Oleh: Pitri Yani*
Aroma balsem tua menyeruak tipis di antara barisan papan kayu bekas yang dirakit sedemikian rupa. Di sebuah sudut ruangan di kawasan Bypass, Kota Padang, ribuan kemasan produk pembersih wajah, botol minyak rambut abad ke-18, mi instan harga puluhan perak, hingga tumpukan majalah dinding kusam berjejer rapi. Tempat ini tidak sedang menjual komoditas demi mengejar profit materi, melainkan sebuah laboratorium ingatan yang diberi nama Galeri Kapsul Waktu Nusantara.
Di tengah riuhnya modernitas yang menuntut segalanya bergerak serbacepat dan berbasis kecerdasan buatan (AI), Rivaldo Ferdiand memilih jalan sunyi yang tidak masuk akal bagi sebagian orang. Ketertarikan Rivaldo pada benda-benda kuno sebenarnya telah mengakar sejak ia berusia empat tahun. Berangkat dari ingatan emosional Rivaldo pada mendiang sang nenek, akhirnya menjadi sebuah hobi atau kesukaannya hingga saat ini. “Sebelum mendiang nenek saya wafat, beliau meminta saya membelikan Balsem Tarason dari gaji pertama saya kerja. Seminggu setelah balsem itu ada di tangannya, beliau meninggal,” ungkap Rivaldo.
Bagi Rivaldo, balsem itu bukan sekadar benda pereda nyeri, melainkan sebuah artefak otentik yang menyimpan kehadiran sang nenek. Peristiwa melankolis ini memicu kesadarannya secara teoretis bahwa benda-benda keseharian memiliki kekuatan magis dalam menyimpan “memori kolektif”, sebuah konsep sosiologis yang memori masa lalunya termanifestasi ke dalam objek-objek fisik. Berangkat dari balsem tersebut, ia mulai merangkum “teman-temannya” yang lain. Rumah kosong peninggalan kakek dan neneknya pun ia sulap menjadi sebuah ekosistem pelarian dari hiruk-pikuk dunia modern.
Membangun galeri yang berisi ribuan printilan orisinal bukanlah perkara mudah. Di Indonesia, kolektor yang mendedikasikan diri pada segmentasi kemasan kelontong jadul orisinal (New Old Stock) sangatlah langka dan dapat dihitung dengan jari. Demi berburu otentisitas tersebut, Rivaldo harus menyisir pasar-pasar tua, luar daerah, hingga pelosok kampung terpencil seperti Rimbo Panti di Pasaman.
Menariknya, proses hunting ini kerap kali menuntut kemampuan teatrikal. “Kalau kita datang ke warung tua di kampung dan langsung bilang mau beli produk kedaluwarsa, mereka pasti mengira kita dedemit atau punya niat aneh,” cerita Rivaldo sambil tertawa.
Untuk menyiasatinya, Rivaldo kerap menyamar sebagai mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir atau prakarya. Ia bahkan membawa kliping iklan cetak zaman dulu untuk meyakinkan pemilik warung bahwa benda-benda kusam di sudut etalase atau gudang terbengkalai mereka memiliki nilai referensi sejarah yang tinggi.
Namun, hobi tetaplah hobi yang memiliki sisi gelap jika egonya tidak diredam. Rivaldo sempat merasakan tamparan keras dalam hidupnya ketika ia baru saja mengalami PHK dan memiliki bayi berusia beberapa bulan. Mengantongi uang lima puluh ribu rupiah dari hasil penjualan nampan bekas di galerinya, ego Rivaldo bergejolak saat melihat deretan produk baby care (sampo, sabun, minyak telon) jadul peninggalan era 90-an di sebuah toko tua. Ia menghabiskan seluruh uangnya untuk benda-benda tersebut, mengabaikan fakta bahwa anaknya di rumah justru kehabisan minyak telon dan sabun komersial masa kini. “Istri saya menangis malam itu, melihat anak kami digigit nyamuk sementara saya membawa pulang produk bayi yang sudah kedaluwarsa sejak tahun 2002. Dari sana saya belajar menurunkan ego. Apa yang digariskan menjadi milik kita, pasti akan datang. Hobi tidak boleh menelantarkan prioritas,” ujarnya.
Hikmahnya terbukti kini ratusan kilogram pasokan barang antik justru mengalir deras secara sukarela dari para pengikutnya (followers) di berbagai pulau secara gratis.
Galeri Kapsul Waktu Nusantara bukan sekadar ruang pameran visual. Rivaldo sengaja membuka tempat ini selama 24 jam secara gratis agar menjadi ruang inklusif bagi siapa saja, termasuk Generasi Z, untuk bertukar pikiran atau sekadar berdiskusi.
Rivaldo juga menceritakan kisah seorang wanita paruh baya yang berkunjung ke galerinya setahun lalu. Wanita tersebut tiba-tiba menangis sesenggukan sembari memeluk dan mencium sebuah botol sampo jadul yang membangkitkan memori masa kecil saat sang ibu yang kini telah tiada sedang mengkeramasi rambutnya di masa sekolah dasar.
“Sugesti dari aroma itu magis. Aroma, musik, dan tempat yang belum direnovasi adalah mesin waktu terbaik. Bagi saya, memori adalah antidepresan yang mampu membawa otak kita bekerja pada ritme yang tenang,” jelas Rivaldo.
Awalnya, Rivaldo sangat idealis dan cenderung menyembunyikan dunianya ini untuk dinikmati sendiri. Namun, sebuah teguran dari adik laki-lakinya mengubah segalanya:
“Bang, jangan egois. Di luar sana ada jutaan orang yang butuh merasakan ketenangan yang lu rasakan di ruangan ini,” ujar sang adik.
Saran untuk membuka akun media sosial seperti TikTok dan Instagram terbukti menjadi gerbang baru. Melalui pendekatan sinematografi yang matang dengan mempertahankan lighting kuning yang hangat, struktur rumah kayu, serta proses color grading video yang menyesuaikan estetika visual era lampau, konten-konten storytelling Rivaldo meledak di jagat digital. Kini akunnya telah merangkul jutaan pengikut.
Lebih dari sekadar dunia digital, ribuan printilan detail yang dirawat Rivaldo kini bernilai ekonomi tinggi sebagai aset industri kreatif. Koleksinya kerap dikontrak dan disewa oleh rumah produksi Jakarta untuk menjadi properti otentik set meja rias pada film-film layar lebar nasional yang berlatar tahun 70-an hingga 90-an.
Langkah Rivaldo tidak berhenti di sini. Di balik bilik galerinya yang mulai penuh sesak hingga sebagian barang harus disimpan di dalam karung, ia merajut mimpi besar. Ke depan, ia ingin mendirikan sebuah galeri vintage semi-modern yang didominasi material kayu di belakang rumahnya. Sebuah ruang lesehan yang mereplikasi warung kopi tubruk abad lalu secara utuh agar setiap pengunjung dapat menyesap kopi sembari menatap langsung potongan-potongan sejarah masa kecil mereka yang berharga.
Sebab, di Galeri Kapsul Waktu Nusantara, waktu tidak pernah benar-benar mati; ia hanya sedang merawat diri di balik lipatan kemasan usang yang menolak dilupakan.
*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas







