Oleh: Tantri Pramudita*
Hanya berjarak sekitar 10 menit perjalanan dari hiruk-pikuk perkuliahan di kampus Universitas Andalas (UNAND), terdapat sebuah keindahan alam yang menawarkan kesejukan bagi mahasiswa yang penat dengan rutinitas akademik. Namanya Air Terjun Sarasah Uwak. Akses menuju lokasi ini terbilang cukup mudah. Pengunjung hanya perlu mengarahkan kendaraan menuju jalur bendungan atau waduk serta melewati ikon Musala Batu Jabal Rahmah Fakultas Pertanian UNAND.
Setibanya di area bendungan, pengunjung akan mendapati bahwa tempat ini belum tersentuh pengelolaan resmi. Alih-alih loket wisata, akses masuk sepenuhnya mengandalkan warga lokal yang berinisiatif menyewakan lahan pekarangannya sebagai tempat parkir. Cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp2.000, kendaraan sudah bisa dititipkan dengan aman. Bagi Wira Santika, salah satu pengunjung yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sana, tarif parkir tersebut sangat sepadan. “Menurut saya sepadan sih, dua ribu dan barang-barang aman, jalannya juga lumayan bagus,” ungkap Wira.
Petualangan sebenarnya baru dimulai dari titik parkir di dekat bendungan ini. Menariknya, pengunjung tidak perlu menguras banyak tenaga karena jarak tempuh trekking menuju lokasi hanya memakan waktu sekitar 10 menit berjalan kaki. Salwa Ratri Wahyuni, seorang mahasiswa UNAND yang mengetahui tempat ini dari media sosial Instagram, menceritakan pengalamannya menjajal jalur tersebut. “Kalau buat pemula jalurnya lumayan ramah. Jalan ke air terjunnya memang setapak, tapi aku menikmati. Terus yang paling seru itu jembatan kayu buat menyeberang di atas sungai. Menurutku seru banget nyebrang di situ,” cerita Salwa. Meski begitu, ia juga memberikan catatan penting bagi pengunjung. “Tapi ya minusnya, kalau lagi musim hujan harus hati-hati karena jalannya bakal licin,” tambahnya.
Hanya dalam 10 menit langkah kaki, rasa lelah seketika terbayar saat deburan air terjun menyambut di depan mata. Bagi Salwa, pesona tempat ini tidak mengecewakan. “Buat air terjunnya sesuai ekspektasi, bagus, tinggi, dan airnya lumayan deras. Tempatnya juga masih bersih dan terjaga,” ujarnya terkesan. Ia pun memiliki titik favorit tersendiri untuk menikmati suasana. “Bagian yang paling bagus itu di batu-batu landai di bawah pepohonan samping sungai karena bisa makan sambil melihat air terjun. Buat merenung juga asyik di situ,” paparnya.
Lokasi yang asri dan dekat dengan kampus menjadikan tempat ini alternatif yang sempurna bagi mahasiswa. “Menurutku cocok banget. Daripada nongkrong di kafe, mending pergi ke alam seperti di air terjun ini. Selain bisa trekking, kita juga bisa cuci mata melihat keindahan alamnya,” kata Salwa. Namun, di balik pesona alaminya, ketiadaan pengelola resmi memang membawa kendala tersendiri, terutama terkait fasilitas umum. Sisi “belum terjamah” ini berdampak pada masalah kebersihan. Wira menyoroti hal tersebut sebagai sesuatu yang cukup mengganggu. “Mengganggu kenyamanan karena banyak sampah berserakan akibat tidak ada fasilitas tempat pembuangan sampah,” ujarnya.
Ke depannya, Wira tidak menuntut pembangunan yang berlebihan. “Cukup tambah fasilitas tempat sampah dan petunjuk jalan saja, selebihnya biar tetap terjaga alami seperti biasa,” harapnya. Agar surga tersembunyi di pinggiran kampus ini tidak berujung rusak akibat tumpukan sampah, kesadaran pengunjung menjadi kunci utama. Oleh karena itu, Wira menitipkan satu pesan tegas bagi siapa saja yang ingin berkunjung. “Kalau bawa makanan, sampahnya dibawa turun lagi, jangan dibuang di situ,” tegasnya.
Hal ini selaras dengan harapan Salwa agar kelestarian Air Terjun Sarasah Uwak terus terjaga. “Harapannya, pengunjung yang datang ke sini selalu menjaga kebersihan di sekitar air terjun supaya tempatnya tetap terawat,” pungkasnya.
*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas







