• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Kamis, 23 Juli 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Solidaritas Perempuan, Jangan Hanya di Media Sosial

oleh Redaksi
5 September 2025, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Alizah Fitri Sudira)

(Ilustrasi/Alizah Fitri Sudira)

ShareShareShareShare

Oleh: Alizah Fitri Sudira*

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah woman support woman kian sering muncul di media sosial. Frasa ini dimaknai sebagai dukungan perempuan terhadap sesamanya, khususnya dalam memperjuangkan kesetaraan gender maupun saat menjadi korban kekerasan. Konsep tersebut terdengar ideal: perempuan saling menguatkan agar merasa aman dan nyaman di lingkungannya. Namun, pertanyaannya, apakah nilai woman support woman benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari, atau hanya berhenti sebagai jargon?

Faktanya, dalam banyak kasus, perempuan justru lebih sering menghakimi dari pada mendukung sesamanya. Solidaritas biasanya muncul hanya dalam lingkaran pertemanan, sementara dalam kasus pelecehan seksual, justru kerap terdengar komentar seksis dari sesama perempuan. Ucapan bernada menyalahkan korban seperti “kenapa kamu mau?”, “makanya perempuan harus jaga diri,” atau pernyataan merendahkan lainnya, hanya memperkuat stigma negatif yang sudah lama menjerat perempuan.

Tidak hanya dalam kasus kekerasan seksual, fenomena serupa juga terlihat ketika pasangan suami istri belum dikaruniai anak. Tekanan sosial hampir selalu diarahkan kepada istri, seakan-akan masalah kesuburan adalah tanggung jawab sepenuhnya. Padahal, secara medis, penyebabnya bisa berasal dari pihak laki-laki maupun keduanya. Sayangnya, perempuan sering ikut menyalahkan perempuan lain, alih-alih memberikan dukungan.

Baca Juga  Melintasi Jejak Alam Menuju Pesona Tiga Tingkat Lubuk Hitam

Fenomena ini menunjukkan adanya internalized misogyny. Dilansir dari kumparan.com, internalized misogyny adalah ketika perempuan mengadopsi pandangan seksis dan mereproduksinya terhadap diri sendiri maupun perempuan lain. Dengan kata lain, perempuan bukan hanya korban patriarki, tetapi juga tanpa sadar ikut menjadi pelaku yang melanggengkannya. Akibatnya, lingkungan sosial menjadi tidak sehat, bahkan beracun bagi perempuan yang berusaha melawan diskriminasi.

Agar woman support woman tidak berhenti menjadi jargon, diperlukan upaya nyata untuk membangun solidaritas antar perempuan. Pertama, menghentikan praktik saling merendahkan dan menggantinya dengan sikap saling menguatkan. Kedua, pendidikan gender sejak dini agar perempuan mampu mengenali dan melawan nilai-nilai patriarki yang telah terinternalisasi. Ketiga, memperluas ruang aman di lingkungan sosial, komunitas, maupun dunia kerja, sehingga perempuan merasa didukung ketika menghadapi diskriminasi atau kekerasan.

Baca Juga  Kebebasan Beropini di Media Sosial Twitter

Tanda-tanda positif sebenarnya sudah terlihat. Komunitas advokasi korban kekerasan seksual, kampanye edukasi di media sosial, hingga forum diskusi perempuan mulai tumbuh dan memberi ruang bagi praktik solidaritas. Dari langkah sederhana seperti saling percaya, memberikan dukungan emosional, hingga terlibat dalam gerakan memperjuangkan hak-hak perempuan, semua itu membuktikan bahwa solidaritas bukanlah hal mustahil.

Woman support woman tidak boleh berhenti sebagai slogan indah di media sosial. Ia harus menjadi budaya yang hidup, sebuah kebiasaan kolektif yang menumbuhkan keberanian perempuan untuk saling menopang. Dengan persatuan semacam ini, belenggu patriarki bisa dilemahkan, dan jalan menuju kesetaraan semakin terbuka lebar.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Tag: MahasiswaperempuanUnand
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Kesih Rianti)

Ketika Penegak Hukum Diduga Tersangka

20 Juli 2026, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nur Fadilah)

Skripsi Tidak Pernah Lebih Berharga dari Nyawamu Sendiri

15 Juli 2026, 21:18 WIB
(Ilustrasi/Ulya Nurfadillah)

Di Balik Antrean Virtual, Adakah Kesempatan yang Benar-benar Sama?

11 Juli 2026, 21:21 WIB
Poster film Toy Story 5/Disney Indonesia

Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

3 Juli 2026, 13:09 WIB
Pertunjukan drama berjudul "TPS" menghadirkan adegan di area pelepasan suara, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Syifa Alifah)

Mahasiswa Sastra Indonesia UNAND Unjuk Kepiawaian Berakting

2 Juli 2026, 16:32 WIB
Pementasan drama Nurani oleh mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia angkatan 2024 dalam Festival dan Seminar Teater Indonesia di FIB UNAND, Rabu (1/7/2026) (Genta Andalas/Zulaizah)

Sastra Indonesia UNAND Gelar Festival dan Seminar Teater Indonesia

2 Juli 2026, 16:20 WIB

Populer

  • (Poster Film Sekawan Limo 2 Gunung Klawih/Jambian-Pikiran Rakyat)

    Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, Ketika Jalan Pintas Menjadi Kutukan Generasi Berikutnya

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Alas Roban, Teror Mitos Lokal dan Perjuangan Seorang Ibu

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Tabek Mandi Sikabu: Surga Pemandian Keluarga di Tengah Alam Sumatera Barat

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Menelusuri Luka Masa Lalu Lewat Cerita Lila

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Kondisi Aceh Masih Memprihatinkan, Fasilitas Belum Pulih dan Anak Belajar di Tenda

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mahasiswa Sastra Inggris UNAND Gelar English Drama Performance 2026

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Saat Teror Tak Lagi Sekadar Konten

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Mengenal Uang Japuik, Adat Pariaman yang Masih Sering Disalahartikan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Toy Story 5, Ketika Teknologi Menantang Imajinasi Anak

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
  • Rekonstruksi GOR Haji Agus Salim dan Nasib PKL yang Terlupakan

    0 bagikan
    Bagikan 0 Tweet 0
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak