• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 23 Juli 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aneka Ragam

Menilik Alasan di Balik Bertahannya Fenomena Mistik dan Gaib

oleh Redaksi
18 September 2022, 14:03 WIB
ShareShareShareShare
(Ilustrator/Joy Prima)

Kepercayaan akan hal mistik dan gaib telah lama menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Kepercayaan mistik adalah kepercayaan batiniah yang bersumber dari ajaran agama. Menurut asal katanya, kata mistik berasal dari bahasa Yunani yaitu mystikos yang artinya rahasia, serba rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman.

Zaman sekarang, kepercayaan mistik dan gaib masih berkembang dan bertahan di masyarakat. Padahal kepercayaan mistik dan gaib adalah sesuatu yang berada di luar logika manusia. Lalu, bagaimana antropologi memandang segala hal yang berkaitan dengan mistik dan kepercayaan gaib? Bagaimana hal mistis masih bertahan di tengah masyarakat yang sudah modern ini? (Nabila Annisa)

Narasumber: Dra. Yunarti, M. Hum*)

Jawaban:

Bagaimana antropologi memandang hal yang berkaitan dengan mistik dan kepercayaan gaib?

Secara ringkas, antropologi adalah sebuah bidang ilmu yang tertarik pada kajian tentang manusia dan kemanusiaannya dalam semua rentang waktu dari masa prasejarah hingga masyarakat kontemporer hari ini di seluruh tempat di dunia. Curiosity antropologi adalah untuk mengerti ‘rasionalitas’ yang terdapat dibalik tindakan-tindakan terpola manusia, termasuk sikap dan tindakan manusia yang terkait dengan fenomena mistik dan kepercayaan gaib.

Dalam studi antropologi, keyakinan mistik atau gaib adalah sebuah sistem pemikiran yang melihat peristiwa-peristiwa yang tidak berhubungan secara kausal, namun dipercaya terkait satu sama lain. Misalnya gagasan bahwa seorang ibu hamil akan mengalami hambatan dalam persalinan jika saat hamil ia duduk di dekat pintu dan menghalangi orang yang keluar masuk. Contoh lain, bahwa seseorang dapat mengirimkan pengaruh yang diinginkannya pada orang lain tanpa menyentuhnya melalui satu objek yang mewakili orang tersebut seperti pakaian, foto, potongan kuku atau juga helai rambutnya. Masih banyak contoh-contoh lainnya berdasarkan cerita mistik yang popular di tengah masyarakat.

Sulit menemukan hubungan kausalitas atau korelasi antara peristiwa ibu yang sulit bersalin dengan peristiwa Si Ibu duduk di depan pintu saat hamil. Sama sulitnya menemukan hubungan peristiwa sakitnya seseorang sebagai akibat dikirimkannya kekuatan buruk oleh orang lain melalui objek yang dimiliki Si Sakit tanpa sama sekali bersentuhan. Antropologi tertarik menjelaskan fenomena tersebut, pertama dengan memahami bahwa pikiran magis/mistis adalah salah satu jenis pemikiran yang tidak bersumber dari kesimpulan kausalitas, atau tidak dapat dijelaskan dengan menggunakan korelasi sebab akibat karena pemikiran magis tidak memerlukan logika yang bersumber pada kejelasan korelasi di antara peristiwa-peristiwa terkait.

Baca Juga  Menilik Fenomena Generasi Sandwich di Kalangan Milenial

Bagaimana hal mistik masih bertahan di tengah masyarakat yang sudah modern ini?

Definisi dan terminologi antropologi mengenai pemikiran magis cukup bervariasi di antara para ahli antropologi sendiri. Ada tahapan studi yang berkembang mengenai topik ini. Studi-studi awal antropologi tentang pemikiran mistis banyak dilakukan dengan mengamati berbagai religi dan sistem kepercayaan, ritual pengorbanan, ritual pengobatan, ketaatan pada pantang larang atau tabu, meditasi, kesurupan, mantra, dan fenomena sihir atau kutukan. Dalam perkembangan studi lebih belakangan ditemukan bahwa pemikiran mistis juga cukup umum ditemukan pada masyarakat modern. Penggunaan jimat keberuntungan atau praktik ritual tertentu adalah contoh yang bisa ditemukan praktiknya pada masyarakat kontemporer, di mana diasumsikan dapat meningkatkan peluang seseorang dapat mencapai tujuan atau hasil yang diinginkannya tanpa usaha dan upaya yang realistis.

Dalam perspektif antropologi, pemikiran mistis yang tidak dapat dipahami hubungannya ini dijelaskan dengan mengidentifikasi melalui dua prinsip. Pertama, adanya prinsip fenomena kedekatan dari kejadian peristiwa yang sejatinya tidak terkait langsung. Misalnya seseorang pergi ke sungai pada saat matahari tepat di atas kepala, lalu di sungai ia bertemu buaya. Kedua peristiwa yang terjadi secara berdekatan ini akan dilihat terkait dan dianggap akan terjadi kembali dimasa yang akan datang. Kesimpulan mistis ditarik barangkali berupa: jangan ke sungai pada saat matahari tepat di atas kepala karena itu saatnya anda akan bertemu buaya. Kedua, adanya  prinsip pemikiran asosiatif yang mana entitas atau peristiwa yang berbeda dikaitkan secara asosiatif. Sistem pengobatan tradisional yang menggunakan media hewan seperti ayam untuk mengobati manusia adalah contoh untuk prinsip yang kedua. Penyembuh tradisional akan menyembelih ayam, melihat isi perut ayam dan kemudian memastikan jenis dan bagian yang sakit dari pasien sesuai dengan apa yang dilihatnya pada ayam. Gagasan dari prinsip asosiatif ini merupakan contoh yang nyata penerapan heuristic representasi manusia secara umum.

Baca Juga  Pentingnya Menjaga Kesehatan Tubuh saat Musim Pancaroba

Antropologi juga memperhatikan bagaimana keberlangsungan pemikiran mistis, dimungkinkan melalui proses enkulturasi dan internalisasi sepanjang hidup manusia di mana segala hal dibakukan menjadi representasi kolektif yang di lembagakan terus menerus dan berulang dari generasi ke generasi. Hasrat manusia untuk terus memastikan eksistensinya dengan mengontrol segala sesuatu dalam hidupnya, mendorong manusia untuk menggunakan segala potensinya. Sebagian dicapai melalui pengalaman berulang dan teruji, sebagian lainnya dicapai melalui penyidikan, eksperimen berulang dan terukur dan masih ada bagian yang dicapai manusia melalui pemikiran mistis dan filosofis. Hal Ini menjelaskan kepada kita bagaimana cara berpikir mistis masih ditemukan dalam kehidupan masyarakat kontemporer.

Claude Lévi-Strauss menyimpulkan bahwa prosedur berpikir mistis dan magis terkadang dianggap efektif dalam melakukan kontrol atas lingkungan. Contoh terdekat dengan penjelasan Strauss adalah bagaimana cerita dan kepercayaan rakyat tentang hewan tertentu atau tentang hutan, gunung, laut, lembah, sungai dan danau yang dipercaya dihuni oleh makhluk-makhluk dengan entitas tak terlihat dan bisa sangat determinatif terhadap manusia. Keyakinan akan entitas ini telah memperlambat ekspansi manusia pada lingkungan meski mungkin tidak berhenti sama sekali.  Pandangan ini telah menghasilkan teori-teori alternatif tentang pemikiran mistis melalui pendekatan simbolis dan psikologis, dan memperlunak kontras antara pemikiran rasional-objektif dengan pemikiran mistis-subjektif jika mengacu pada fungsinya dalam memenuhi kebutuhan manusia. Seturut pemikiran Strauss, praktik penyembuhan kedokteran yang berteknologi tinggi menjadi sama memuaskan  dengan praktik penyembuhan tradisional bedah ayam saat itu memenuhi kebutuhan manusia.

*) Narasumber merupakan Dosen Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas

Tag: antropologi
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

Poster film Obsession/TMDB

Obsession: Ketika Kamu “Dipelet” Cowok Insecure

21 Juli 2026, 21:26 WIB
(Poster Film 402 Rumah Sakit Angker Korea/Facebook MD Pictures)

Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

15 Juli 2026, 18:23 WIB
Poster film Toy Story 5/Disney Indonesia

Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

3 Juli 2026, 13:09 WIB
(Poster Film Cerita Lila/Facebook Moviezy)

Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

30 Juni 2026, 18:08 WIB
(Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

14 Juni 2026, 21:17 WIB
Poster film Pesta Babi

Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita

25 Mei 2026, 21:22 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mahasiswa Sastra Inggris UNAND Gelar English Drama Performance 2026

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Rekonstruksi GOR Haji Agus Salim dan Nasib PKL yang Terlupakan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak