawanya ke Jakarta atas permintaan Presiden Soekarno. Di ibu kota, Hamka membantu membangun Masjid Al-Azhar dan kemudian diangkat sebagai imam besar. Namun takdir seolah ingin mengujinya lebih jauh. Fitnah politik di masa itu menyeretnya ke penjara, atas tuduhan hendak menggulingkan pemerintah dengan bantuan Malaysia.

Bagi keluarga, masa itu adalah luka yang tak mudah disembuhkan. Buku-buku karya Hamka dibakar, harta benda disita, dan ancaman kekerasan menghantui setiap malam. Tapi dari balik jeruji, Hamka menyalakan lentera maaf yang tak padam.

Setelah wafatnya pada 1981, rumah kelahirannya di Maninjau sempat terbengkalai. Bahkan, di masa pendudukan Jepang, rumah itu pernah dihancurkan ketika mereka memburu ayah Hamka. Hingga akhirnya, bantuan datang dari negeri jiran “Datanglah tamu dari Malaysia, yang sekarang menjadi Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Katanya, mereka dari Perserikatan Angkatan Belia Islam Malaysia ingin bersilaturahmi dengan keluarga Buya Hamka,” ujar Syakib.

Dari pertemuan itulah lahir gagasan membangun kembali rumah kelahiran sang ulama. Tahun 2000, Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka akhirnya berdiri di tepi Danau Maninjau. Barang-barang pribadi, tongkat, serta buku-buku peninggalannya dibawa dari Jakarta untuk melengkapi museum itu. “Malaysia merasa berutang budi pada Hamka karena beliau pernah menenangkan hubungan Indonesia dan Malaysia di masa genting. Bahkan Anwar Ibrahim sampai merasa seperti anaknya sendiri.” Ujar Syakib.

Baca Juga  Traffic Light Mati, Kemacetan Mengular di Bypass Ketaping

Kini, rumah itu tak lagi sekadar bangunan bersejarah, melainkan ruang perenungan yang hidup. Setiap hari pengunjung datang dari berbagai kota bahkan dari luar negeri. Salah satunya Ara, seorang wisatawan muda. Ia memandangi foto-foto di dinding dengan cermat. “Rapi dan terawat, bagus sekali untuk mengenal lebih jauh tentang perjalanan hidup Buya Hamka,” ujarnya saat diwawancarai Genta Andalas.

Sebagian besar karya Hamka berakar pada pergulatan antara adat dan agama. Perang batin yang telah ia kenal sejak kecil. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, misalnya, bukan sekadar kisah cinta yang tragis, tapi juga kritik terhadap adat yang membelenggu.

Kini, setiap hari pengunjung datang ke rumah kecil itu dari berbagai kota, bahkan dari Malaysia. Tidak ada tiket masuk, hanya sebuah kotak amal kecil untuk menjaga listrik dan air tetap menyala. Di mata Amir Syakib, menjaga rumah itu bukan sekadar kewajiban, tetapi bentuk bakti kepada sejarah.

Buya Hamka bukan sekadar nama di buku sejarah. Ia adalah cahaya yang menuntun di antara kabut zaman. Seorang ulama yang menjembatani cinta, adat, dan kemanusiaan. Dan di tepi Danau Maninjau yang hening itu, gema perjuangannya masih terdengar, lembut tapi abadi.

*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Tag: buya hamkaFeaturesejarahSumatra Barat
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Penyampaian sambutan dari Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Universitas Andalas (IKA UNAND), Denny Abdi, di Pengeran Beach Hotel pada Senin (14/9/2026)(Oktavia Ramadhani)

Dua Jurnalis Genta Andalas Raih Juara Anugerah Insan Pers UNAND 2026

16 September 2026, 18:52 WIB
(Ilustrasi/Jihan Aurelia Syabandini)

Volume Kendaraan Meningkat, Kemacetan Terjadi di Sejumlah Ruas Jalan UNAND

14 September 2026, 15:56 WIB
(Ilustrasi/Jihan Aurelia Syabandini)

Parkir Padat dan Tak Teratur Jadi Persoalan di Lingkungan UNAND

13 September 2026, 01:06 WIB
Suasana sesi diskusi bertajuk “Ekonomi Restoratif Bencana Ekologis Deforestasi” dalam diskusi publik di Sekretariat AJI Padang, Rabu (2/9/2026). (Genta Andalas/Hadid Jailani Latif Utama)

Pemulihan Bencana di Sumbar Dipertanyakan, Penyintas Masih Menunggu Hunian Tetap

4 September 2026, 09:07 WIB
Rapat koordinasi pembayaran kewajiban dana Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan untuk 
kegiatan organisasi kemahasiswaan (ormawa) tahun 2022 pada Kamis (03/09/2026) (Genta Andalas/ Zaki Latif Bagia Rahman)

Pencairan Dana Kemahasiswaan, Ormawa Diminta Lengkapi LPJ kegiatan 2022

4 September 2026, 09:02 WIB
Diskusi Publik bertajuk “Membaca Kerusakan Alam Melalaui Sastra" oleh Labor Penulisan kreatif (LPK) dan Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia( PBHI) di ruang seminar FIB pada kamis (3/9/2026) (Genta Andalas/Sargita Asmara Dewi)

LPK FIB UNAND Gelar Diskusi Publik tentang Sastra dan Krisis Lingkungan

3 September 2026, 21:52 WIB

TERPOPULER

  • (Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

    Berani Cerdas: Saat Sulteng Memilih Pendidikan daripada Popularitas

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Tradisi Kadaghek: Kerukunan Dalam Budaya Mengantar Jenazah Suku Minang di Tanjung Barulak

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Tak Sekadar Dibuang, Eco Expo 2026 Bahas Nasib Sampah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Spider-Man: Brand New Day, Babak Baru Peter Parker

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak