Oleh: Nabila Ramadhani*
Matahari baru saja meninggi di ufuk timur Pantai Gandoriah ketika deru mesin perahu kayu mulai membelah ombak, melaju perlahan menuju cakrawala. Bagi banyak pelancong, perjalanan ke Kota Pariaman terasa belum lengkap jika belum menjejakkan kaki di “primadona” yang satu ini, yakni Pulau Angso Duo. Hanya dengan waktu sekitar 15 hingga 20 menit menyeberang dari daratan, sebuah dunia yang tenang dengan gradasi air biru toska seolah siap menyambut siapa pun yang datang ke pulau seluas 5,13 hektar ini.
Begitu mendarat di dermaga kayunya yang ikonik, kaki Anda akan langsung disambut oleh hamparan pasir putih dengan tekstur sehalus tepung. Anggi, salah seorang pengunjung, mengungkapkan rasa kagumnya saat pertama kali melihat perpaduan warna alam di sana yang begitu kontras. “Kesan pertama saat melihat Pulau Angso Duo adalah rasa kagum melihat keindahan alamnya, air lautnya jernih dengan gradasi biru muda sampai tua, ditambah pasir putih yang bersih,” ujarnya. Di sisi lain, Anggi juga mengaku terkesan setelah menemukan keunikan lain di pesisir pulau ini, yakni adanya rona pasir berwarna merah jambu atau pink yang tampak begitu indah dan jarang ditemui.
Bagi para pemburu konten visual, Pulau Angso Duo menawarkan berbagai sudut instagramable yang sangat menarik untuk diabadikan dan dibagikan ke media sosial. Aulia menyebutkan bahwa kondisi alam di pulau ini masih terjaga dengan sangat baik, terutama di area tepian pantai. “Saat berenang di tepian kita bisa melihat karang-karang yang berisi banyak hewan laut seperti teripang, dan ini menandakan ekosistemnya masih asri,” tambah Aulia saat menceritakan pengalamannya mengeksplorasi bawah laut. Simfoni suara dedaunan kelapa yang bergesekan ditiup angin laut kian menambah suasana tenang bagi siapa saja yang ingin melepas penat.
Kenyamanan menjadi faktor utama yang membuat wisatawan betah menghabiskan waktu berjam-jam meskipun matahari mulai menyengat di tengah hari. Anggi merasa suasana di pulai ini tetap alami dan sejuk berkat banyaknya tempat berteduh dan fasilitas untuk bersantai di sepanjang garis pantai. “Hembusan angin sejuk masih bisa dirasakan dan pemandangannya bikin pikiran tenang; apalagi banyak ayunan yang bisa dipakai untuk bersantai,” jelas Anggi. Bagi mereka yang memburu adrenalin, jeritan keseruan juga kerap terdengar dari atas Banana Boat maupun Ayunan Langit yang menjulang tinggi, menghadap langsung ke samudera luas.
Namun, di balik keriuhan wisata baharinya, Angso Duo menyimpan sisi magis melalui keberadaan situs sejarah Makam Panjang yang sangat dihormati. Makam dengan panjang mencapai 4 hingga 6 meter ini diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Syekh Katik Sangko, ulama besar sekaligus kerabat dari Syekh Burhanuddin Ulakan. Keberadaan makam ini mengubah wajah Angso Duo tidak hanya sebagai tempat bersenang-senang, tetapi juga sebagai destinasi ziarah yang penuh dengan nilai spiritual dan kekhusyukan.
Sebagai destinasi populer, tantangan dalam menjaga fasilitas umum seperti toilet dan tempat ibadah tetap menjadi catatan penting dari para pengunjung. Aulia menyoroti bahwa meski beberapa titik sudah bersih, masih ditemukan sampah plastik serta kondisi mushola yang perlu perhatian ekstra agar tetap nyaman digunakan. “Mengenai kebersihan toilet cuma beberapa saja yang masuk kategori bersih, dan untuk mushola saya mendapati sajadah yang kurang terawat,” ungkapnya secara jujur. Masukan ini menjadi poin penting bagi pengelola agar kualitas pelayanan fisik sebanding dengan keindahan alam yang ditawarkan.
Meskipun terdapat catatan pada fasilitas, kehadiran petugas keamanan seperti BPD, PMI, hingga Satpol PP di lapangan memberikan rasa aman tersendiri, terutama saat musim libur lebaran. Anggi menilai kehadiran petugas tersebut sangat membantu pengunjung merasa lebih nyaman selama beraktivitas di dalam pulau yang lokasinya berjarak 65 km dari Kota Padang ini. Dengan harga tiket kapal yang terjangkau, yakni sekitar Rp40.000 hingga Rp50.000, Pulau Angso Duo tetap menjadi bukti nyata bahwa kemewahan alam dan ketenangan batin dapat dinikmati tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas







