Oleh: Nabila Ramadhani*
Tersembunyi rapat di balik rimbunnya perbukitan bagian timur Kota Padang, tepatnya di kawasan Koto Baru, Kelurahan Limau Manih Selatan, Kecamatan Pauh, terdapat sebuah permata alam yang masih terjaga keasliannya. Air terjun Sikayan Balumuik bukan sekadar destinasi wisata air biasa, Air terjun setinggi kurang lebih 90 meter menjadi daya tarik utama yang menghadirkan panorama eksotis. Lokasinya yang jauh dari hiruk-pikuk pemukiman dan kebisingan knalpot kendaraan memastikan ekosistem di sekitarnya tetap natural, hijau, dan udara terasa sangat murni di paru-paru. Keindahan lanskap yang sangat memikat ini menjadi upah setimpal bagi para petualang yang haus akan pemandangan alam murni di tengah hiruk pikuk kota.
Perjalanan menuju titik air terjun bukanlah sebuah rekreasi santai yang bisa ditempuh dengan sendal jepit, melainkan sebuah petualangan fisik yang memacu adrenalin. Pengunjung harus melakukan trekking selama kurang lebih satu jam menyusuri jalan setapak yang menantang, melewati anak sungai, hingga memanjat jalur-jalur curam dengan topografi kawasan yang berbukit terjal, menuntut konsentrasi penuh dan stamina yang stabil di setiap langkahnya. Namun, di sela-sela peluh yang menetes, lelah perjalanan akan teralihkan oleh suguhan pemandangan Kota Padang dari ketinggian yang terlihat begitu memukau di balik rimbunnya pepohonan hutan tropis.
“Jalur setapaknya yang lumayan menantang menjadi daya tarik tersendiri bagi pegiat alam yang suka mendaki,” ungkap perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sarasah Ampek Sarumpun saat menjelaskan keunikan jalur tersebut.
Aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam pengelolaan objek wisata ini, mengingat medannya yang cukup ekstrem. Pihak Pokdarwis telah mewajibkan setiap pengunjung untuk menggunakan jasa pemandu (guide) berpengalaman yang memahami seluk-beluk hutan dan tebing menuju lokasi. Dengan tarif Rp30 ribu, satu rombongan biasanya didampingi oleh dua orang pemandu untuk memastikan rombongan tetap dalam jalur yang benar. “Tempatnya begitu indah dan bikin wisatawan begitu senang,” ujar Farel Aulia Putra, salah seorang pemandu yang rutin mengantar para pelancong menembus rimbunnya hutan Pauh.
Sistem pengelolaan Sikayan Balumuik kini telah bertransformasi menjadi lebih terorganisir sejak di bawah naungan resmi Pokdarwis Sarasah Ampek Sarumpun. Pengesahan ini dilakukan pada tahun 2024 melalui Surat Keputusan dari Kelurahan Limau Manis Selatan, yang dikukuhkan langsung oleh Lurah setempat di Masjid Nurul Islam. Momentum legalitas ini menjadi titik balik bagi warga lokal untuk lebih peduli terhadap potensi wisata sekaligus menjaga kelestarian lingkungan secara kolektif. Sejak saat itu, berbagai perbaikan akses jalan dan penataan manajemen kunjungan mulai dilakukan secara intensif demi menjamin kenyamanan dan keamanan wisatawan yang datang dari berbagai daerah. Transformasi ini membuktikan bahwa sinergi antara masyarakat dan pemerintah setempat mampu menghidupkan potensi wisata yang berkelanjutan tanpa merusak ekosistem aslinya.
Dalam hal operasional, pengelola menerapkan sistem pemesanan yang cukup ketat melalui platform digital untuk menjaga kualitas pelayanan dan keteraturan jadwal. Pengunjung tidak bisa datang secara tiba-tiba, mereka diwajibkan melakukan booking jasa pemandu minimal satu atau dua hari sebelum keberangkatan, biasanya dilakukan melalui pesan singkat di media sosial resmi mereka. Kebijakan ini diambil agar pihak Pokdarwis dapat menyiapkan personel pemandu dengan maksimal dan memastikan jumlah kunjungan tetap terkendali guna menghindari kerumunan liar yang berpotensi merusak alam. “Untuk operasional sehari-hari itu, tergantung pengunjung yang sudah memberikan informasi melalui DM di Instagram kami minimal H-2 berkunjung. Jika tidak ada yang berkunjung maka operasional tidak dijalankan,” jelas pihak pengelola mengenai prosedur profesional yang mereka terapkan.
Kesibukan di jalur Sikayan Balumuik bisa meningkat drastis terutama pada akhir pekan atau hari libur nasional. Dalam satu hari yang padat, seorang pemandu bahkan bisa memimpin perjalanan hingga berkali-kali guna memenuhi antusiasme para pecinta alam. Farel menyebutkan bahwa frekuensi kerja mereka cukup dinamis mengikuti arus kedatangan orang-orang. “Dalam sehari bisa sampai empat kali trip atau tiga kali trip,” tambahnya, menggambarkan semangat para pemandu dalam mengenalkan keindahan alam daerah mereka.
Perpaduan antara tantangan fisik, panorama yang memikat, serta manajemen lokal yang terorganisir menjadikan Sikayan Balumuik sebagai destinasi yang layak dikunjungi bagi mereka yang ingin merasakan sisi liar dan murni dari Kota Padang.
*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas







