• Indeks
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Minggu, 20 September 2026
Genta Andalas
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
  • Berita
    • Liputan
    • Berita Foto
    • Sorotan Kampus
    • Feature
    • Laporan
      • Laporan Utama
      • Laporan Khusus
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Komik
    • Resensi
    • Galeri
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Digital
    • Publikasi
    • Tabloid
    • Genta Antara
    • Buletin
Genta Andalas
  • Berita
  • Aspirasi
  • Wawasan
  • Riset & Survei
  • Aneka Ragam
  • Sosok
  • Sastra & Budaya
  • Gentainment
  • Digital
Home Aspirasi

Solidaritas Perempuan, Jangan Hanya di Media Sosial

oleh Redaksi
5 September 2025, 22:58 WIB
(Ilustrasi/Alizah Fitri Sudira)

(Ilustrasi/Alizah Fitri Sudira)

ShareShareShareShare

Oleh: Alizah Fitri Sudira*

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah woman support woman kian sering muncul di media sosial. Frasa ini dimaknai sebagai dukungan perempuan terhadap sesamanya, khususnya dalam memperjuangkan kesetaraan gender maupun saat menjadi korban kekerasan. Konsep tersebut terdengar ideal: perempuan saling menguatkan agar merasa aman dan nyaman di lingkungannya. Namun, pertanyaannya, apakah nilai woman support woman benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari, atau hanya berhenti sebagai jargon?

Faktanya, dalam banyak kasus, perempuan justru lebih sering menghakimi dari pada mendukung sesamanya. Solidaritas biasanya muncul hanya dalam lingkaran pertemanan, sementara dalam kasus pelecehan seksual, justru kerap terdengar komentar seksis dari sesama perempuan. Ucapan bernada menyalahkan korban seperti “kenapa kamu mau?”, “makanya perempuan harus jaga diri,” atau pernyataan merendahkan lainnya, hanya memperkuat stigma negatif yang sudah lama menjerat perempuan.

Tidak hanya dalam kasus kekerasan seksual, fenomena serupa juga terlihat ketika pasangan suami istri belum dikaruniai anak. Tekanan sosial hampir selalu diarahkan kepada istri, seakan-akan masalah kesuburan adalah tanggung jawab sepenuhnya. Padahal, secara medis, penyebabnya bisa berasal dari pihak laki-laki maupun keduanya. Sayangnya, perempuan sering ikut menyalahkan perempuan lain, alih-alih memberikan dukungan.

Baca Juga  Kelas Menengah yang Terhimpit di Tengah Rupiah yang Loyo

Fenomena ini menunjukkan adanya internalized misogyny. Dilansir dari kumparan.com, internalized misogyny adalah ketika perempuan mengadopsi pandangan seksis dan mereproduksinya terhadap diri sendiri maupun perempuan lain. Dengan kata lain, perempuan bukan hanya korban patriarki, tetapi juga tanpa sadar ikut menjadi pelaku yang melanggengkannya. Akibatnya, lingkungan sosial menjadi tidak sehat, bahkan beracun bagi perempuan yang berusaha melawan diskriminasi.

Agar woman support woman tidak berhenti menjadi jargon, diperlukan upaya nyata untuk membangun solidaritas antar perempuan. Pertama, menghentikan praktik saling merendahkan dan menggantinya dengan sikap saling menguatkan. Kedua, pendidikan gender sejak dini agar perempuan mampu mengenali dan melawan nilai-nilai patriarki yang telah terinternalisasi. Ketiga, memperluas ruang aman di lingkungan sosial, komunitas, maupun dunia kerja, sehingga perempuan merasa didukung ketika menghadapi diskriminasi atau kekerasan.

Baca Juga  Massa Desak DPRD Sumbar Tindak Kasus Penyiksaan oleh Aparat

Tanda-tanda positif sebenarnya sudah terlihat. Komunitas advokasi korban kekerasan seksual, kampanye edukasi di media sosial, hingga forum diskusi perempuan mulai tumbuh dan memberi ruang bagi praktik solidaritas. Dari langkah sederhana seperti saling percaya, memberikan dukungan emosional, hingga terlibat dalam gerakan memperjuangkan hak-hak perempuan, semua itu membuktikan bahwa solidaritas bukanlah hal mustahil.

Woman support woman tidak boleh berhenti sebagai slogan indah di media sosial. Ia harus menjadi budaya yang hidup, sebuah kebiasaan kolektif yang menumbuhkan keberanian perempuan untuk saling menopang. Dengan persatuan semacam ini, belenggu patriarki bisa dilemahkan, dan jalan menuju kesetaraan semakin terbuka lebar.

*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Tag: MahasiswaperempuanUnand
BagikanTweetBagikanKirim

Baca Juga

(Ilustrasi/Ibnu Muhammad Bintang)

Ketika Bahasa Minang Mulai Canggung di Lidah Gen Z

19 September 2026, 23:58 WIB
Oplus_131072

Di Balik Mimbar dan Meja Guru

17 September 2026, 14:20 WIB
(Ilustrasi/Amanda)

Privilege bagi Masyarakat Dayak: Keadilan atau Perlakuan Khusus?

16 September 2026, 21:00 WIB
(Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

Menagih Paru-Paru Anak di Tengah Dapur yang Harus Tetap Ngebul

15 September 2026, 21:28 WIB
(Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

Berani Cerdas: Saat Sulteng Memilih Pendidikan daripada Popularitas

15 September 2026, 21:02 WIB
(Ilustrasi/Hadid Jailani Latif Utama)

Ketika Bantuan Asing Lebih Dulu Mengetuk Pintu NTT

15 September 2026, 19:17 WIB

TERPOPULER

  • (Ilustrasi/Berkah Ibadarurrahman Siregar)

    Berani Cerdas: Saat Sulteng Memilih Pendidikan daripada Popularitas

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Tradisi Kadaghek: Kerukunan Dalam Budaya Mengantar Jenazah Suku Minang di Tanjung Barulak

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Nasionalisme Mahasiswa yang Mulai Terkikis

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Tak Sekadar Dibuang, Eco Expo 2026 Bahas Nasib Sampah

    Bagikan
    Bagikan Tweet
  • Spider-Man: Brand New Day, Babak Baru Peter Parker

    Bagikan
    Bagikan Tweet
Genta Andalas

© 2026 Gentaandalas.com

Laman

  • Indeks
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Kontak
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

  • Home
  • Berita
    • Berita Foto
    • Liputan
    • Sorotan Kampus
    • Feature
  • Laporan
    • Laporan Khusus
    • Laporan Utama
  • Aspirasi
  • Wawasan
    • Teknologi
  • Riset dan Survei
  • Aneka Ragam
    • Konsultasi
    • Resensi
    • Komik
    • Galeri
  • Sastra dan Budaya
    • Sastra dan Seni
    • Rehat
    • Khasanah Budaya
  • e-Tabloid
    • Digital
  • Sosok
  • Gentainment
    • Seputar Genta
    • Karya Calon Anggota
  • Tentang Kami
  • Pembina
  • Redaksi
  • Agenda
    • Pekan Jurnalistik
    • Sumarak Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan
    • Pedoman Pemberitaan Media Siber
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak