• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 5 November 2026
Gentaandalas.com
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Gentaandalas.com
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Berita Feature

Menembus Kabut Kerinci, Menyapa Atap Sumatra dari Dekat

oleh Redaksi
1 Juni 2026, 16:14 WIB
Penulis menikmati pemandangan alam di puncak Gunung Kerinci (Genta Andalas/Zaki Latif Bagia Rahman)

Penulis menikmati pemandangan alam di puncak Gunung Kerinci (Genta Andalas/Zaki Latif Bagia Rahman)

ShareShareShareShare

Oleh: Zaki Latif Bagia Rahman

Di ufuk pagi yang dingin, kabut tipis menggantung di lereng Gunung Kerinci. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan hutan tropis yang masih belum terjamah. Di ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut, gunung berapi tertinggi di Indonesia itu berdiri tegak sebagai penjaga sunyi di jantung Pulau Sumatra.

Bagi masyarakat sekitar, Kerinci bukan sekadar bentang alam. Ia adalah simbol kehidupan, sumber air, sekaligus ruang spiritual yang dihormati. Namun bagi para pendaki, Gunung Kerinci adalah tantangan perjalanan panjang yang menguji fisik dan mental, sekaligus menghadirkan pengalaman yang sulit dilupakan.

Perjalanan menuju puncak biasanya dimulai dari Desa Kersik Tuo, sebuah desa kecil yang menjadi gerbang utama pendakian. Dari titik ini, jalur perlahan menanjak menembus hutan lebat yang menjadi bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat. Kawasan konservasi ini dikenal sebagai salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati Sumatra, rumah bagi spesies langka seperti harimau sumatra dan berbagai burung endemik.

Di sepanjang jalur, pendaki akan melewati vegetasi yang terus berubah. Dari hutan hujan tropis yang rimbun, perjalanan berlanjut ke hutan lumut yang dingin dan lembap. Pohon-pohon tinggi perlahan menghilang, digantikan oleh semak dan bebatuan yang menandai ketinggian ekstrem. Setiap langkah terasa lebih berat, tetapi juga semakin mendekatkan pada puncak.

“Kerinci itu bukan sekadar soal sampai di atas,” ujar Raji (19), seorang pendaki asal Padang yang menaklukkan gunung ini saat masih duduk di bangku kelas XII SMK. “Justru perjalanan naiknya yang paling berkesan. Kita belajar sabar, belajar menghargai alam.” Ucapan itu terasa relevan ketika malam mulai turun di area Shelter 3, salah satu titik peristirahatan favorit para pendaki sekaligus lokasi perkemahan tertinggi di Asia Tenggara. Suhu dapat turun drastis, sementara kabut semakin tebal. Di tengah dingin yang menusuk, tenda-tenda kecil berdiri rapat, menjadi tempat berlindung sekaligus ruang berbagi cerita antarpendaki sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Baca Juga  Sarasah Uwak: Pesona Air Terjun di Balik Kampus Hijau

Menjelang dini hari, pendakian kembali dilanjutkan. Jalur terakhir dikenal sebagai bagian paling menantang berupa hamparan pasir dan kerikil lepas yang membuat langkah mudah tergelincir. Namun, semua kelelahan seakan terbayar ketika cahaya pertama muncul dari balik horizon.

Dari puncak Kerinci, panorama terbentang luas tanpa batas. Hamparan hutan hijau terlihat seperti karpet raksasa yang menyelimuti bentang alam Sumatra. Sementara itu, kawah aktif yang mengeluarkan asap putih menjadi pengingat bahwa gunung ini masih hidup. Pada hari yang cerah, pendaki bahkan dapat melihat Danau Gunung Tujuh, danau vulkanik tertinggi di Asia Tenggara yang berada di kawasan yang sama.

Namun, keindahan Kerinci tidak datang tanpa risiko. Aktivitas vulkanik yang masih berlangsung membuat gunung ini masuk dalam kategori gunung api aktif. Selain itu, cuaca yang cepat berubah dan medan yang berat menuntut persiapan matang bagi siapa pun yang ingin mendaki.

Baca Juga  Rumah Gadang Gajah Maram, Ikon Wisata Saribu Rumah Gadang di Solok Selatan

Karena itu, pihak pengelola taman nasional terus mengingatkan pentingnya keselamatan dan kelestarian lingkungan. Setiap pendaki diwajibkan membawa kembali sampahnya serta mematuhi jalur resmi yang telah ditentukan. Upaya ini menjadi krusial untuk menjaga ekosistem yang rentan dari kerusakan akibat aktivitas manusia.

Keberadaan Gunung Kerinci juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Desa Kersik Tuo berkembang menjadi pusat aktivitas pendakian dengan berbagai homestay, warung makan, hingga jasa pemandu lokal. Bagi warga, gunung ini bukan hanya destinasi wisata, melainkan sumber penghidupan yang harus dijaga keberlanjutannya. “Kalau gunung ini rusak, kami juga yang rugi,” ujar Rizki, salah seorang pengelola homestay di kawasan kaki Gunung Kerinci.

Kerinci, pada akhirnya, adalah tentang keseimbangan antara petualangan dan tanggung jawab, antara keindahan dan kewaspadaan. Ia menawarkan pengalaman yang memikat, tetapi juga menuntut rasa hormat dari siapa pun yang datang. Ketika matahari mulai tinggi dan kabut perlahan menghilang, puncak Kerinci kembali menunjukkan wajah aslinya. Megah, sunyi, dan tak tergoyahkan. Di sana, di atas awan, setiap pendaki membawa pulang lebih dari sekadar foto. Mereka membawa cerita, pelajaran, dan mungkin, cara pandang baru tentang alam dan diri sendiri.

Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Tag: GunungKerinciSumatra
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Nelayan lokal sedang menjala ikan di pinggiran Pantai Carolina, Minggu (30/8/2026) (Tantri Pramudita)

Carolina dalam Riuh Ombak dan Teduh Pepohonan

24 Oktober 2026, 23:42 WIB
Bangunan Surau Paseban di Ikua Koto, Kecamatan Koto Tangah, Padang pada Minggu (26/7/2026)(Genta Andalas/Alizah Fitri Sudira)

Jejak Pengetahuan di Balik Pintu Surau Paseban

28 Agustus 2026, 02:05 WIB
Rivaldo Ferdiand pendiri Galeri Kapsul Waktu Nusantara, duduk di antara ribuan koleksi barang jadul miliknya, Kamis (28/5/2026) (Genta Andalas/Pitri Yani)

Merasakan Jejak Masa Lalu Lewat Galeri Kapsul Waktu

29 Mei 2026, 18:39 WIB
Sejumlah pengunjung menikmati suasana Air Terjun Sarasah Uwak di kawasan Limau Manis, Kota Padang, Minggu (24/5/2926) (Genta Andalas/Tantri Pramudita)

Sarasah Uwak: Pesona Air Terjun di Balik Kampus Hijau

26 Mei 2026, 20:28 WIB
Para pengunjung baru sampai di Pulau Angso Duo pda Selasa (24/03/2026) (Genta Andalas/Nabila Ramadani)

Menjelajahi Sisi Eksotis dan Magis Pulau Angso Duo

31 Maret 2026, 21:28 WIB
Pengunjung yang sedang menikmati Keindahan Air Terjun Sarasah Sikayan Balumuik, Sabtu (28/03/2026) (Genta Andalas/ Nabila Ramadani)

Sikayan Balumuik Surga Tersembunyi di Timur Kota Padang

31 Maret 2026, 11:54 WIB

TERPOPULER

  • (Poster Film Alas Roban/detik.com)

    Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Menerka Masa Depan Indonesia Melalui Teori Siklus Polybius

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Kebakaran Hanguskan Sejumlah Ruko Dekat Kampus UNAND, Kerugian Ditaksir Rp3 Miliar

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Ekspedisi Sejarah UNAND Gali Ingatan Kolektif dan Identitas Nagari Balai Tangah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Gentaandalas.com

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak