• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 23 Juli 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Lingkaran Ketimpangan Pendapatan Indonesia yang Tidak Berubah

oleh Redaksi
30 Juni 2023, 10:52 WIB
(Ilustrator/Zulkifli Ramdhani)

(Ilustrator/Zulkifli Ramdhani)

ShareShareShareShare
(Ilustrator/Zulkifli Ramdhani)

Oleh: Zulkifli Ramdhani*

Kondisi perekonomian Indonesia pada saat ini cenderung mengalami pertumbuhan setiap tahunnya. Bahkan, kondisi perekonomian Indonesia menjadi salah satu negara dengan ekonomi terbesar di Asia. Menurut data rilisan dari International Menotary Fund (IMF) pada 2 November 2022, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia menempati posisi 17 di dunia dengan PDB mencapai US$1,29 triliun. Sedangkan pada tahun 2021, data rilisan IMF menunjukkan PDB Indonesia sebesar US$1,19 triliun. PDB adalah indikator yang mengukur perkembangan ekonomi suatu negara. Melalui data rilisan IMF tersebut, dapat dilihat kondisi perekonomian Indonesia yang mengalami pertumbuhan.

Perkembangan ekonomi Indonesia yang mengalami pertumbuhan tersebut, rata-rata pendapatan penduduk pun meningkat. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, tercatat PDB Indonesia mencapai Rp 71 juta per tahun atau sebesar Rp 5,9 juta per bulannya. Sedangkan untuk data 2021, BPS mencatat PDB per kapita Indonesia Rp 62,2 juta per tahun atau Rp 5,18 juta perbulannya. Terlihat dari 2021 ke 2022, adanya kenaikan cukup signifikan dalam rata-rata pendapatan di Indonesia.

Melalui peningkatan PDB Indonesia setiap tahunnya membuktikan bahwa kondisi perekonomian Indonesia pun mengalami peningkatan. Akan tetapi, pada kenyataannya terjadi ketimpangan pendapatan antara si kaya dan si miskin yang perlu menjadi sorotan lebih. Ketimpangan pendapatan ini pun mendapat sorotan dari Wakil Presiden Indonesia, Ma’ruf Amin, dalam acara 14th Annual Conference Asia-Pasific Tax Forum di Jakarta pada Rabu 3 Mei 2023. Ma’ruf melirik tren ketimpangan pendapatan Indonesia terus meningkat seiring laju liberalisasi ekonomin dan menjadi problem global sejak dekade 1980-an hingga hari ini.

Baca Juga  Di Balik Antrean Virtual, Adakah Kesempatan yang Benar-benar Sama?

Ketimpangan pendapatan di Indonesia dapat dilihat dari rasio gini. Rasio gini pada rentang yang mendekati 0 artinya tingkat ketimpangan rendah hingga mendekati rentang 1 berarti tingkat ketimpangannya tinggi. Sedangkan, menurut data BPS pada September 2022, rasio gini Indonesia sebesar 0.381 dan mengalami stagnansi atau tanpa perubahan perbandingan dibandingkan September 2021. Rasio gini di perkotaan tercatat 0,402 pada September 2022 yang mana nilai itu naik dibandingkan September 2021 sebesar 0,398 dan rasio gini di pedesaan 0,313 yang turun sedikit sekali dari 0,314 pada September 2022.

Persoalan ketimpangan pendapatan kerap terabaikan karena perekonomian negara secara garis besar yang mengalami peningkatan. Padahal, tingkat ketimpangan pendapatan dapat menunjukkan pemerataan kondisi perekonomia negara. Menurut laporan dari Bank Dunia, pada 2021 kelompok 50% terbawah di Indonesia hanya memiliki total kekayaan 5,46% dari total kekayaan rumah tangga nasional. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 20 tahun lalu, yakni 5,86% total kekayaan rumah tangga nasional di tahun 2021. Sementara 10% penduduk teratas memiliki 60,2% dari total aset rumah tangga secara nasional yang meningkat dibandingkan tahun 2001 sebesar 57,44%.

Dari data tersebut, peningkatan rata-rata pendapatan penduduk dari tahun ke tahun berarti dipengaruhi oleh peningkatan dari 10% kelompok penduduk teratas. Sedangkan 50% penduduk terbawah bukannya mengalami peningkatan, dibandingkan 20 tahun lalu melainkan mengalami penurunan. Permasalahan ini perlu menjadi fokus bagi setiap orang dan terutama oleh pemerintah. Kebijakan yang dijalankan dan perkembangan ekonomi negara yang terjadi selama ini, ternyata tidak mengalami perkembangan yang sama dari segi tingkat ketimpangannya.

Baca Juga  Media Sosial dan Kemunduran Cara Berpikir Kritis

Data tersebut semakin menunjukkan betapa besarnya perbedaan ketimpangan antara kelompok penduduk teratas dengan mayoritas penduduk di Indonesia. Ketimpangan yang ada ini disebabkan oleh banyak faktor terutama terfokusnya pembangunan di kota-kota besar saja sehingga tidak terjadi pemerataan yang baik. Banyak daerah yang tidak memiliki akses dan fasilitas publik yang sama sehingga perkembangan ekonomi dan pekerjaan yang ada tidak se-efisien dan efektif daerah dengan akses dan fasilitas yang baik seperti di kota-kota besar. Hal ini harus segera diatasi dengan baik agar kesenjangan yang ada tidak semakin besar dan tidak menjadi pola lingkaran yang terus berulang.

Selain itu, ketimpangan yang besar dapat menjadi awal adanya kecemburuan sosial, bahkan konflik sosial dan kegaduhan politik nantinya. Sebaiknya dari pemerintah harus ada solusi yang tepat melalui kebijakan distribusi kekayaaan dan mendorong fokus pembangunan dan perkembangan sektor ekonomi pada kalangan kelompok masyarakat bawah dan menengah.

*Penulis merupakan mahasiswa Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Bisni Universitas Andalas

Tag: Aspirasiekonomi
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Kesih Rianti)

Ketika Penegak Hukum Diduga Tersangka

20 Juli 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Skripsi Tidak Pernah Lebih Berharga dari Nyawamu Sendiri

15 Juli 2026, 21:18 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nurfadillah)

Di Balik Antrean Virtual, Adakah Kesempatan yang Benar-benar Sama?

11 Juli 2026, 21:21 WIB
Poster film Toy Story 5/Disney Indonesia

Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

3 Juli 2026, 13:09 WIB
Pertunjukan drama berjudul "TPS" menghadirkan adegan di area pelepasan suara, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Syifa Alifah)

Mahasiswa Sastra Indonesia UNAND Unjuk Kepiawaian Berakting

2 Juli 2026, 16:32 WIB
Pementasan drama Nurani oleh mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2024 dalam Festival dan Seminar Teater Indonesia di FIB UNAND, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Zulaizah)

Sastra Indonesia UNAND Gelar Festival dan Seminar Teater Indonesia

2 Juli 2026, 16:20 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mahasiswa Sastra Inggris UNAND Gelar English Drama Performance 2026

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Rekonstruksi GOR Haji Agus Salim dan Nasib PKL yang Terlupakan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak